Share

Bangkitnya Pendekar Petir
Bangkitnya Pendekar Petir
Author: Martimbul siregar

Bab 1

last update publish date: 2026-07-04 21:26:47

"Hei anak tanpa ayah, pergi kau dari sini!" usir beberapa anak dengan pakaian mewah, pada seorang anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun.

Darah anak kecil itu mendidih karena cacian dan hinaan itu. Dia tak bisa untuk diam, tapi dia tak bisa berbuat apapun.

Anak kecil itu berbalik dengan wajah yang sendu, matanya berkaca-kaca, karena ucapan yang tak bisa diterima anak sekecil dirinya.

Bukkkkkk!!

Baru saja dia berbalik, satu tendangan keras hantam punggungnya, tendangan yang membuat tubuh anak kecil itu terjerembab jatuh dengan wajah yang mencium tanah.

"Hahaha, dasar bodoh!" teriak anak-anak yang tertawa karena menjatuhkan anak kecil itu.

Tidak hanya itu, tanpa peduli akan kondisi anak kurus itu, mereka masih lanjutkan dengan memukuli dan menendang tubuh kurus anak kecil berpakain hijau penuh tambalan.

"Ampun! Ampun!" teriak anak kecil itu sambil menutupi wajahnya sendiri.

Meksipun sudah menutupinya, tapi beberapa pukulan masih tetap menghancurkan wajahnya.

"Tinggalkan dia, dasar tak berguna. Selamanya kau akan jadi sampah!" ucap mereka pada anak kecil itu.

Bahkan tanpa sedikitpun rasa kasihan, mereka meludahi tubuh anak kecil itu dan tinggalkan dengan tubuh yang penuh dengan luka.

Begitu beberapa anak itu pergi, anak kecil itu menangis terisak-isak, tubuhnya sampai gemetaran karena tangisan yang tak tertahan.

"Apa salahku? Kenapa aku tak memiliki ayah?" teriak anak kecil itu.

Dia bangkit, dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, anak kecil itu berlari cepat menuju rumahnya, rumah yang lebih layak disebut gubuk.

"Aku pulang!" kata anak kecil itu dengan langkah yang tertatih-tatih.

"Panji! Apa yang terjadi denganmu?" teriak orang yang ada di dalam rumah kecil itu.

"Mereka kembali memukuli diriku, kek!" jawab Panji dengan mata yang berlinangan air mata.

Lelaki itu, dia tak lain adalah tabib Sagara, dia juga tak tahu harus bagaimana untuk menghidarkan Panji dari pukulan anak-anak kaya di kota itu.

"Kuatkan dirimu, Panji!" kata tabib Sagara dan menarik Panji ke dalam pelukannya.

Panji, anak kecil yang dia tolong, ditolong saat melahirkan, tapi sayangnya ayah dan ibunya tewas saat Panji belum berumur satu hari.

"Kakek!" jerit Panji.

Tangisan anak kecil itu meledak di pelukan tabib Sagara. Dia tak mungkin bertahan, karena bagaimanapun juga dia masih anak kecil yang tak tahu apa-apa.

Tabib Sagara hanya bisa memberikan pelukan hangat ke tubuh Panji. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan perasaan pilu yang menguasai tubuh Panji.

"Bersihkan tubuhmu, setelah itu kakek akan obati lukamu!" kata tabib Sagara setelah merasa keadaan Panji sudah jauh lebih baik.

"Baik, kakek!" jawab Panji tanpa sedikitpun bantah perintah dari tabib Sagara.

"Hhmmm!"

Tabib Sagara hanya bisa menarik napas yang dalam. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena dia pun hanya orang miskin di kota itu.

Sejak Panji bersama dengan dirinya, awalnya bukan hanya dia yang merawat Panji, tapi ada nyai Litak yang menjaga Panji.

Tapi, nyai Litak meninggal dunia saat Panji masih berusia lima tahun. Hingga sejak saat itu, hanya tabib Sagara yang menjaga dan merawat Panji.

