MasukDi saat yang sama, suara MC menggema memenuhi ballroom.
"Selamat malam Bapak, Ibu, serta para tamu undangan yang kami hormati. Kami persilakan untuk segera menempati tempat duduk masing-masing karena acara akan segera dimulai."Reynald melirik ke arah panggung, lalu kembali menatap Vino dan Bita. "Ayo." Ia menganggukkan kepala ke arah salah satu meja. "Acara mau mulai."Bita ikut melangkah di samping Vino. Begitu tiba di meja Reynald, ia langsung menarik kursi di se"Soalnya kalau kamu nggak bantu bantah, sampai kapan pun mereka bakal ngejodoh-jodohin kita." Bita tersenyum canggung. "Kan kamu juga tahu, aku cuma mau temenan sama kamu." Keheningan singkat menyelimuti lift. Bita sempat melihat senyum di wajah Fero perlahan memudar. Hanya sesaat. Setelah itu, Fero kembali mengulas senyum yang sama hangatnya seperti biasa. Fero mengangguk pelan. "Bisa, Kak. Tenang aja." Ding. Pintu lift terbuka. Keduanya melangkah menuju restoran hotel. Setelah mengambil makanan dari deretan buffet, Bita dan Fero berjalan ke arah meja panjang dekat jendela yang sudah ditempati kedua keluarga mereka. Papa dan Mama Bita duduk berdampingan di satu sisi, sementara keluarga Fero memenuhi sisi lainnya. Begitu melihat keduanya datang, beberapa pasang mata langsung beralih ke arah mereka. "Duh... pengantin baru kita udah datang, nih." Celetukan salah satu kera
"Cepetan bangun. Katanya mau seneng-seneng? Apaan, matahari udah setinggi ini masih aja di kasur?" ejek Vino dari seberang telepon. Bita mengerang pelan. "Rese banget! Kamu juga biasanya jam segini masih molor!" protesnya. Gadis itu bahkan masih bergelung di bawah selimut ketika panggilan Vino masuk. Matanya masih setengah terbuka, suaranya pun masih terdengar berat karena kantuk. "Yang penting sekarang gue udah bangun. Nggak kayak lo. Molor!" Terdengar tawa kecil dari seberang. Gih, sana sarapan." "Emang kamu udah sarapan?" "Udah lah. Gue sarapan nasi goreng buatan Mami." Bita langsung mencebik. "Pasti enak banget. Udah lama aku nggak nyobain nasi goreng buatan Mami. Pasti bawang gorengnya banyak terus dikasih sosis juga." "Ditambah pakai telur mata sapi," tambah Vino santai. "Tuh, kan!" Bita makin mengerucutkan bibirnya. "Pengen juga aku. Kenapa sih belum ada ala
Vino mengernyit tajam. "Ngapain lo ke sini?"Sasha memang sudah menduga kedatangannya yang mendadak akan membuat Vino heran. Namun, ia tak menyangka sambutannya sedingin ini.Bukannya terdengar terkejut, Vino justru seperti tidak senang melihatnya datang. Sasha sampai terdiam beberapa saat."Siapa, Vin? Beneran, Bita?" Clara yang penasaran segera menghampiri pintu, lalu menggeser pelan tubuh Vino yang masih berdiri di ambang.Namun begitu melihat sosok di depannya, wanita itu sempat terdiam beberapa detik. Barulah senyum hangat perlahan terbit di wajahnya."Kamu temannya Bita, ya?" tanya Clara ramah. "Tante pernah lihat kamu main ke rumahnya soalnya."Sasha buru-buru membalas senyum itu lalu mengulurkan tangannya. "Iya, Tante.""Kamu...""Sasha, Tante.""Oh, iya. Sasha." Clara mengangguk ramah. "Kamu mau ke rumah Bita? Kayaknya Bita batal pulang hari ini. Belum dikabarin?"Sasha tersenyum tipis
Malam kedua. Tak banyak yang berubah. Telepon dari Bita kembali datang seperti biasa. Lagi-lagi gadis itu mengeluhkan bagaimana keluarga Fero seolah tak pernah kehabisan cara untuk mendekatkannya dengan Fero. Meski laki-laki itu lebih sering mengikuti Om Bram dan kakeknya ke proyek, para perempuan di keluarga itu selalu saja punya alasan untuk meninggalkan mereka berdua. Malam ketiga pun demikian. Bita masih mengomel tentang hal yang sama. Bedanya, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih lelah daripada kesal. Sementara Vino, masih setia mendengarkan semua keluhannya sambil diam-diam menghitung hari. Satu hari lagi menuju kepulangan Bita. Hari keempat akhirnya tiba. Malam ini, Vino berharap mendengar suara gadis itu yang akhirnya kembali ceria membicarakan kepulangannya besok. Namun, begitu panggilan tersambung, harapan itu langsung pupus. "Vin..." Suara Bita malam ini terdengar jauh lebih pelan. "Kayaknya aku nggak jadi
Vino merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memutar-mutar ponsel di telapak tangannya. Sejak siang tadi, sebenarnya ia dan Bita masih sempat bertukar pesan. Namun hanya sesekali. Balasan dari Bita pun selalu singkat. Kadang baru muncul belasan menit kemudian. Kadang hampir setengah jam. Alasan yang diberikan pun tak jauh-jauh dari kesibukannya hari itu. 'Bentar ya.' 'Lagi makan.' 'Baru sampai hotel.' 'Tadi disuruh foto-foto dulu.' Tidak ada yang aneh. Vino tahu Bita memang sedang berlibur. Pasti banyak kegiatan yang harus diikuti. Banyak orang yang mengajaknya mengobrol. Banyak tempat yang harus didatangi. Meski begitu, entah kenapa, rasanya tetap berbeda. Kamarnya terasa lebih sunyi. Balkon di seberang juga gelap. Tak ada lagi sosok yang mondar-mandir di kamar seberang. Tak ada lagi perempuan yang diam-diam sering ia pandangi dari balik kamarnya.
"Kak Bita!" Suara Fero terdengar dari arah deretan kursi ruang tunggu. Bita mendongak mendapati keluarga Fero ternyata sudah lebih dulu tiba dan sedang menunggu di depan gate keberangkatan. Bukan hanya keluarga inti Fero yang ada di sana. Kakeknya juga ikut hadir, begitu pula beberapa anggota keluarga besar yang sempat duduk semeja dengannya di ruang VIP malam itu. Melihat mereka berkumpul sebanyak itu, langkah Bita seketika terasa semakin berat. Di sisi lain, Anggun sudah lebih dulu berjalan menghampiri Tante Fiona yang duduk di kursi roda. "Nah, akhirnya datang juga!" sambut Tante Fiona dengan senyum lebar. Sementara kedua ibu itu mulai mengobrol hangat, Fero sudah lebih dulu menghampiri Bita. "Biar aku aja, Kak." Tanpa menunggu jawaban, Fero mengambil gagang koper dari tangan Bita. Bita sempat ingin menolak. Namun melihat Fero yang sudah lebih dulu menarik koper
"Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be
Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal
"Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu
"Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa







