Share

Bab 65

Penulis: macaroonie
last update Tanggal publikasi: 2026-06-16 15:55:01
Vino memberhentikan motornya di deretan ruko dekat kampus yang menjual helm, jas hujan, sarung tangan, dan aksesoris motor. Ditolehkan kepalanya sedikit ke belakang. "Turun."

Bita terbengong diatas motor dengan pandangan menyapu ruko.

Hari sudah beranjak sore. Jam-jam sibuk mahasiswa pulang kuliah hampir lewat sehingga kawasan pertokoan itu tidak seramai biasanya. Hanya ada beberapa motor terparkir di depan ruko dan satu mobil yang menempati sudut parkiran.

Pintu toko terbuka lebar memperl
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Culuu Culkeng
hmm curiga sm fero
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 166

    Vino merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memutar-mutar ponsel di telapak tangannya. Sejak siang tadi, sebenarnya ia dan Bita masih sempat bertukar pesan. Namun hanya sesekali. Balasan dari Bita pun selalu singkat. Kadang baru muncul belasan menit kemudian. Kadang hampir setengah jam. Alasan yang diberikan pun tak jauh-jauh dari kesibukannya hari itu. 'Bentar ya.' 'Lagi makan.' 'Baru sampai hotel.' 'Tadi disuruh foto-foto dulu.' Tidak ada yang aneh. Vino tahu Bita memang sedang berlibur. Pasti banyak kegiatan yang harus diikuti. Banyak orang yang mengajaknya mengobrol. Banyak tempat yang harus didatangi. Meski begitu, entah kenapa, rasanya tetap berbeda. Kamarnya terasa lebih sunyi. Balkon di seberang juga gelap. Tak ada lagi sosok yang mondar-mandir di kamar seberang. Tak ada lagi perempuan yang diam-diam sering ia pandangi dari balik kamarnya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 165

    "Kak Bita!" Suara Fero terdengar dari arah deretan kursi ruang tunggu. Bita mendongak mendapati keluarga Fero ternyata sudah lebih dulu tiba dan sedang menunggu di depan gate keberangkatan. Bukan hanya keluarga inti Fero yang ada di sana. Kakeknya juga ikut hadir, begitu pula beberapa anggota keluarga besar yang sempat duduk semeja dengannya di ruang VIP malam itu. Melihat mereka berkumpul sebanyak itu, langkah Bita seketika terasa semakin berat. Di sisi lain, Anggun sudah lebih dulu berjalan menghampiri Tante Fiona yang duduk di kursi roda. "Nah, akhirnya datang juga!" sambut Tante Fiona dengan senyum lebar. Sementara kedua ibu itu mulai mengobrol hangat, Fero sudah lebih dulu menghampiri Bita. "Biar aku aja, Kak." Tanpa menunggu jawaban, Fero mengambil gagang koper dari tangan Bita. Bita sempat ingin menolak. Namun melihat Fero yang sudah lebih dulu menarik koper

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 164

    Pada akhirnya, hari yang paling tidak dinantikan Bita pun tiba.Semalaman Bita sudah berusaha membangun kembali semangatnya. Namun begitu menyeret koper keluar rumah, seluruh antusiasme yang susah payah ia kumpulkan semalam seolah lenyap begitu saja mendapati di pekarangan rumah seberang, Mami dan Vino tampak sedang berkebun bersama."Ada apa nih?" seru Mami begitu melihat beberapa koper mulai dimasukkan ke bagasi mobil. Wanita itu segera menghampiri pagar yang membatasi kedua rumah mereka. "Kok bawa koper banyak banget? Mau liburan, ya?"Anggun yang sedang memastikan tak ada barang yang tertinggal langsung menoleh sambil tersenyum. "Iya. Mau liburan ke Bali. Sekalian Papa Bita mau ngecek proyeknya di sana."Mami langsung memasang wajah merajuk. "Kok nggak ngajak-ngajak aku sih, Nggun? Aku juga pengen ke Bali. Udah kangen pantainya."Anggun terkekeh kecil. "Ini aja keluarga kami diajak sama koleganya Mas Bram. Dari tempat nginep sampai ak

