Dia merogoh sakunya, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dan meletakkannya di telapak tanganku. "Ini milikmu. Beli apa pun yang kamu mau. Ubah dekorasi rumah ini, belanja, lakukan sesukamu."Aku menatap kartu hitam di tanganku. Rasanya kartu itu sama saja seperti sepasang borgol.Aku menarik napas gemetar. "Cuma itu?"Lucas menyeringai. "Kurasa itu garis besarnya. Oh, tunggu ...."Dia meraih ke belakang punggungnya, lalu mengeluarkan selembar kertas yang terlipat. Dari mana sebenarnya dia mengeluarkan semua benda ini?"Ini aturan rumahnya," katanya sambil menyelipkan kertas itu ke tanganku. "Baca, pahami, patuhi."Jari-jariku mencengkeram kertas itu dengan erat, sementara seluruh tubuhku gemetar menahan amarah.Selamat datang di kehidupan barumu, Ariel. Selamat datang di penjara emasmu."Oke," kata Lucas, seolah semuanya sudah selesai. "Mau kuajak keliling rumah?"Aku menyilangkan tangan di dada. "Kurasa nggak perlu. Aku bisa lihat-lihat sendiri.""Tentu," katanya. Namun, dia sama sekal
Baca selengkapnya