Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
PELITA DI TENGAH GELAP

PELITA DI TENGAH GELAP

Cahaya kecilnya memantul di dinding, menari lembut bersama bayangan daun di luar jendela ia menatapnya lama, lalu mengambil buku hariannya dan menulis satu halaman terakhir, “Kami sudah melewati hujan, badai, dan malam yang panjang. Tapi dari semua itu, aku belajar satu hal, pelita yang paling kuat bukan yang paling terang, melainkan yang tetap menyala bahkan ketika angin mencoba memadamkannya. Dion aku janji, pelita ini akan terus ada. Untukku, untuk Dinda, dan untuk siapa pun yang percaya bahwa kejujuran masih punya tempat di dunia.”
683 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Menunggu Bulan

Menunggu Bulan

sang Bayu Cukuplah engkau bersamaku Mendengarkan nyanyian pilu Dari jiwa yang terpaku Walau lelah Walau payah Takkan diriku jengah Berharap semua 'kan indah Selesai menulis Raya kembali berbaring. Perasaannya mulai kacau. Ia kembali terbayang wajah tuan muda. Sejurus kemudian pintu kamar kembali terbuka. Seorang teman dengan napas terengah memintanya bersiap dan segera keluar kamar untuk mengikuti lomba berpuisi. Raya sangat bingung, tetapi belum sempat bertanya gadis itu telah berlalu.
2.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 110 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Pendekar Kera Sakti

Pendekar Kera Sakti

Sayang sekali sinar merah itu dapat dirasakan kehadirannya oleh tokoh tua berilmu tinggi itu, sehingga Resi Pakar Pantun cepat balikkan badan dan lepaskan pukulan bersinar hijau. Clapp...! Duarrr...! Ledakan itulah yang didengar Baraka tadi”O. rupanya kau yang menyerangku. Anak manis” kata Resi Pakar Pantun saat berhadapan dengan Raja Tato. ia melanjutkan dengan syair pantun'nya. "Anak sapi bercinta dengan kera. “Selesai bercinta bayar uang sewa. Kalau memang belum puas cedera, boleh jadi kau akan kehilangan nyawa."
1028.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 988 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Pelayan Sang Tuan

Pelayan Sang Tuan

Meski tetap saja hal it uterus berulang. Jemari Zhafran bergerak-gerak di layar, membuka kotak pesan yang berada paling atas dan seketika tubuhnya melompat terduduk dengan kedua mata membelalak lebar menatap deretan pesan dari nomor tak dikenal tersebut. 'Kau terlihat seksi dengan piyama merah itu.' 'Merindukanku, manis?' 'Kau terlihat sangat cantik dengan gaun tidur putih itu. Apakah suamimu yang membelikannya?'
1023.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 815 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Suddenly Become a Bride

Suddenly Become a Bride

tuan muda tampak seperti siswa Sekolah Dasar. “Tentu saja ada. Manfaatkan handphonemu, bukalah puisi dan sajak anak-anak zaman sekarang. Ungkapan cinta mereka melebihi ekspetasimu. Kau bisa belajar merayu Kiran.” Kalau saja bisa, sayangnya urusan rayu merayu Wira tak ada pengalaman sedikitpun. Perlukah dia belajar dari Rakin? Namun dia harus siap diejek habis-habisan.
106.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 203 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Takdir Yang Tertunda

Takdir Yang Tertunda

pintaku setengah mengatupkam mulut dan memejamkan mata, menikmati ayunan Ray yang srmskin cepat dan menghujam. "Sayang, oh oh, aku-aku mau ke---, akh---!" Pria tampan itu mencampai klimaksnya. Dan masih dengan napas terengah dia kembali menghujam miliknya ke dalam milik intiku. "Oh, Sayang, ouh---," aku mencapai pelepasanku yang kedua dengan jeritan erotisku. Ray kembali tersenyum dan ternyata tidak sampai di situ aja.
1014.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 356 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Purba Sang Pemuas

Purba Sang Pemuas

Di matanya, ancaman pejantan kera ini tak lebih dari sekadar mantra gaib murahan yang tidak punya taring sama sekali. "D-O? Apakah itu jenis buah hutan yang rasanya sangat pahit hingga kau begitu bangga mengucapkannya, Pejantan Lemah?" tanya Arya dengan nada polos yang justru terdengar sangat menghina. Alasannya, Arya menganggap semua kertas yang berserakan di atas meja itu hanyalah daun kering tak berguna yang dikumpulkan oleh manusia modern untuk menghangatkan sarang.
9.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 236 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Pelayan Baru Sang Tuan

Pelayan Baru Sang Tuan

Wanita itu dipenuhi amarah lagi. "Nyonya, Anda tidak perlu emosi seperti itu. Saya saja sangat tenang, kok. Oh iya, Nyonya apa Anda tahu kata pepatah bahwa karma tidak akan pernah lupa jalan pulang?" "Apa maksudmu berbicara seperti itu?!" "Saya tidak memiliki maksud apa pun, Nyonya. Saya hanya berkata pepatah umum. Siapa yang menanam, dia yang memanen. Siapa yang merebut, maka harus siap-siap untuk direbut kembali."
782 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 19 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
SUAMI PSIKOPAT LULUH KARENA KEHAMILANKU

SUAMI PSIKOPAT LULUH KARENA KEHAMILANKU

protes bocah tampan itu. "Kalau kamu tidak ingin lihat ya tutup saja mata kamu, seperti ini nih," sanggah Ryan sambil menutup mata sang putra dan mengulangi kegiatannya. "Ish, Papi ini, mesum tidak tahu tempat," omel Rayyan. "Hei, darimana kamu dapat kata kata seperti itu?" Ryu mulai mode galaknya. "Hehehe, Iyan tahu dari Tou tupe," jawabnya lalu turun dari brangkar Maminya.
9.912.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 256 kali sebagai pantun rayuan
Tampilkan Ulasan (29)
Baca
+Pustaka
Indah Hayati
kapan sih mereka bahagia nya thor dikit2 ada aja masalah dalam hidup mereka cuma bisa berharap ending nya rehan bisa kembali bersama rania dn ayra terus mulai hidup bahagia, jngan di pisahkan lagi mereka bertiga begitu juga dengan revan biarkan bahagia bersama nayumi dn nevan
Avaya0627
psikopat adalah satu penyakit mental yg harus ditangani ahli. psikopat ga bisa ngerasain emosi, itu sebabnya dia cenderung dingin. psikopat itu cerdas, biasanya pintar memanipulasi. Bahkan orang ga bisa nebak Krn dia bisa nunjukin sikap yg baik. mungkin bisa digali lagi apa sebenarnya psikopat itu
Baca Semua Ulasan
Rayuan Desa Wanita

Rayuan Desa Wanita

Denting palu terdengar sayup dari lereng bukit hingga sore hari. Leo duduk memeriksa laporan keuangan di ruang kerjanya. Pembangunan kolam bambu itu selesai lebih cepat dari jadwal. Gagang pintu ruang kerjanya diputar perlahan dari luar. Pintu kayu berderit terbuka menampilkan sosok Maya. Janda kembang itu mengenakan kebaya katun merah marun. Rok batiknya membelah hingga paha, memperlihatkan kulit putihnya.
1026.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 589 kali sebagai pantun rayuan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
34567
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status