“Sudah pulang,” sapa Saka yang ternyata sudah pulang dari pasar. Ica hanya mengangguk dan tersenyum singkat pada tamu yang sedang duduk di teras bersama Saka. “Ini istrimu, Nak Saka?” “Benar pak, namanya Ica.” Dengan ramah Ica menyodorkan tangannya, tapi pria itu tak langsung menyambut uluran tangan Ica. “Ternyata istrimu masih sangat muda.” Akhirnya tangan Ica disambut juga, tapi meski salaman pandangannya seolah enggan menatap Ica. “Iya, Ica baru dua puluh satu tahun. Belum lulus kuliah.” “Hah!! Aku kira masih SMA.” Apa wajahnya semuda itu. “Kok kelihatannya masih labil.” Astaga ternyata pria ini sejenis dengan Saka yang suka membuat orang sebal ucapannya pantas saja mereka bisa berteman. Eh mereka teman kan? masa iya bertamu ke rumah musuh. “Saya permisi dulu buat minuman di belakang,” pamit Ica sopan, yang dijawab Saka dengan anggukan kepala tapi si tamu justru nyeletuk. “Nggak usah, paling juga yang buat bu Mirah, anak muda sepertimu mana bisa pekerjaan kayak gitu.” A
Baca selengkapnya