여기 jaket kkn와 관련된 87개의 소설이 있습니다. 일반적으로 jaket kkn와 같은 이야기는 Lainnya, Romansa 및 Rumah Tangga 등의 다양한 종류에서 만나볼 수 있습니다. GoodNovel에서 Katanya, Aku Pelit부터 시작해보세요!
Kan lumayan, aku bisa menumpang minum kopi gratis.
"Jaket Abang mana, Dek?" Aku mengobok-obok lemari pakaian.
"Yang mana?" tanyanya sambil memoles krim putih di wajah.
"Yang ada gambar Akatsuki."
"Jangan asal bongkar, Bang. Capek Adek ngemasinnya," omelnya. "Jaket Abang yang itu belum dicuci."
"Apa? Kan itu jaket kesayangan Abang. Kok, belum dicuci? Abang nggak pede kalo nggak pake itu."
gerutu Khika lagi.
"Wait," Vino meninggalkannya dan mengambil sesuatu di mobil yaitu jaket bombers berwarna hijau army. Vino tutupi punggung Khika sekenanya dengan jaket tersebut. Vino sendiri juga mengenakan jaket varsity hitamnya.
"Kayak kantong doraemon, mau apa-apa bisa tiba-tiba ada," komentar Khika asal.
“M-maaf Admiral, a-aku tidak bermaksud ... “ Kiran menjauhkan wajah dan tubuhnya tapi tangan Shawn dengan cepat merengkuh pinggang Kiran yang terbuka. Kiran memakai bikini saat berendam di jakuzi tersebut.
“Kamu mau ke mana?” sisi lengan Kiran terpaksa menyentuh dada bidang Shawn. Kiran yang dipandangi dengan hasrat seperti itu akhirnya malah menundukkan wajahnya. Dan itu membuat Shawn jadi makin gemas. Ia makin menarik pinggang Kiran menempel padanya.
“Uh, Admiral ... tolong lepaskan aku!” pinta Kiran dengan nada lembut separuh merengek.
kata Kania dengan sikap yang tak kalah canggung.
Mahar lalu membuka jaket yang ia kenakan dan memberikannya kepada Kania. “Ini, pake aja.”
Dengan kaku Kania mengambil jaket di tangan Mahar. Aroma kayu cendana yang seketika terhidu semakin membuat hangat tubuhnya saat jaket itu ia kenakan. “Maka-si.”
Sekejap kemudian, suasana kelas saat liburan kembali terjadi di dalam mobil itu.
PESAN TERSEMAT📌
_________________________
Hai, Baby's🙌
Cintai Girls Knight sama RATA, ya!
GIRLS KNIGHT 'TEAM beri satu Emoticon🔥
Follow akun R_Quella juga I* @r_quella99 & @girlsknight.official
Makasih sudah Voment🤟
_________________________
BAB LIMA TIGA
Early new reality
Di hari berikutnya, Arabella benar-benar tercengang begitu private jet Keenan mendarat di Bandar udara yang menyatakan bahwa mereka sampai di Swiss.
"Mas, kenapa terus kau ulang? Apa kau juga judi lagi?"
Eko bergumam entah apa, Tika tak begitu jelas menangkapnya. Dengan sabar, dia merebahkan tubuh Eko di atas dipan kayu dengan kasur tipis di atasnya. Perlahan, Tika melepaskan jaket dan mengganti pakaian suaminya yang kotor dan beraroma tak sedap, dengan baju bersih yang dia ambil.
"Aku dengar suara langkah kaki dari tangga darurat. Orang yang bertengkar dengan Dimas... dia kabur lewat sana sebelum aku masuk."
Menelan ludah. "Kakak lihat wajahnya?"
Kirana menggeleng lagi. "Nggak. Tapi aku lihat punggungnya. Postur tubuhnya. Dan jaket hitam yang dia pakai."
Jantung berhenti sebentar.
"Jaket hitam?"
Kirana mengangguk pelan.
"Sama seperti yang Revan sering pakai."
---
Dunia seperti berhenti berputar.
Pria itu terlihat sedikit lelah dengan kemeja kerja yang kancing atasnya sudah terbuka dan sedikit berantakan, namun entah mengapa justru menambah berkali-kali lipat aura ketampanannya.
Nolan tidak langsung menyapa. Keningnya justru mengernyit dalam, menatap tajam ke arah Airin yang masih mengenakan jaket oversize model cowok. Ia tahu betul isi lemari pakaian Airin, dan jaket ini jelas bukan milik kekasih kecilnya. "Jaket siapa yang kamu pakai ini?" tanya Nolan, suaranya terdengar berat dan menuntut.
Berpisah demi mempertahankan keluarga mereka, bukan kehilangan yang menakutkan.
Jack masih terlihat tidak rela, tetapi dia juga tidak lagi berteriak melarang Ayahnya pergi.
Beberapa saat kemudian, Javier sudah rapi dengan pakaian sederhana dan jaket tipis yang diberikan oleh Ken agar tidak menarik perhatian siapa pun.
Koper kecil berada di sisi kakinya, hanya berisi kebutuhan secukupnya, namun terasa lebih berat daripada beban apa pun yang pernah ia bawa selama ini.
Semalam hujan, hawa dinginnya masih terasa di taman kota.
Cakra melepas jaket kulitnya dan memakaikannya pada Kiran. Kiran tertegun sejenak, merasa canggung namun juga nyaman dengan kehangatan jaket itu.
“Orang gila yang memberi jaketnya untuk orang lain,” celetuk Cakra terdengar lebih lembut dari biasanya. “Siapa sangka urusan penting di hari libur kamu itu jalan pagi bareng aku.” Cakra tersenyum tipis.