Fatah nyaris putus asa ketika mendapatkan gelengan Raharja, lalu menengok ke arah Dzi.
“Tipe masuk keduanya cukup dengan booster energy tahap dua.”
“Baik, Mbak.”
Fatah melakukan instruksi Dzi. Menggoyangkan kedua kaki keatas bawah dan menahannya di tengah membuat Raharja meringis kesakitan.
“Ulangi sekali lagi.”
“Siap, Mbak”
Seorang pria berkulit sawo matang, bermata tajam, bibir tipis dan berbadan tegap tinggi semampai melewati sekumpulan wanita.
Mereka terkagum-kagum melihat pria itu. "Cih! Dimana sih itu anak?" tanya Harsyat dalam hati sambil mengutak-atik ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tut ... tut ... Hallo!"
"Eh loe dimana sih? Gue udah nyampe nih!" kata Harsyat sambil menyandarkan badannya di dinding.
"Otw!" jawabnya singkat.
Ujar Bora
“Apa ini?” Tanya Aarav
“Buka saja.” Ujar Bora. Lalu Aarav mengambil Kotak pemberian Bora, kemudian ia langsung membuka Kotak tersebut. Disana Sebuah Gelang home made dengan bertuliskan A dan B Terbalik.
“Ini.” Ujar Aarav, lalu Bora mengambil salah satu Gelang tersebut dan ia memasangkannya ke Tangan Aarav
“Ini adalah Jimat untukmu, supaya kau bisa jauh lebih percaya diri saat kau berdiri sendiri di atas pangung nanti.” Ujar Bora
Dia melihat Utari yang sedang mengepel.
"Maaf nyonya, tadi aku tergelincir.." ucap Utari beralasan.
"Hhhhmm, apa kau mendengar ucapanku tadi di telepon?" tanya Bibi Rita agak panik.
"Tidak nyonya..." jawab Utari.
"Apa kau tidak bohong?" tanya Bibi Rita lagi.
"Tidak nyonya.." jawab Utari meyakinkan.
"Hhhhmmmm Pergilah sana !" titahnya.
Macet dan panasnya hari ini membuatku kegerahan, kuputar musik yang ada di mobil ini.
“Matilah kau ….”
“Matilah …”
Radio mendadak mengeluarkan bunyi aneh. Aku pun menggetoknya cukup keras agar sinyal radio mobil bisa nyangkut di satelit yang sebenarnya.
“Matilah kau …”
“Matilah…”
Happy Reading
*****
Suara azan subuh sebagai penanda jika aktifitasnya akan segera dimulai. Yanti hendak turun dari ranjang, meskipun sang suami masih bergelung di balik selimut. Setiap hari aktifitas perempuan dengan dua anak itu, hanya berkutat pada pekerjaan rumah tangga. Dimulai dari matahari yang belum menyapa sang kekasih, bumi, hingga nanti menjelang perpindahan waktu.
Sagara memberikan semangat dengan suara yang berat.
Pria itu semakin mempercepat ritme tangannya sendiri, terangsang hebat melihat bagaimana Aruna mulai terhanyut dalam permainannya sendiri.
Aruna mulai mempercepat gerakannya. Dua jarinya kini mulai menjelajah lebih dalam, mencari titik yang bisa membuatnya melayang. Setiap kali ia menyentuh titik itu, tubuhnya tersentak dan desahan-desahan kecil terus mengalir dari bibirnya yang bengkak.
Janggut tipis tumbuh di wajahnya.
Vincent duduk di tangga batu di depan pintu sambil meminum wiski seteguk demi seteguk.
Sorot tatapannya tampak kosong. Dia jatuh bebas dari puncak kekuasaan ke dalam jurang.
"Putra Telantar Keluarga Gredi", "Hak Suksesi Dunia Bawah Tanah Jatuh ke Tangan yang Salah", "Si Pangeran yang Terpuruk Menangis di Jalanan".
bisik Luna, kengerian membuat suaranya menjadi serak dan tipis.
Getaran pertama datang bukan dari tanah, melainkan dari udara. Sebuah frekuensi rendah yang berdengung, seperti senar bas raksasa yang dipetik di perut bumi. Lalu tanah di bawah kaki Adrian bergetar hebat. Lampu merah pada sensor yang tadinya mati, kini menyala kembali dengan warna merah darah yang solid dan mengancam.
bisik Sera pelan.
“Bagus. Artinya mereka takut,” balas Zaria sambil mengangkat senjatanya.
CLIKK—KRRRT.
Jeno tiba-tiba berhenti. “Ada getaran kecil di lantai. Ini bukan ranjau biasa… seperti sistem tekanan dinamis.”