...Sudah hampir setengah jam Keeva bermain ombak dan berlarian kecil di tepi pantai. Kadang mengejar ombak, kadang menendangnya dan berlarian menghindarinya.Dan selama itu pula Aldrich hanya bisa mengikuti dari belakang seperti pengawal pribadi.“Keeva,” panggilnya.“Hm.”“Kamu nggak capek?” Aldrich mengalah, menghampiri Keeva yang sedang berbaring di atas pasir.“Nggak. Emangnya kamu, lari doang nggak kuat.” jawabnya ketus.Aldrich memejamkan matanya, meraup udara sekitar dengan rakus. Dia bukan nggak kuat lari, tapi dia hanya tidak tahu cara menemani istrinya bermain.“Ok, aku temenin sekarang. Aku harus ngapain?” tanya Aldrich akhirnya. Dia tidak ingin merusak mood istrinya.Keeva menyipitkan mata, menatap Aldrich dengan tatapan menantang yang tiba-tiba muncul. “Aku laper,” kata Keeva.“Oke, kita cari makan.” “Gimana, kalau kamu gendong aku sambil cari makan?” usul keeva, jahil.“Oke! Silakan tuan puteri.” Aldrich segera memposisikan punggung untuk menggendong Tuan Puterinya.
Terakhir Diperbarui : 2026-06-14 Baca selengkapnya