“Bukan maaf, Kak… kita harus mencari jalan keluar,” kata Aurelia lirih. Dua saudara kembar itu kini sudah menyatukan kedua kening mereka sambil terus menangis. Bohong kalau Dominique tidak merasa iba. Walau bagaimanapun, dia pernah menganggap mereka berdua putra-putrinya yang sah. “Kau lihat itu, Elisabeth?” tanya Dominique pelan. “Ini adalah hasil dari kejahatan yang selama ini kau lakukan. Bukan hanya kau yang menderita, tapi putra-putri yang selama ini kau lindungi juga ikut merasakan kepedihannya.” “Baginda—!” Seorang tabib datang memecah keheningan. Dominique langsung menoleh dengan wajah tegang. “Apa yang terjadi dengan Aisar?” Tabib itu menunduk hormat. “Tuan Muda Aisar sudah sadarkan diri, Baginda,” ujarnya. Seperti udara dingin di musim panas. Tubuh Dominique yang semula tegang, kini mulai terasa lebih ringan. Raut wajah yang semula tegas, perlahan mulai melembut. “Syukurlah dia selamat,” gumamnya nyaris tanpa suara. Namun beberapa detik kemudian, wajah itu kemba
Ler mais