INICIAR SESIÓN"Hal yang paling kutakutkan adalah jika samudera cintaku tak bertepi, namun Tuhan mentakdirkanmu hanya sebatas langit biru yang jauh untuk kupandang." Ratusan hari berlalu, namun Annora tak pernah benar-benar merasa bebas. Hidupnya adalah napas yang tertahan dan langkah yang dibayangi kewaspadaan. Di balik pundaknya, sesosok pria kekar terus membuntuti, memastikan bahwa trauma tahun 2000 tak akan pernah terkubur. Ledakan hotel itu bukan sekadar tragedi; itu adalah awal dari fitnah keji dan kematian sang ayah yang disaksikan Annora dengan mata kepalanya sendiri. Kini, di tengah upaya mengungkap kebenaran yang terkunci rapat, dua pria berkuasa masuk ke dunianya: Lee Jae Won dan Mateo. Di antara perlindungan yang ditawarkan dan rahasia yang mereka simpan, Annora harus memilih. Namun, sanggupkah ia jatuh cinta saat bayangan misterius di kegelapan mulai melangkah maju ke arah cahaya?
Ver más
Suara tembakan membabi buta bergema di setiap ruangan. Api gencar melalap apa saja yang terpajang, sementara teriakan histeris para pengunjung terdengar begitu memilukan.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria bertopeng berdiri tegak, menodongkan pistol ke arah pria paruh baya yang tak berdaya di bawah kakinya. Tatapannya merendahkan, menyeringai layaknya iblis yang puas dengan penderitaan mangsanya.
"Ka-kau siapa?" tanya pria yang nyaris kehabisan napas itu.
Pria bertopeng itu tertawa. Suaranya serak dan berat, seolah menikmati rasa sakit musuhnya. "Kau harusnya sudah kukirim ke neraka sejak dulu. Jadi, jangan tanya siapa aku, bodoh!"
Si pria paruh baya tertegun. Suara itu terasa familier di telinganya—intonasi yang berbeda, namun warna suara yang pernah ia kenal baik.
"Tolong selamatkan putraku. Selamatkan dia... Kau boleh mengambil segalanya," ucap pria itu pasrah, air mata bercampur darah mengalir di wajahnya.
Tawa si pria bertopeng menggelegar di lantai dua yang mulai berasap. "Sayangnya, aku tidak peduli. Cuih!" Ia melayangkan tendangan keras ke arah korbannya.
Pria malang itu semakin tak berdaya. Dengan sisa tenaga, ia merangkak, mencoba bersujud di kaki si pria bertopeng. Di saat yang sama, raungan sirene pemadam kebakaran mulai terdengar dari kejauhan. Salah satu anak buah si pria bertopeng datang membisikkan sesuatu.
Pria bertopeng menggertakkan gigi. Waktunya sempit, padahal ia belum puas menyiksa korbannya.
"Sepertinya permainan ini harus selesai. Kau ingin lihat wajahku?" tanya pria bertopeng itu. Perlahan, ia membuka penutup wajahnya.
Pria yang bersimbah darah itu mendongak. Matanya membulat menatap sosok yang berdiri sombong di hadapannya. "Ka-kau..."
"Benar, aku! Kenapa? Kau terkejut?"
Hati pria paruh baya itu mencelos. Ini adalah pengkhianatan terberat yang pernah ia rasakan. "Kenapa... kenapa kau tega melakukan ini pada kami?" tanyanya dengan suara parau.
Namun, lawan bicaranya hanya tertawa—sebuah tawa yang menyimpan sejuta misteri. Ia kembali mengenakan topengnya, lalu menarik pelatuk perlahan.
"Inilah bentuk ketidakadilan dunia. Kau sudah terlalu lama bersenang-senang. Sekarang, aku akan mengakhiri semuanya. Matilah kau!"
Dor!
Timah panas menembus dahi pria malang itu. Tanpa belas kasih, si pria bertopeng memerintahkan anak buahnya menyiramkan minyak ke sekeliling ruangan. "Ayo keluar dari sini sebelum api semakin membesar!"
Saat menyusuri lorong menuju tangga darurat, langkah pria bertopeng terhenti. Ia mendengar suara tangis anak kecil dari bawah tangga. Ia memberi isyarat agar anak buahnya berhenti.
"Tetaplah di sini," ujarnya singkat.
Ia melangkah perlahan, merunduk untuk memeriksa kolong tangga. Di sana, seorang anak laki-laki sedang meringkuk ketakutan, terus memanggil ibunya dengan suara bergetar. Pria bertopeng tersenyum di balik kain hitamnya. Rencananya seolah direstui semesta. Ia telah menemukan bidak yang akan mengubah hidupnya.
"Sini, Nak... Ikut Paman," ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Bocah itu menggeleng kuat, ketakutan melihat topeng hitam tersebut. Namun, api sudah mulai menjilat lantai tiga. "Paksa dia keluar!" titahnya geram.
