Share

Bab 83

Author: macaroonie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-25 14:48:18

Ujung ban depan motor Vino berhenti di depan garis zebra cross. Diikuti Honda Civic milik Fero yang berhenti mulus di sisi kirinya. Sama-sama menunggu lampu lalu lintas berganti warna.

Kaca jendela yang turun setengah membuat pantulan sosok Fero yang terlihat dari kaca spion menyapa lapang pandang Bita. Dengan artian baik Fero maupun Bita mampu melihat satu sama lain.

Bita kontan memindahkan wajahnya memaling ke kanan, dan berusaha sebisa mungkin tidak terlihat dari balik helm Vino.

Dili
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 168

    Vino mengernyit tajam. "Ngapain lo ke sini?"Sasha memang sudah menduga kedatangannya yang mendadak akan membuat Vino heran. Namun, ia tak menyangka sambutannya sedingin ini.Bukannya terdengar terkejut, Vino justru seperti tidak senang melihatnya datang. Sasha sampai terdiam beberapa saat."Siapa, Vin? Beneran, Bita?" Clara yang penasaran segera menghampiri pintu, lalu menggeser pelan tubuh Vino yang masih berdiri di ambang.Namun begitu melihat sosok di depannya, wanita itu sempat terdiam beberapa detik. Barulah senyum hangat perlahan terbit di wajahnya."Kamu temannya Bita, ya?" tanya Clara ramah. "Tante pernah lihat kamu main ke rumahnya soalnya."Sasha buru-buru membalas senyum itu lalu mengulurkan tangannya. "Iya, Tante.""Kamu...""Sasha, Tante.""Oh, iya. Sasha." Clara mengangguk ramah. "Kamu mau ke rumah Bita? Kayaknya Bita batal pulang hari ini. Belum dikabarin?"Sasha tersenyum tipis

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 167

    Malam kedua. Tak banyak yang berubah. Telepon dari Bita kembali datang seperti biasa. Lagi-lagi gadis itu mengeluhkan bagaimana keluarga Fero seolah tak pernah kehabisan cara untuk mendekatkannya dengan Fero. Meski laki-laki itu lebih sering mengikuti Om Bram dan kakeknya ke proyek, para perempuan di keluarga itu selalu saja punya alasan untuk meninggalkan mereka berdua. Malam ketiga pun demikian. Bita masih mengomel tentang hal yang sama. Bedanya, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih lelah daripada kesal. Sementara Vino, masih setia mendengarkan semua keluhannya sambil diam-diam menghitung hari. Satu hari lagi menuju kepulangan Bita. Hari keempat akhirnya tiba. Malam ini, Vino berharap mendengar suara gadis itu yang akhirnya kembali ceria membicarakan kepulangannya besok. Namun, begitu panggilan tersambung, harapan itu langsung pupus. "Vin..." Suara Bita malam ini terdengar jauh lebih pelan. "Kayaknya aku nggak jadi

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 166

    Vino merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memutar-mutar ponsel di telapak tangannya. Sejak siang tadi, sebenarnya ia dan Bita masih sempat bertukar pesan. Namun hanya sesekali. Balasan dari Bita pun selalu singkat. Kadang baru muncul belasan menit kemudian. Kadang hampir setengah jam. Alasan yang diberikan pun tak jauh-jauh dari kesibukannya hari itu. 'Bentar ya.' 'Lagi makan.' 'Baru sampai hotel.' 'Tadi disuruh foto-foto dulu.' Tidak ada yang aneh. Vino tahu Bita memang sedang berlibur. Pasti banyak kegiatan yang harus diikuti. Banyak orang yang mengajaknya mengobrol. Banyak tempat yang harus didatangi. Meski begitu, entah kenapa, rasanya tetap berbeda. Kamarnya terasa lebih sunyi. Balkon di seberang juga gelap. Tak ada lagi sosok yang mondar-mandir di kamar seberang. Tak ada lagi perempuan yang diam-diam sering ia pandangi dari balik kamarnya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 165

