Home / Fantasi / Ampun, Jo, Ini Kegedean! / 44. Masih Ada Juga!

Share

44. Masih Ada Juga!

Author: Leva Lorich
last update publish date: 2026-06-16 20:42:38

Teja sedikit terkejut mendengar permintaan Nana yang tiba-tiba ingin memegang kendali di atas tubuhnya.

Nana tersenyum manja, lalu dengan sisa tenaganya ia membalikkan posisi hingga kini duduk di atas perut Teja.

Rambut panjang Nana yang sedikit berantakan terurai ke depan, menambah kesan seksi pada penampilannya malam itu.

Teja hanya bisa pasrah dan menatap keindahan tubuh gadis di atasnya yang kini mulai bergerak meraba dadanya.

"Kamu siap, Jo? Aku bener-bener udah nggak tahan lagi," bisik Na
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   234. Ilusi Gerakan

    Teja mengangguk. "Kayaknya gitu. Soalnya aku juga nggak paham sama tingkatanku sendiri," aku pemuda berambut gondrong itu polos sembari mengibaskan tangannya santai."Itu udah tinggi banget lho, Ja. Aku aja masih ada di ranah bela diri tingkat dasar tahap puncak," sahut Linda. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, terkesima sekaligus takjub mendapati betapa jauhnya jarak kemampuan fisik mereka berdua saat ini."Iya bener tinggi banget itu, Lin. Aku masih di ranah bela diri tingkat sedang tahap fondasi. Aku bahkan awalnya nggak nyangka kalau Teja bisa bela diri," timpal Panda. Wanita berparas oriental itu melangkah mendekati Linda, menatap Teja dengan sorot mata yang dipenuhi rasa hormat atas pencapaian luar biasa pemuda tersebut dalam waktu yang teramat singkat."Ya udah, ayo latihan. Gantian ya lawan aku, habis itu gabungan," kata Teja mengambil tempat di tengah pelataran tanah padat. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, memasang kuda-kuda kokoh tak tergoyahkan.Linda maj

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   233. Lompatan Tinggi

    "Kalian mau naik itu aja?" tanya Teja. Pemuda itu mengayunkan kembali kunci remote mobil di jemarinya, memberi isyarat ke arah Maserati Quattroporte GTS V8 hitam yang memantulkan kilau elegan di bawah terik fajar."Wah, mau banget!" seru Linda antusias. Matanya berbinar terang, seketika melupakan rasa penasaran atas asal muasal benda super mewah tersebut.Panda juga tampak sumringah sembari mengangguk riang tanpa suara. Raut orientalnya yang biasa tenang kini memancarkan keceriaan polos, mengagumi siluet aerodinamis kendaraan super cepat yang siap membawa mereka bertiga menuju area tempaan diri di tengah rimbunnya hutan.Teja tersenyum senang menatap keriangan wajah kedua gadis itu.Dengan satu pijatan tombol pada remote control, lampu indikator mobil mewah berbalut kelir bodi hitam legam itu mengedip anggun lagi diiringi suara otomatis yang menandakan kunci pintu telah terbuka. Pemuda berambut gondrong itu langsung membuka pintu bagian kemudi, sementara Linda dan Panda bergegas ma

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   232. Wajib Lapor

    "Kalian berdua sangat ideal buat jadi partner latihanku. Aku butuh lawan yang kuat, dan gabungan dari kalian berdua adalah perpaduan yang pas," ujar Teja. Pemuda itu menatap Linda dan Panda secara bergantian dengan raut wajah yang kini berubah lebih lembut.Ia menyadari bahwa mengombinasikan ketangkasan silat Teratai Kembar milik Linda serta keahlian tak terduga dari Panda akan menjadi sarana pemanasan yang sempurna untuk menguji jurus-jurus barunya."Siap, Ja. Aku akan bantu," ucap Linda cepat. Gadis itu mengepalkan tangannya di depan dada dengan binar mata penuh semangat, merasa bangga karena kemampuan bertarungnya diakui dan dibutuhkan oleh Teja.Panda ikut mengangguk. "Aku juga siap buat membantumu, Ja," timpal Panda singkat. Wajah orientalnya mengulas senyum tipis yang memancarkan kesiapan penuh tanpa keraguan sedikitpun."Oke, tapi kayaknya nggak di sini juga deh. Kita butuh tempat yang sepi dan privat buat latihan," jawab Teja sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling pelata