Hidup tabib Sagara memang tak jauh dari kata miskin. Dia memang tabib, tapi dia bukan tabib yang terkenal. Bahkan banyak yang anggap dia hanya tabib gadungan.  Sehingga itu membuat banyak orang yang memilih untuk tak berobat padanya.

Sejak usia sembilan tahun, Panji mulai berkeliaran di kota itu. Kota Melati yang indah.

Tapi, sejak saat itu, di hari pertama, Panji juga sudah merasakan perundungan dari anak-anak seusianya.

Hal itu karena hidup Panji yang miskin, yatim piatu, dan tak memiliki pendukung. Itu semakin membuat Panji tak bisa lepas dari perundungan yang dia dapatkan dari anak-anak orang kaya di kota Melati itu.

Begitu selesai bersihkan tubuhnya, Panji mendekat ke arah tabib Sagara.

"Lukamu tak terlalu parah, dalam satu atau dua hari ini, lukamu akan menghilang!" kata tabib Sagara sambil mengoleskan salep ke luka Panji.

"Aduh, kakek, ini sangat perih!" teriak Panji.

"Jangan cengeng, apa kau ingin luka ini bengkak dan kau demam?"

"Tidak, kakek. Tapi ini memang sangat sakit!" teriak Panji.

"Kau adalah pemuda yang kuat, jangan anggap luka ini akan membuat kau kesakitan! Ingat, tidak ada rasa sakit!" bentak tabib Sagara.

Panji sampai mengigit kuat giginya sendiri hanya karena tak mampu menahan rasa perih karena obat tabib sagara.

"Jika kau bertemu lagi dengan mereka, sebaiknya kau lari, Panji!"

"Aku sudah berusaha kakek, tapi mereka jauh lebih cepat dari Panji. Aku juga bingung kenapa mereka lebih cepat dari pada Panji?"

Tabib Sagara tak menjawab, dia tahu, kalau anak-anak yang mengganggu Panji adalah murid sebuah perguruan, sudah jelas mereka jauh lebih cepat dari pada Panji.

"Kakek, jika mereka masih melakukan itu, Panji akan melawan mereka!"

"Jangan!" bentak tabib Sagara dengan suara keras.

"Kenapa kakek? Panji tak ingin diam saja. Mereka juga harus merasakan rasa sakit Panji!"

"Itu hanya akan membahayakan hidupmu, Panji. Apakah kau tak sadar kalau mereka orang-orang kaya di kota ini. Jika kau lakukan itu, bukan hanya dirimu, tapi kakek juga akan menderita!"

Panji tak bisa lagi menjawab, dia hanya bisa menahan diri. Tapi sampai kapan dia akan diam untuk tak melawan.

"Kakek, kemana ayah, Panji?" tanya bocah polos itu tiba-tiba.

Amarah di wajah tabib Sagara hilang seketika, dia menatap Panji, dan tak tahu harus jawab apa.

Pertanyaan itu sudah berkali-kali Panji tanyakan, tapi hingga saat ini, tabib Sagara tak pernah menjawab pertanyaan itu.

"Kenapa kakek diam?" tanya Panji.

"Belum saatnya kau tahu tentang ayahmu, Panji!" kata tabib sagara.

"Kenapa kakek? Sampai kapan?"

"Tunggu saat usiamu sudah matang, baru kakek beritahu siapa ayahmu!" jawab tabib Sagara.

Tabib itu sudah tahu siapa ayah Panji, dan selama ini dia menutupi siapa identitas ayah Panji, karena dia sadari satu hal.

Ayah Panji bukan dari golongan yang lurus, dan jika Panji tahu tentang hal itu, pasti anak kecil itu akan lebih tertekan lagi.

"Kapan kakek, kapan?" desak Panji pada tabib Sagara.

"Tunggu saja, pasti akan kakek katakan!"

"Tapi Panji ingin tahu kakek, Panji sangat ingin tahu!" kata anak kecil itu.

Tabib Sagara hanya menunduk, rasanya berat untuk menceritakan semuanya pada Panji. Sesuatu yang sudah disembunyikannya cukup lama. 

