"Lea, apa kamu sadar? Kamu sungguh bicara begitu tanpa ada tekanan dari Zayn?" "Ish!" Azalea mencebik. "Tentu saja tidak, aku sungguh tulus dengan kebahagiaan ini. Murni, karena jadi babunya Zayn--" Lagi-lagi Azalea tersenyum lebar, dan itu sangat membuat Ezra heran. Ia bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ada apa dengan Azalea hari ini? Begitu bersemangat karena jadi babunya Zayn, sungguh tidak biasa! Beberapa saat mereka hanya berdiri, Ezra mungkin bingung ingin bicara apalagi. Maka dari itu, Azalea tidak mau menambah kebingungannya. Ia pun maju selangkah. "Zayn baru saja mengangkatku jadi dewan siswa," bisik Azalea. Ia tidak tega membuat ekspresi pemuda itu makin tolol. Mata Ezra melebar, kabar dari Azalea sukses membuatnya kaget tak menyangka. "Serius?"Azalea mengangguk-anggukkan kepalanya. 'Pantas saja!' batin Ezra kemudian. Ia terkekeh saat Zayn menyusul dan berjalan masuk ke ruang ekslusif. "Hanya padamu Zayn bermurah hati, Lea. Jangan siakan kesempatan, hari i
Magbasa pa