...Keeva refleks menegakkan badan mendengar teriakan pengganggu di bawah rumah pohon mereka.“Biarin aja, berisik dia,” cegah Aldrich. Mencoba menahan Keeva agar tetap berada dalam dekapannya.Namun, Keeva tetap bangkit membuka pintu. Sepasang matanya segera menangkap sosok gadis yang sudah bersiap menaiki tangga dengan hebohnya di bawah sana.“Stop! Aku aja yang turun,” seru Keeva dari atas.“Pelit banget, ihh! Gue pengin masuk ke rumah pohon,” protes Hazel. Mengerucutkan bibirnya sebal.Tidak menunggu lama, Keeva sudah sampai di anak tangga terakhir. “Abangmu capek, nggak mau diganggu. Ada apa kamu kesini, tumben?”Hazel mengayun langkahnya mendekat untuk memeluk manja kakak iparnya. “Bantuin gue nugas, Kak.”“Hmm,” gumam Keeva geleng-geleng kepala.“Punya kakak ipar si genius dibidang IT itu sebuah privilege paling wow! Buat gue, jadi please!” Hazel menangkupkan kedua tangannya di dada untuk memohon. “ Gue traktir shoping abis ini, deh!”“Iyaa, iyaa. Yok, ke ruang tengah aja.
Terakhir Diperbarui : 2026-05-26 Baca selengkapnya