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 163

    Tiga minggu kemudian, sehari sebelum keberangkatan ke Bali, Anggun tampak mondar-mandir di kamar Bita sambil mengeluarkan beberapa potong pakaian dari dalam lemari."Yang ini jangan dibawa. Bahannya tebel, nanti kepanasan di Bali." Anggun kembali membuka lemari, mengambil beberapa pakaian lain, lalu meletakkannya di atas kasur yang kini hampir penuh.Sementara itu, Bita hanya duduk bersila di lantai sambil melipat pakaian yang sudah dipilih ibunya. "Ma...""Hm?""Ini kan cuma empat hari. Kok bajunya kayak mau pindahan begini, sih?"Anggun mendelik. "Namanya juga liburan. Siapa tahu nanti pengen ganti baju dua kali sehari."Bita hanya mendesah pasrah dan melanjutkan melipat bajunya dengan tak semangat.Anggun bergerak memeriksa isi koper. "Obat udah. Sandal udah. Sunscreen udah. Topi...Eh, topi mana topinya?"Bita menunjuk gantungan di balik pintu. "Tuh."Begitu melihat topi itu masih tergantung, Anggun

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 162

    "Bita!" Bita sempat berencana mengunjungi rumah Sasha sore nanti. Namun ternyata, gadis itu lebih dulu muncul di depan pintu rumahnya, tepat setelah makan siang. Bita sempat tertegun sesaat sebelum mempersilahkannya masuk. Setelah berbincang sebentar dengan Anggun, Sasha pun mengikuti Bita menuju kamar. "Apa nggak bosen, Ta? Liburan cuma di rumah terus?" tanya Sasha sambil melirik ke sekeliling kamar sebelum menjatuhkan diri di atas ranjang. "Harusnya sih udah liburan ke Puncak." Bita menyenggol pelan lengan sahabatnya. "Tapi ada orang yang batal ngajakin." Sasha langsung meringis bersalah. "Maaf, Ta. Habisnya Mama kamu nggak ngebolehin karena kaki kamu kan baru aja dilepas perbannya kemarin." Bita tersenyum kecil. "Iya, nggak apa-apa. Aku cuma bercanda." Ia ikut naik ke atas ranjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Lagian aku juga udah ada agenda liburan, kok."

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 161

    Vino baru saja membuka kabinet dapur dan mengeluarkan toples kopi hitam ketika suara langkah kaki disertai ocehan Mami terdengar dari arah ruang tengah. "Makanya! Mami sampai hampir pingsan lihat anak ganteng Mami pulang-pulang mukanya babak belur. Nah, tuh dia orangnya." Vino spontan menoleh. Begitu melihat Bita ikut bersama Mami, matanya langsung membulat. Ia refleks ingin memalingkan wajahnya, namun sudah terlambat. Bita keburu melihat lebam di sudut bibirnya. Gadis itu bahkan langsung berjalan cepat menghampirinya. Raut wajahnya berubah penuh khawatir saat menatap memar yang mulai membiru di sudut bibir Vino. "Muka kamu kenapa? Kok bisa begini?" "Cuma kepentok tiang." Bita langsung mengernyit. "Nggak mungkin kepentok bisa kayak gitu." "Nah, kan!" sahut Mami dari belakang. "Mami juga bilang gitu. Itu mah jelas dipukul orang. Mana nggak mau ngaku lagi habis dari mana. Kemarin

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 2

    "Bercinta? Kamu gila?!" Vino tidak langsung menjawab. Laki-laki itu justru mengulurkan tangan, menjepit kedua pipi Bita dengan telapak tangannya yang terasa hangat. "Lo kapan gedenya, sih? Hal begini aja harus dijelasin." Bita menepis tangan Vino dengan gusar. "Nggak usah pegang-pegang!" Vino

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status