Emily menatap wajah suaminya yang masih dipenuhi keraguan dan amarah. Tangan wanita itu mencengkeram lengan jas Nicholas, menyalurkan permohonan lewat sorot matanya."Nicholas..." bisik Emily lagi, suaranya terdengar bergetar di tengah rintihan menyayat hati yang terus keluar dari bibir Olivia di atas lantai. "Kumohon... dia benar-benar kesakitan. Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini."Nicholas memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas panjang dan berat untuk meredakan emosi yang membakar dadanya."Arthur," perintah Nicholas tanpa menoleh ke arah mantan asistennya. "Bawa dia ke rumah sakit terdekat sekarang juga. Pastikan dia mendapatkan penanganan medis, tapi jangan biarkan dia kembali ke tempat ini.""Baik, Tuan Spencer! Saya akan segera mengurusnya," jawab Arthur sigap.Pria itu bergerak dengan cepat. Tanpa membuang waktu, Arthur menunduk dan memapah tubuh Olivia yang sudah terlihat setengah sadar, mengangkat wanita yang terus merintih dan memegangi perutnya itu keluar d
Baca selengkapnya