Aku tidak tahu dari mana keberanian itu datang, tetapi aku tetap menjawabnya."Kalau aku tahu kenapa kamu ada di sini, berarti kamu juga tahu alasannya. Kita sama-sama tahu kenapa aku nggak mengangkat teleponmu, dan kita juga sama-sama tahu kenapa kamu datang ke sini. Nah, beres, 'kan?""Oh, jadi kamu merasa pintar begitu, ya?"Aku tersenyum, meski sebenarnya gugup dan ketakutan. "Kurang lebih ... begitu," jawabku sambil tersenyum kecil.Dia melepaskan daguku, lalu melangkah mundur. Setelah itu dia mulai berkeliling kamarku, menyentuh berbagai barang, mengintip isi meja riasku, dan memperhatikan foto-fotoku. Wajahku langsung memerah saat dia mengambil bingkai foto yang ada di samping tempat tidurku.Foto dirinya. Foto yang selalu kucium sebelum tidur. Sebuah rahasia yang berniat kubawa sampai mati.Dia menatap foto itu, lalu melirikku dengan tatapan yang membuat pipiku makin merah, kalau itu masih mungkin. Setelah itu pandangannya kembali tertuju pada foto itu."Ganteng juga. Siapa dia
Read more