Akhirnya, bocah itu digendong paksa. Mereka segera menembus pintu darurat belakang, menuju deretan mobil mewah yang sudah menunggu.
"Kalian boleh bersantai setelah ini. Lupakan semua yang terjadi di sini. Paham?!"
"Paham, Bos!"
Mobil-mobil itu melesat pergi, meninggalkan hotel yang kini telah menjadi lautan api.
Malam semakin larut, namun suasana di sekitar hotel masih mencekam. Rosalinda berdiri gemetar di balik garis polisi, menatap petugas yang sibuk mengevakuasi korban.
"Ibu!" sebuah suara memanggil.
Rosalinda terlonjak saat melihat putri kecilnya berlari ke arahnya. Ia segera memeluk anaknya erat-erat. "Sayang, syukurlah! Ibu pikir kau ada di dalam!"
Gadis kecil itu menggeleng. "Tadi aku pergi ke minimarket bersama Tante Koki. Tapi pas kembali, hotel sudah terbakar. Ibu... Ayah di mana?"
Rosalinda terdiam, ia melirik rekan kerja suaminya—seorang koki wanita—yang berdiri tertunduk di dekat mereka. "Apakah suamiku ada di dalam saat kejadian?" tanya Rosalinda gemetar.
Koki itu hanya membisu, tangannya mengusap perutnya yang masih rata dengan wajah penuh duka. Sebelum ia menjawab, seorang polisi menghampiri mereka.
"Apa Anda mencari keluarga?" tanya polisi itu.
"Iya, Pak. Suami saya Arif, dia koki di sini."
Polisi itu mengarahkan mereka ke posko identifikasi. Rosalinda dan putrinya mengikuti dengan perasaan waswas, sementara si koki wanita mengekor di belakang.
"Silakan cek daftar ini. Kami sudah mengidentifikasi beberapa korban berdasarkan data DNA dan ciri fisik," ujar polisi sambil menyodorkan beberapa lembar kertas.
Rosalinda memeriksa daftar itu dengan tangan gemetar. Di lembar ketiga, napasnya seolah terhenti. Nama suaminya, Arif, tercatat sebagai korban meninggal.
"Mas Arif..." gumam Rosalinda ambruk.
Di saat yang sama, koki wanita di sampingnya mendadak histeris lalu pingsan. Petugas medis segera membawanya ke ranjang lipat.
"Sepertinya dia sedang hamil muda, Bu," lapor perawat setelah memeriksa kondisi si koki.
Rosalinda, yang juga sedang hancur, hanya bisa mengangguk kosong. Pikirannya kalut. Ia sengaja menyusul suaminya ke kota ini karena firasat buruk melalui mimpi yang berulang, namun ternyata kenyataan jauh lebih pahit.
Tiba-tiba, suara isak tangis terdengar dari ranjang sebelah. Si koki wanita telah sadar.
"Kau sudah bangun? Ternyata kau sedang hamil..." ucap Rosalinda berusaha berempati di tengah duka mereka bersama.
Bukannya menjawab, koki itu justru memeluk kaki Rosalinda sambil menangis sejadi-jadinya. "Maafkan saya... Maafkan saya. Ini hukuman untuk saya!"
Rosalinda mengernyit bingung. "Apa maksudmu? Ceritakan padaku, ada apa?"
Dengan suara tersedu-sedu, koki itu membisikkan sebuah pengakuan. Detik itu juga, mata Rosalinda menyala karena amarah. Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi si koki.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya kau melakukan itu di belakangku?! Dan kau membawa putriku dalam urusan busukmu?! Kenapa kau tega?!"
Kegaduhan itu membuat orang-orang di posko mencoba melerai. Putri kecil Rosalinda yang ketakutan segera memeluk ibunya. "Jangan pukul Tante Koki, Bu... Kasihan..."
Rosalinda terisak, dadanya sesak oleh pengkhianatan yang baru saja terungkap di atas nisan suaminya yang bahkan belum kering.