    "Kak Bita!" Suara Fero terdengar dari arah deretan kursi ruang tunggu. Bita mendongak mendapati keluarga Fero ternyata sudah lebih dulu tiba dan sedang menunggu di depan gate keberangkatan. Bukan hanya keluarga inti Fero yang ada di sana. Kakeknya juga ikut hadir, begitu pula beberapa anggota keluarga besar yang sempat duduk semeja dengannya di ruang VIP malam itu. Melihat mereka berkumpul sebanyak itu, langkah Bita seketika terasa semakin berat. Di sisi lain, Anggun sudah lebih dulu berjalan menghampiri Tante Fiona yang duduk di kursi roda. "Nah, akhirnya datang juga!" sambut Tante Fiona dengan senyum lebar. Sementara kedua ibu itu mulai mengobrol hangat, Fero sudah lebih dulu menghampiri Bita. "Biar aku aja, Kak." Tanpa menunggu jawaban, Fero mengambil gagang koper dari tangan Bita. Bita sempat ingin menolak. Namun melihat Fero yang sudah lebih dulu menarik koper

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 164

    Pada akhirnya, hari yang paling tidak dinantikan Bita pun tiba.Semalaman Bita sudah berusaha membangun kembali semangatnya. Namun begitu menyeret koper keluar rumah, seluruh antusiasme yang susah payah ia kumpulkan semalam seolah lenyap begitu saja mendapati di pekarangan rumah seberang, Mami dan Vino tampak sedang berkebun bersama."Ada apa nih?" seru Mami begitu melihat beberapa koper mulai dimasukkan ke bagasi mobil. Wanita itu segera menghampiri pagar yang membatasi kedua rumah mereka. "Kok bawa koper banyak banget? Mau liburan, ya?"Anggun yang sedang memastikan tak ada barang yang tertinggal langsung menoleh sambil tersenyum. "Iya. Mau liburan ke Bali. Sekalian Papa Bita mau ngecek proyeknya di sana."Mami langsung memasang wajah merajuk. "Kok nggak ngajak-ngajak aku sih, Nggun? Aku juga pengen ke Bali. Udah kangen pantainya."Anggun terkekeh kecil. "Ini aja keluarga kami diajak sama koleganya Mas Bram. Dari tempat nginep sampai ak

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 163

    Tiga minggu kemudian, sehari sebelum keberangkatan ke Bali, Anggun tampak mondar-mandir di kamar Bita sambil mengeluarkan beberapa potong pakaian dari dalam lemari."Yang ini jangan dibawa. Bahannya tebel, nanti kepanasan di Bali." Anggun kembali membuka lemari, mengambil beberapa pakaian lain, lalu meletakkannya di atas kasur yang kini hampir penuh.Sementara itu, Bita hanya duduk bersila di lantai sambil melipat pakaian yang sudah dipilih ibunya. "Ma...""Hm?""Ini kan cuma empat hari. Kok bajunya kayak mau pindahan begini, sih?"Anggun mendelik. "Namanya juga liburan. Siapa tahu nanti pengen ganti baju dua kali sehari."Bita hanya mendesah pasrah dan melanjutkan melipat bajunya dengan tak semangat.Anggun bergerak memeriksa isi koper. "Obat udah. Sandal udah. Sunscreen udah. Topi...Eh, topi mana topinya?"Bita menunjuk gantungan di balik pintu. "Tuh."Begitu melihat topi itu masih tergantung, Anggun

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 3

    "Kamu ngapain?!"Saat keluar dari rumahnya, Bita dikejutkan dengan kedatangan Vino. Pasalnya pria itu tidak datang dengan motor yang biasanya mereka pakai untuk berangkat sekolah. Melainkan Toyota Sedan warna hitam yang sangat Bita kenali milik siapa terparkir didepan rumah.Vino menyandarkan pung

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status