"Pembohong..." desis Emily pelan. Suaranya bergetar oleh campuran antara amarah, rasa malu yang belum usai, dan sisa-sisa keputusasaan.Ia berusaha meronta, mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman tangan Nicholas yang mengunci bahunya ke atas kasur. Namun, pria itu sama sekali tidak bergeming. Nicholas mengunci pergerakannya dengan kuat, tidak membiarkannya melepaskan diri walau hanya sedikit."Sampai detik ini, aku benar-benar masih tidak mengerti, Emily," ucap Nicholas dengan nada bariton yang sangat rendah dan menuntut. "Apa sebenarnya yang membuatmu begitu yakin bahwa aku berselingkuh dengannya? Dari mana kau mengambil kesimpulan tidak masuk akal itu?""Aku tidak buta, Nicholas!" balas Emily membentak tertahan, dadanya naik-turun dengan cepat bergesekan dengan dada bidang suaminya. "Aku tidak bodoh! Aku bisa melihat semua buktinya dengan mata kepalaku sendiri!"Satu alis Nicholas terangkat ke atas, menantang pernyataan itu dengan kepala dingin. "Bukti apa y
Baca selengkapnya