Alan berkacak pinggang, menatap sinis ke arah Cade yang menggerutu kesal. Pria yang diajaknya bicara tidak menjawab, hanya memalingkan muka sambil mengusap-usap lehernya. Walau terkesan menghindar, Alan menganggap Cade sudah mengerti peringatannya.Pandangannya beralih pada Leon yang sedari tadi juga meringkuk di depan api unggun. Air muka Leon memang tampak sedih, tapi masih ada binar di matanya yang menandakan dia punya harapan .“Kamu sudah memakai vaksinnya?” tanya Alan.“Belum—ah, tapi aku mau suntik sendiri, oke? Tak butuh bantuanmu,” jawab Leon, panik melihat Alan berjalan cepat ke arahnya, “karena Cade tidak langsung memakainya seperti Shin, tadi aku jadi ragu. Tapi, selalu kusimpan di saku celana, kok.”Alis Alan bertaut, seolah tak percaya dengan kata-kata Leon. “Kalau begitu, pakailah—AAAAA!!”“Apa? Ada apa?” Leon terkejut bukan main mendapati Alan mendadak melompat ke balik punggungnya.Dengan penuh gemetar, jari Alan menunjuk sesuatu di rerumputan. “I-itu ... ada ke
Baca selengkapnya