Sudah untuk kesekian kalinya Ridhika membolak-balikkan halaman contoh laporan yang diberikan oleh Ibu Binar. Akan tetapi, berapa kali pun dia membacanya, Ridhika masih belum paham mengapa hal-hal seperti kebaikan hati harus dilaporkan. Kemudian, dia ingat bahwa dia berada di Akademi yang mencetak peran, bukan manusia. Tentu mereka memerlukan bukti untuk melihat keberhasilan siswa dan siswinya. Hanya saja ... tetap canggung. "Sulit, ya?" Widuri duduk berselonjor di sampingnya seraya ikut memperhatikan laporan tersebut."Membuat laporannya, tidak. Mencari orang yang bisa diberikan kebaikan, iya.""Hm, begitu. Lagipula, kenapa sih kamu harus absen di tengah jam belajar?""Kalau bisa, aku juga tidak mau begitu. Tapi, Adhyaksa memanggil. Jadi, mau bagaimana lagi?"Ridhika mengetukkan jarinya pada halaman laporan yang mencantumkan keterangan dari orang yang dibantu mengenai kebaikan yang diterimanya. Tiba-tiba tubuhnya merinding. Entahlah! Dia tidak tahu banyak tentang hal ini, namun buka
Baca selengkapnya