Ayah Panji sebenarnya sudah tewas dibunuh oleh seseorang, namun tabib itu memilih untuk menutupinya sampai Panji pantas untuk mengetahui cerita yang sebenarnya. 

Brakkkkkkk!

Saat kebingungan melanda tabib Sagara, pintu gubuk mereka di dorong, dan dua orang masuk ke dalam rumah itu.

"Apakah kau seorang tabib?" tanya salah satu dari dua orang itu.

"Iya, aku dulu seorang tabib!" jawab tabib Sagara.

"Tolong bantu saudaraku ini, dia keracunan!"

"Racun? Apakah itu racun yang berat?" tanya tabib Sagara.

"Periksa saja bodoh! Jangan banyak tanya. Jika aku tahu, aku tak akan akan bawa dia padamu!" bentak orang yang baru datang itu.

"Ba ... Baik!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 42

    Panji membuka matanya saat pagi datang, dan dia merasakan ada perubahan yang nyata pada tubuhnya.Tubuhnya kini jauh lebih kokoh, dan otot tubuhnya semakin terlihat nyata, itu karena peningkatan kualitas tulang Panji yang tak Panji sangka.Awalnya Panji kecewa karena dia tak berhasil menerobos naik ke tulang serigala perak, tapi nyata ia mampu.Bammmmmmm!!Panji memukul sebatang pohon untuk mencoba kualitas tulang serigala perak yang kini ia miliki.Brakkk!Pohon itu langsung remuk padahal Panji hanya gunakan kekuatan fisik saja."Luar biasa!" ucap Panji.Kualitas tulang Panji meskipun berada di tahap tulang serigala perak, tapi itu sudah setingkat dengan tulang harimau muda.Itu dikarenakan Panji melatih tulangnya dengan latihan yang keras. Dan latihan keras itu juga berpengaruh pada kekuatan fisik panji.Banyak pendekar yang mengejar kualitas tulang tanpa memperdulikan kualitas fisik, dia memang berhasil, tapi hanya tulang yang meningkat, tidak dengan kekuatan fisik.Kebanyakan oran

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 41

    "Kenapa? Apa putriku kurang cantik?" tanya Ki Ireng yang membuat kepala Panji terasa sakit.Panji merasa bingung, dia masih berusia dua belas tahun, tapi sudah dijodohkan dengan seorang anak gadis yang akan dewasa. Ranti dengan usia lima belas tahun."Hahaha, kau tak usah pikirkan soal itu Panji, aku hanya berharap kau yang akan jadi pendamping putriku di masa depan!" kata Ki Ireng tertawa keras.Ki Ireng tak ingin membuat Panji lebih bingung, hingga dia memutuskan untuk tak lanjutkan pembicaraan itu."Aku masih dua belas tahun paman, dan paman sudah katakan tentang menantu padaku, apakah aku pantas?" kata Panji."Kau yang pantas, dan memang hanya dirimu!" kata Ki Ireng.Panji tak lagi menjawab, tapi memilih untuk diam karena jika diladeni maka pembicaraan itu akan semakin panjang.Bertepatan pula Ranti datang dan masuk ke dalam kamar itu. Hingga Panji selamat dari pembicaraan itu."Ranti, Panji mungkin akan ada di perguruan ini satu minggu ke depan, jadi ada baiknya kau siapkan kamar

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 40

    Saat pagi datang, guru Sahdan dan tiga muridnya dengan berat hati meninggalkan Panji di perguruan Loreng merah."Jika dia sudah baikan, aku harap dia datang ke kota Malengka, mungkin dia akan kami butuhkan!" kata guru Sahdan."Aku akan coba bantu dia!" kata Ki Ireng.Ki Ireng melepas mereka pergi, dan setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya. Dia memeriksa lagi kondisi Panji."Aku sudah meninggalkan penghalang di tubuh Panji. Apa penghalang itu tak berguna?" ucap Ki Ireng.Dia mendekteksi penghalang itu, dan penghalang itu masih di tubuh Panji. Tapi penghalang itu tak bereaksi padahal nyawa Panji dalam keadaan yang kritis."Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Panji!" kata Ki Ireng.Haaaaaaaaaaa!!Dia menekan tubuh Panji dengan tenaga dalam, dan mencoba menemukan apa yang disembunyikan oleh tubuh Panji."Ini?" ucapnya saat merasakan inti tenaga Panji.Wajahnya sangat kaget, dia tak percaya kalau Panji memiliki tenaga dalam yang tersimpan di inti tenaga dalam, dan itu bukan tenaga d