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   231. Ribut Sendiri

    "Tolong kamu jangan menghina ramuanku, Lin. Namanya obat ya jelas pait!" protes Panda tak nyaman. Raut wajah orientalnya yang semula selalu dihiasi senyum tenang kini berkerut kesal, merasa usaha dan niat baiknya memasak ramuan herbal sejak fajar menyingsing dilecehkan begitu saja."Tapi Teja udah jelas-jelas bilang kalau ini obat kuat. Kamu emang niat jelek sama Teja!" jawab Linda tak mau kalah. Gadis itu menunjukkan wadah termos di tangan Panda dengan mata berkilat penuh amarah, memanfaat kalimat candaan Teja tadi untuk terus menekan saingannya.Mendengar itu, Teja sudah tak bisa lagi menahan diri. Bola matanya melebar seketika."Kalian bisa diem nggak?!" suara Teja menggelegar, rahangnya mengeras. Bentakan nyaring itu membelah keheningan halaman belakang rumah barunya.Linda yang sudah paham bagaimana kemarahan Teja jika terpancing, segera mengkerut takut. Keberaniannya luruh seketika, menyisakan tubuh yang gemetar halus di bawah tatapan tajam dan penuh penekanan dari pemuda be

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   230. Ramuan Pengasihan

    Kedua gadis itu mulai makan tanpa kata. Suasana di meja makan terasa kaku dan hening, hanya berhias denting halus antara sendok dan piring kaca yang saling beradu. Ketegangan di antara mereka berdua seolah memanaskan udara di dalam ruangan tersebut.Hanya Panda yang sesekali mengangguk dan tersenyum pada Toni dan Teja. Tatapan matanya yang teduh serta gesturnya yang sopan memancarkan ketenangan tiada tara, sangat berbanding terbalik dengan Linda yang terus menunduk menyantap makanannya dengan raut wajah cemberut.Begitu selesai makan, Panda segera bangkit. Jemari lentiknya bergegas meraih termos herbal dan menggeser piring kosong di depannya. "Biar aku yang bersihin mejanya, Ja," tawarnya halus sembari menyunggingkan senyuman manis ke arah Teja.Namun Linda justru mendahului berdiri!Gerakannya yang mendadak membuat kursi yang didudukinya terdorong cukup keras ke belakang. "Aku aja!" sergah Linda cepat, tak rela membiarkan Panda mengambil perhatian dan simpati dari penghuni rumah

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   229. Perang Petir

    Saat pintu terbuka, Linda terlihat berdiri di sana. Gadis itu mengenakan pakaian kasual yang rapi, memegang tas kecilnya dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam."Linda?! Kok pagi gini udah ke sini?" tanya Teja heran. Pemuda itu menggeser posisi berdirinya di ambang pintu, menatap kekhawatiran yang terpancar dari paras cantik sang tamu."Aku denger kamu kalah dari Suko, Ja. Aku kepikiran terus sama kamu. Makanya aku buru-buru ke sini," aku Linda jujur. Suaranya agak bergetar, menatap langsung ke dalam mata Teja tanpa berusaha menyembunyikan rasa gelisah yang menyita pikirannya sepanjang malam."Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Ada yang parah nggak lukanya?" tanya Linda khawatir sembari memeriksa sekujur tubuh pemuda berambut gondrong idolanya tersebut. Tangannya bergerak cepat memegang kedua lengan Teja, meneliti dari pundak hingga pergelangan tangan untuk memastikan tidak ada tulang yang patah atau terluka."Santai. Nggak kenapa-kenapa kok. Eh masuk yuk, ikut sarapan," aja

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   8. Menghujam Bumi

    BLARRR! Jantung Teja seperti baru saja dilempar bom molotov. Meski ia sudah menerima tugas pijat sebagai penerus dan pengganti ayahnya, tetap saja ia masih merasa cukup canggung untuk menjamah tubuh wanita. Terlebih, semua pasien umpan lambung dari ayahnya memiliki kecantikan dan keindahan tubuh d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   7. Gitar Spanyol

    Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   6. Menunjukkan Sikap Dominan

    Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status