Takdir Memisahkan Kita
Pada detik itu juga, mimpi indah yang selama ini dirajut Laila, yang ia beri nama ‘Bima masih mencintaiku’, hancur berkeping-keping.
Naluri spontanitas manusia tak pernah berbohong. Di hadapan pilihan hidup dan mati, Bima telah memilih orang lain.
Ketika Laila hendak membuka mulut untuk menyuruh Bima pulang dan beristirahat, ponsel Bima tiba-tiba berdering. Ia melirik nomor di layar, untuk sejenak ekspresinya terlihat ragu ragu. Ia lalu menoleh ke arah Laila dan berkata, “Telepon dari kantor. Aku keluar sebentar untuk mengangkatnya.”