Noah menatap mata jutek Icha. Dadanya bergemuruh panas. Rasa dongkol karena diabaikan selama setengah jam tadi berbaur dengan rasa bersalah yang teramat pekat. Namun, rasa lapar yang mulai mendera memaksa sang CEO untuk menurunkan sisa-sisa harga dirinya. Ia membuka mulutnya, menerima suapan bubur hambar yang terasa membeku di tenggorokannya."Kunyah yang cepat, Tuan. Jangan membuang waktu saya," cetus Icha lagi, sengaja menyendokkan suapan kedua sebelum Noah selesai menelan.Noah terbatuk kecil, membuat selang oksigen di hidungnya sedikit bergeser. Dengan sekuat tenaga, ia memobilisasi sisa energi di pita suaranya yang sejak subuh tadi terasa terkunci mati. Ia tidak mau terus-menerus dianggap sebagai patung tak berdaya yang bisa disindir sesuka hati."Kamu ... sen-gaja ... mem-buat-ku ... tersedak, Cha?"Suara bariton Noah akhirnya keluar, meskipun terdengar sangat kecil, serak, dan terbata-bata. Setiap suku kata diucapkan dengan jeda napas yang berat, menuntut usaha fisik yang luar
Read more