Bayang-Bayang yang Menyusup ke SwissBan mobil Mateo berdecit nyaring saat ia membelokkan kendaraannya dengan tajam, memanfaatkan kelokan tajam di ujung jalan pelabuhan untuk memecah formasi mobil yang membuntutinya. Dengan mematikan lampu utama dan menghafal setiap sudut tikungan di bawah kegelapan malam, ia berhasil mengecoh para penguntit itu. Mateo terus menekan pedal gas, menerobos masuk ke dalam terowongan panjang yang sepi, meninggalkan bayangan mobil hitam penumpangnya jauh di belakang.Begitu keluar dari terowongan, ia menepi di bahu jalan yang sunyi. Mateo mematikan mesin, menyandarkan kepalanya pada kemudi, dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang memburu.Pesan Bibi Park terngiang kembali di benaknya: Mereka yang bermain di belakang layar akan terus berusaha menutupi permainan ini.Mateo tahu waktu yang dimilikinya semakin tipis. Ia tidak boleh terus-menerus bermain kucing-kucingan tanpa pegangan yang kuat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia me
Bayangan di Pelabuhan IncheonSuasana Pelabuhan Incheon terasa begitu sunyi, jauh berbeda dengan kesibukannya di siang hari. Yang terdengar hanyalah suara deburan ombak besar yang menghantam keras bibir dermaga, memecah keheningan malam yang pekat. Angin laut berhembus kencang, membawa aroma garam dan dingin yang menusuk tulang.Mateo mematikan mesin mobilnya. Ia keluar dari kendaraan, lalu menyalakan sebatang rokok. Bara api kecil menyala di dalam kegelapan, menerangi sebagian wajahnya yang tampak lelah namun penuh tekad. Ia bersandar di kap depan mobilnya, matanya tajam menyapu sekeliling, memperhatikan setiap sudut bayangan yang tercipta di antara tumpukan kontainer raksasa."Keluarlah, aku tidak suka main kucing-kucingan!" teriak Mateo tegas, suaranya memantul di dinding-dinding gudang tua yang kosong.Beberapa detik berlalu dalam sunyi, hingga akhirnya suara langkah kaki terdengar menyeret di atas kerikil basah. Dari arah sebuah gudang solar yang terbengkalai, sesosok pria mu
Di Antara Kabut Rahasia dan Mual yang MenyiksaPegunungan Alpen Swiss yang biasanya tenang kini terasa menjadi saksi bisu bagi perubahan besar dalam hidup Annora. Memasuki trimester pertama kehamilan, Annora diserang oleh morning sickness yang cukup parah. Setiap pagi, ia merasa dunia berputar dan perutnya terus bergejolak, membuat aroma masakan atau sekadar bau kopi di pagi hari menjadi musuh terbesarnya.Di kamar utama yang luas, Annora meringkuk di atas tempat tidur dengan wajah pucat. Jae Won, yang biasanya tangkas mengurus strategi bisnis bernilai jutaan dolar, kini tampak kewalahan namun sangat antusias dengan perannya yang baru. Ia mondar-mandir membawa baskom air hangat, handuk bersih, dan segelas jahe hangat yang ia racik sendiri setelah menghabiskan waktu berjam-jam membaca artikel di internet tentang cara mendampingi ibu hamil."Coba minum ini pelan-pelan," bisik Jae Won lembut, membantu Annora duduk dengan menyandarkan beberapa bantal di punggungnya.Annora menyesap ai
Langkah Mateo terasa berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak di Seoul ini menyimpan beban dari masa lalu yang belum terselesaikan. Kantor pusat administrasi rumah sakit tempat otopsi jenazah korban kebakaran hotel dilakukan lima belas tahun lalu tampak angkuh dan dingin. Gedung itu sudah direnovasi berkali-kali, namun bagi Mateo, tembok-temboknya masih menyisakan bau anyir darah dan keputusasaan.Ia telah menghabiskan dua hari terakhir dengan berpura-pura menjadi mahasiswa hukum yang sedang meneliti kasus kebakaran bersejarah, sebuah alibi yang ia gunakan untuk mendekati staf kearsipan. Namun, keberuntungan sepertinya sedang berpihak padanya.Di lorong arsip yang pengap, ia bertemu dengan seorang perawat muda bernama Hana. Saat Mateo menyebutkan nama "Lee Soman", mata Hana sedikit menyipit."Kenapa kau mencari berkas Lee Soman?" tanya Hana, suaranya sarat dengan kecurigaan. "Kasus itu sudah ditutup lima belas tahun lalu. Tidak ada lagi yang berani mengungkitnya. Apalagi b
Jae Won menoleh sesaat, namun pandangannya sengaja dialihkan dari Annora. Ia hanya mengangkat alisnya ke arah Mateo, memberi kode bahwa subjek di depan mereka adalah barang yang dijanjikannya.Mateo seketika bersiul nyaring, matanya berbinar lapar saat menatap siluet tubuh Annora yang dibalut gaun
Langkah-langkah berat bersenjata yang semula dikira sebagai ancaman kudeta atau serangan mendadak, rupanya hanyalah bagian dari protokoler berlebihan yang melekat pada sosok Mateo. Pria itu melangkah masuk ke dalam kediaman megah Lee Jae Won dengan tawa renyah yang menggema di langit-langit koridor
Pagi itu, Lee Jae Won telah rapi dengan kemeja biru muda yang melekat sempurna di tubuh kekarnya. Aroma parfum kayu cendana yang elegan menguar, memenuhi setiap sudut kamar yang luas dan minimalis. Alunan musik beat bertempo sedang mengiringi aktivitasnya, menandakan suasana hati pria itu sedang
Pagi masih buta ketika Robert melangkah masuk ke dalam kamar pengap tempat Annora disekap. Suasana di dalam ruangan itu kacau. Annora, dengan sisa tenaga yang ia miliki, terus memberontak. Teriakan minta tolongnya menggema, memantul di dinding-dinding marmer rumah mewah itu. Robert mendecit panik;












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.