Mag-log inPanji membuka matanya saat pagi datang, dan dia merasakan ada perubahan yang nyata pada tubuhnya.Tubuhnya kini jauh lebih kokoh, dan otot tubuhnya semakin terlihat nyata, itu karena peningkatan kualitas tulang Panji yang tak Panji sangka.Awalnya Panji kecewa karena dia tak berhasil menerobos naik ke tulang serigala perak, tapi nyata ia mampu.Bammmmmmm!!Panji memukul sebatang pohon untuk mencoba kualitas tulang serigala perak yang kini ia miliki.Brakkk!Pohon itu langsung remuk padahal Panji hanya gunakan kekuatan fisik saja."Luar biasa!" ucap Panji.Kualitas tulang Panji meskipun berada di tahap tulang serigala perak, tapi itu sudah setingkat dengan tulang harimau muda.Itu dikarenakan Panji melatih tulangnya dengan latihan yang keras. Dan latihan keras itu juga berpengaruh pada kekuatan fisik panji.Banyak pendekar yang mengejar kualitas tulang tanpa memperdulikan kualitas fisik, dia memang berhasil, tapi hanya tulang yang meningkat, tidak dengan kekuatan fisik.Kebanyakan oran
"Kenapa? Apa putriku kurang cantik?" tanya Ki Ireng yang membuat kepala Panji terasa sakit.Panji merasa bingung, dia masih berusia dua belas tahun, tapi sudah dijodohkan dengan seorang anak gadis yang akan dewasa. Ranti dengan usia lima belas tahun."Hahaha, kau tak usah pikirkan soal itu Panji, aku hanya berharap kau yang akan jadi pendamping putriku di masa depan!" kata Ki Ireng tertawa keras.Ki Ireng tak ingin membuat Panji lebih bingung, hingga dia memutuskan untuk tak lanjutkan pembicaraan itu."Aku masih dua belas tahun paman, dan paman sudah katakan tentang menantu padaku, apakah aku pantas?" kata Panji."Kau yang pantas, dan memang hanya dirimu!" kata Ki Ireng.Panji tak lagi menjawab, tapi memilih untuk diam karena jika diladeni maka pembicaraan itu akan semakin panjang.Bertepatan pula Ranti datang dan masuk ke dalam kamar itu. Hingga Panji selamat dari pembicaraan itu."Ranti, Panji mungkin akan ada di perguruan ini satu minggu ke depan, jadi ada baiknya kau siapkan kamar
Saat pagi datang, guru Sahdan dan tiga muridnya dengan berat hati meninggalkan Panji di perguruan Loreng merah."Jika dia sudah baikan, aku harap dia datang ke kota Malengka, mungkin dia akan kami butuhkan!" kata guru Sahdan."Aku akan coba bantu dia!" kata Ki Ireng.Ki Ireng melepas mereka pergi, dan setelah itu ia masuk ke dalam kamarnya. Dia memeriksa lagi kondisi Panji."Aku sudah meninggalkan penghalang di tubuh Panji. Apa penghalang itu tak berguna?" ucap Ki Ireng.Dia mendekteksi penghalang itu, dan penghalang itu masih di tubuh Panji. Tapi penghalang itu tak bereaksi padahal nyawa Panji dalam keadaan yang kritis."Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Panji!" kata Ki Ireng.Haaaaaaaaaaa!!Dia menekan tubuh Panji dengan tenaga dalam, dan mencoba menemukan apa yang disembunyikan oleh tubuh Panji."Ini?" ucapnya saat merasakan inti tenaga Panji.Wajahnya sangat kaget, dia tak percaya kalau Panji memiliki tenaga dalam yang tersimpan di inti tenaga dalam, dan itu bukan tenaga d
"Panji! Panji!" teriak guru Sahdan saat melihat Panji yang sudah tak sadarkan diri.Dia segera membawa Panji ke atas punggungnya, dan berlari cepat menuju kota yang sudah tak jauh dari tepian sungai itu.Pradana, dan dua saudara seperguruan Panji ikut di belakang guru Sahdan, mereka berusaha keras untuk ikuti langkah lari guru Sahdan yang berlari bagaikan kesetanan."Tabib! Tabib!" teriak guru Sahdan saat sampai di sebuah balai pengobatan."Ada apa ini?" tanya tabib yang bertugas di balai pengobatan itu."Tolong selamatkan muridku, dia terluka parah!" kata guru Sahdan dengan suara yang ketakutan."Letakkan dia di atas meja itu!" kata tabib itu.Guru Sahdan lakukan itu, dan dia terus menatap wajah Panji yang mulai pucat karena kehabisan banyak darah."Apa yang terjadi pada muridmu?" tanya tabib itu saat melihat luka di bagian dada Panji mulai membiru."Dia dilukai oleh siluman sungai!" jawab guru Sahdan.Tranggggg!!Alat-alat pengobatan yang ada di tangan tabib itu jatuh. Dia tak perca
Keadaan jauh lebih tenang setelah guru Sahdan katakan hal itu, baik Pradana maupun Mutia memilih untuk diam, dan pada akhirnya mereka memilih untuk lanjutkan perjalanan."Guru, berapa lama agar kita sampai di kota Malengka?" tanya Panji ingin tahu.Pertanyaan Panji itu juga agar membuat suasana kembali cair, dan tidak ada lagi yang diam di perjalanan itu.Padahal sebelum Panji bicara, mereka semua memilih diam dan tak ada yang bicara, mereka diam dan memilih diam, tanpa suara."Jika tidak ada halangan, purnama depan kita akan sampai Panji!" kata guru Sahdan."Ternyata begitu ya, cukup jauh juga ya guru!" kata Panji."Iya, itulah mengapa kita harus tiba secepatnya, karena turnamen pendekar muda itu akan diadakan satu setengah purnama lagi!""Waktu kita tak banyak!""Iya!"Mutia, dan saudara seperguruan Panji hanya dengarkan sambil jalan, dan tahu kalau sesungguhnya waktu mereka cukup terdesak."Jika waktu cukup terdesak, kenapa kita tak buru-buru berangkat guru? Maksudku, kenapa baru s
Panji datang dengan membawa kayu bakar yang cukup banyak, dan itu dibawa di pundak Panji. Dan meskipun banyak Panji tak sedikitpun merasa berat."Ini kayu yang kalian minta!" kata Panji.Tapi pandangan mereka bukan pada kayu bakar yang Panji bawa, tapi sesuatu yang ada di tangan kiri Panji."Apa itu Panji?" tanya Mutia dengan mulut yang sudah ngiler melihat itu."Ini ayam yang aku tangkap di hutan, dan mungkin kita akan makan ini!" kata Panji."Aku memiliki makanan sendiri!" kata Pradana."Aku tak minta kau untuk makan ini, tapi jika kau mau, kau boleh ambil!" kata Panji."Sudah, hidupkan saja apinya!" kata Pradana memberikan perintah pada Panji."Baik!" kata Panji.Dengan bantuan dari Sahita, api unggun sudah menyala, dan itu menerangi mereka di pinggiran hutan itu.Mutia sangat antusias saat melihat ayam yang sudah berada di atas panggangan, dan air liurnya sudah berkali-kali jatuh, karena dia memang sangat ingin mencoba ayam panggang itu."Apa belum matang?" tanya Mutia."Tunggu se







