“Apa? Kamu mau ikut?” tanya Cade di jok belakang, menatap heran ke arah Alan. Alan mengangguk, menunjukkan tas jinjing besarnya. “Ya, masih muat satu orang di belakang, kan?” “Oh, kamu mau numpang ke wilayah berikutnya? Tapi, kalau kamu pindah, bagaimana dengan warga Avery?” Cade bertanya lagi, masih tidak dapat menebak motif asli Alan ingin ikut serta. Cade cukup berhati-hati dalam menerima orang baru, sama halnya ketika Shin ingin bergabung dulu. Sampai sekarang pun, Cade masih belum mengerti alasan Shin masih bersama mereka dan tidak kunjung pergi. Sekarang malah bertambah satu orang lagi yang akan menjadi beban pikirannya. “Oh, warga Avery akan baik-baik saja. Aku sudah menyiapkan seluruh obat-obatan yang diperlukan setiap orang, kusimpan dalam plastik masing-masing. Mereka tinggal memakainya sesuai dosis,” tutur Alan, “sudah tidak ada yang sakit berat lagi. Dengan meninggalkan obat, mereka akan berangsur sembuh nantinya.” Semuanya terdiam mendengar jawaban Alan yang terk
Baca selengkapnya