Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas

Waspadalah, Nyonya Tak Sudi Lagi Ditindas

Jiayi yang tengah menggambar, tiba-tiba mencetus. "Bunga peoni, bunga teratai. Tumbuh subur di taman bunga. Pikiran tenang dan tahu diri Bikin hidup lebih bahagia." Setelah membacakan potongan pantun, Jiayi tersenyum penuh kepolosan. "Apakah Da Jie pernah mendengar ibarat itu?" Tentu saja Lin Yue tahu maksud adiknya. Walau cuma putri selir, ibu dan neneknya memanggil guru pribadi untuk mengajar sastra juga keterampilan wanita.
1021.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 815 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Bukan Sekedar Suami Pengganti

Bukan Sekedar Suami Pengganti

Ray duduk di atas batang kayu besar yang terdampar di pinggir pantai, memandang Tata yang sedang menggulung tali pancingnya sambil bersiul kecil. “Tata,” panggil Ray, nadanya terdengar hati-hati. “Hm?” Tata menoleh, masih fokus pada pancingannya yang sempat tersangkut rumput laut. “Aku mau tanya…” Ray menunduk sebentar, mengacak rambutnya gugup. “Kamu dan Prilan itu… hubungannya apa selain tetangga?” Tata mengangkat alis, lalu tertawa kecil. “Kamu penasaran?”
101.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Di Balik Bayangan Makassar: Petualangan Aaron & ILHAM

Di Balik Bayangan Makassar: Petualangan Aaron & ILHAM

"Kalau di laut ada ikan kerapu, Awas hatimu jangan sampai rapuh. Walau cinta sudah sampai ke kalbu, Tetaplah jaga, jangan sampai jenuh. Burung camar terbang ke pantai, Di sore hari yang sangat damai. Cinta itu jangan sampai lalai, Selalu dijaga, biar makin asyik. Ikan pari di lautan dalam, Berenang jauh mencari makan. Cinta sejati bukanlah salam, Tapi perjuangan sampai ke pelaminan!" Aaron dan Aisyah tertawa terbahak-bahak, begitu pula dengan yang lainnya. "Nyai, terima kasih banyak," kata Aaron sambil tersenyum lebar. "Pantunmu sungguh membuat hari ini semakin berkesan."
101.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 40 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Kakakku, Orang Ketiga Dalam Rumah Tanggaku

Kakakku, Orang Ketiga Dalam Rumah Tanggaku

"Aku nggak nyangka kalau secepat ini mau membicarakannya." "Kemarin kamu bilang besok, berarti hari ini kan?" "Maksudku besok itu, entah kapan, bisa besok, lusa atau besok lusa," jawabku. "Ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus." Aku tertawa mendengar pantun yang diucapkan Ray. "Mau berbicara disini?" tanyaku. "Ya enggaklah. Kita cari tempat sekalian makan siang."
1051.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.8K kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Setelah Kamu Pilih Dia

Setelah Kamu Pilih Dia

Isinya adalah puisi yang ia tulis sendiri. “Kau bukan datang dari rencana, tapi dari harapan yang tumbuh di luka. Kau bukan jawaban dari tanya, tapi pelukan yang menenangkan semua gundah.” “Kau akan kami panggil dengan nama, Tapi cintamu akan hidup bahkan sebelum suara pertamamu terdengar.” Dinda menahan air mata. Ia menggenggam tangan Rayhan erat-erat. “Kita udah siap, ya?”
88.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 198 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Kesayangan Sang Dosen

Kesayangan Sang Dosen

pinta Anggun merajuk lagi. “Asiapppp....!” balas Ryan dan tak teasa rudalnya mulai hidup lagi saat itu tanda hasratnya mulai terbangkitkan lagi apalagi barusan ia meminum ramuan dari Tania.
1045.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.5K kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Suamiku Terjerat Rayuan Janda

Suamiku Terjerat Rayuan Janda

ucap wanita itu lagi. "Saat ini kami tidak menerima pembayaran tunai, Bu. Hanya pembayaran cashless yang kami terima," ucapnya lalu memberikan nomor rekening ke mana aku harus membayar biaya panjarnya. Tanpa menunggu lama, aku membuka aplikasi m-banking ku dan langsung melunasi biaya panjar yang tertulis. Tak hanya itu, menurut penjelasan wanita yang ada di hadapanku kini, biaya panjar akan dikembalikan jika persidangan berjalan cepat. Namun, akan ada tambahan jika proses persidangan itu rumit. Dan aku mengangguk.
102.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Anak Kembar Empat si Presdir Dingin

Anak Kembar Empat si Presdir Dingin

“Kamu ....” “Coba saja kalau nggak percaya!” Rayden sama sekali tidak terlihat seperti sedang bercanda. Dia menendang beberapa nisan leluhur Keluarga Pangestu lagi hingga ambruk.
9.5994.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20.9K kali sebagai pantun rayuan
Tampilkan Ulasan (176)
Baca
+Pustaka
Tiuri
suka dg cerita nya bikin nangis bikin senyum thor keren.. tdk seperti novel lain yg kebanyakan cerita tentang sex melulu ngeri dan membosankan... kl ini tentang kehidupan ada perkelahian ada, ada persaudaraan dan cinta keluarga yg besar.. sukaaa .. thoor nanti bikin cerita model gini lg yaa............
Adelia
Ijin promosi novel judul: Amnesti Sang Eksekutor Aku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku
Baca Semua Ulasan
Alstroemeria

Alstroemeria

"Pendaran purnama menerpa kamar Terbayang dinginnya halaman luar Menerawang terpana terang rembulan Menunduk terindu kampung halaman." "Berjudul 'Rindu dimalam sunyi' karya dari Li Bai pujangga legendaris." Cukup memudahkan aku! Ah suasana ini membuat aku semakin semangat saja.
1015.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 359 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status