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 39

    "Panji! Panji!" teriak guru Sahdan saat melihat Panji yang sudah tak sadarkan diri.Dia segera membawa Panji ke atas punggungnya, dan berlari cepat menuju kota yang sudah tak jauh dari tepian sungai itu.Pradana, dan dua saudara seperguruan Panji ikut di belakang guru Sahdan, mereka berusaha keras untuk ikuti langkah lari guru Sahdan yang berlari bagaikan kesetanan."Tabib! Tabib!" teriak guru Sahdan saat sampai di sebuah balai pengobatan."Ada apa ini?" tanya tabib yang bertugas di balai pengobatan itu."Tolong selamatkan muridku, dia terluka parah!" kata guru Sahdan dengan suara yang ketakutan."Letakkan dia di atas meja itu!" kata tabib itu.Guru Sahdan lakukan itu, dan dia terus menatap wajah Panji yang mulai pucat karena kehabisan banyak darah."Apa yang terjadi pada muridmu?" tanya tabib itu saat melihat luka di bagian dada Panji mulai membiru."Dia dilukai oleh siluman sungai!" jawab guru Sahdan.Tranggggg!!Alat-alat pengobatan yang ada di tangan tabib itu jatuh. Dia tak perca

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 38

    Keadaan jauh lebih tenang setelah guru Sahdan katakan hal itu, baik Pradana maupun Mutia memilih untuk diam, dan pada akhirnya mereka memilih untuk lanjutkan perjalanan."Guru, berapa lama agar kita sampai di kota Malengka?" tanya Panji ingin tahu.Pertanyaan Panji itu juga agar membuat suasana kembali cair, dan tidak ada lagi yang diam di perjalanan itu.Padahal sebelum Panji bicara, mereka semua memilih diam dan tak ada yang bicara, mereka diam dan memilih diam, tanpa suara."Jika tidak ada halangan, purnama depan kita akan sampai Panji!" kata guru Sahdan."Ternyata begitu ya, cukup jauh juga ya guru!" kata Panji."Iya, itulah mengapa kita harus tiba secepatnya, karena turnamen pendekar muda itu akan diadakan satu setengah purnama lagi!""Waktu kita tak banyak!""Iya!"Mutia, dan saudara seperguruan Panji hanya dengarkan sambil jalan, dan tahu kalau sesungguhnya waktu mereka cukup terdesak."Jika waktu cukup terdesak, kenapa kita tak buru-buru berangkat guru? Maksudku, kenapa baru s

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 37

    Panji datang dengan membawa kayu bakar yang cukup banyak, dan itu dibawa di pundak Panji. Dan meskipun banyak Panji tak sedikitpun merasa berat."Ini kayu yang kalian minta!" kata Panji.Tapi pandangan mereka bukan pada kayu bakar yang Panji bawa, tapi sesuatu yang ada di tangan kiri Panji."Apa itu Panji?" tanya Mutia dengan mulut yang sudah ngiler melihat itu."Ini ayam yang aku tangkap di hutan, dan mungkin kita akan makan ini!" kata Panji."Aku memiliki makanan sendiri!" kata Pradana."Aku tak minta kau untuk makan ini, tapi jika kau mau, kau boleh ambil!" kata Panji."Sudah, hidupkan saja apinya!" kata Pradana memberikan perintah pada Panji."Baik!" kata Panji.Dengan bantuan dari Sahita, api unggun sudah menyala, dan itu menerangi mereka di pinggiran hutan itu.Mutia sangat antusias saat melihat ayam yang sudah berada di atas panggangan, dan air liurnya sudah berkali-kali jatuh, karena dia memang sangat ingin mencoba ayam panggang itu."Apa belum matang?" tanya Mutia."Tunggu se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status