Sentuhan pertama itu lembut, sebuah ketukan pelan di bibir seolah meminta izin. Tapi begitu tautan itu mengunci, segalanya berubah menjadi intens dan mendesak.Tangan Adrian bergerak cepat ke tengkuk Meysa, jemarinya tenggelam di antara helai rambutnya, menahan kepala Meysa agar tidak menjauh satu milimeter pun. Meysa membalasnya dengan cara yang sama, jemarinya meremas kemeja Adrian, menarik pria itu semakin rapat hingga tak ada lagi udara yang tersisa di antara dada mereka.Ciuman itu dalam, penuh tuntutan, dan sarat akan emosi yang selama ini mereka pendam. Setiap pagutan terasa seperti pembuktian bahwa mereka akhirnya benar-benar ada di sini, bersama. Napas mereka memburu, berkejaran dengan detak jantung yang berdentum bertalu-talu di balik rusuk. Adrian memiringkan kepalanya, memperdalam pautan, mengecap rasa manis yang selalu membuatnya hilang kendali, sementara Meysa melepaskan desahan pelan yang langsung tertelan di bibir Adrian.Waktu seolah melambat, tapi sensasi di sekitar
Terakhir Diperbarui : 2026-05-27 Baca selengkapnya