Share

Bab 84

Author: macaroonie
last update publish date: 2026-06-25 18:11:04
"Kenapa berhenti di sini?" protes Bita saat Vino memberhentikan motornya di depan rumah gadis itu.

"Buat nurunin lo. Kan udah nyampe."

"Tapi aku pengen ke rumah kamu aja."

Vino menoleh, menegaskan dengan suaranya yang berat. "Lo pulang aja. Belajar. Katanya mau dapet nilai bagus? Gue nggak akan mencelakai Fero kalo itu yang lo takutkan."

Bita menggeleng pelan. "Aku ... kamu nggak papa?"

Alis tebal Vino tertaut tampak bingung. "Emang gue kenapa?"

Sepertinya memang benar. Vino sudah me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 167

    Malam kedua. Tak banyak yang berubah. Telepon dari Bita kembali datang seperti biasa. Lagi-lagi gadis itu mengeluhkan bagaimana keluarga Fero seolah tak pernah kehabisan cara untuk mendekatkannya dengan Fero. Meski laki-laki itu lebih sering mengikuti Om Bram dan kakeknya ke proyek, para perempuan di keluarga itu selalu saja punya alasan untuk meninggalkan mereka berdua. Malam ketiga pun demikian. Bita masih mengomel tentang hal yang sama. Bedanya, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih lelah daripada kesal. Sementara Vino, masih setia mendengarkan semua keluhannya sambil diam-diam menghitung hari. Satu hari lagi menuju kepulangan Bita. Hari keempat akhirnya tiba. Malam ini, Vino berharap mendengar suara gadis itu yang akhirnya kembali ceria membicarakan kepulangannya besok. Namun, begitu panggilan tersambung, harapan itu langsung pupus. "Vin..." Suara Bita malam ini terdengar jauh lebih pelan. "Kayaknya aku nggak jadi

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 166

    Vino merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil memutar-mutar ponsel di telapak tangannya. Sejak siang tadi, sebenarnya ia dan Bita masih sempat bertukar pesan. Namun hanya sesekali. Balasan dari Bita pun selalu singkat. Kadang baru muncul belasan menit kemudian. Kadang hampir setengah jam. Alasan yang diberikan pun tak jauh-jauh dari kesibukannya hari itu. 'Bentar ya.' 'Lagi makan.' 'Baru sampai hotel.' 'Tadi disuruh foto-foto dulu.' Tidak ada yang aneh. Vino tahu Bita memang sedang berlibur. Pasti banyak kegiatan yang harus diikuti. Banyak orang yang mengajaknya mengobrol. Banyak tempat yang harus didatangi. Meski begitu, entah kenapa, rasanya tetap berbeda. Kamarnya terasa lebih sunyi. Balkon di seberang juga gelap. Tak ada lagi sosok yang mondar-mandir di kamar seberang. Tak ada lagi perempuan yang diam-diam sering ia pandangi dari balik kamarnya.

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 165

    "Kak Bita!" Suara Fero terdengar dari arah deretan kursi ruang tunggu. Bita mendongak mendapati keluarga Fero ternyata sudah lebih dulu tiba dan sedang menunggu di depan gate keberangkatan. Bukan hanya keluarga inti Fero yang ada di sana. Kakeknya juga ikut hadir, begitu pula beberapa anggota keluarga besar yang sempat duduk semeja dengannya di ruang VIP malam itu. Melihat mereka berkumpul sebanyak itu, langkah Bita seketika terasa semakin berat. Di sisi lain, Anggun sudah lebih dulu berjalan menghampiri Tante Fiona yang duduk di kursi roda. "Nah, akhirnya datang juga!" sambut Tante Fiona dengan senyum lebar. Sementara kedua ibu itu mulai mengobrol hangat, Fero sudah lebih dulu menghampiri Bita. "Biar aku aja, Kak." Tanpa menunggu jawaban, Fero mengambil gagang koper dari tangan Bita. Bita sempat ingin menolak. Namun melihat Fero yang sudah lebih dulu menarik koper

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 164

    Pada akhirnya, hari yang paling tidak dinantikan Bita pun tiba.Semalaman Bita sudah berusaha membangun kembali semangatnya. Namun begitu menyeret koper keluar rumah, seluruh antusiasme yang susah payah ia kumpulkan semalam seolah lenyap begitu saja mendapati di pekarangan rumah seberang, Mami dan Vino tampak sedang berkebun bersama."Ada apa nih?" seru Mami begitu melihat beberapa koper mulai dimasukkan ke bagasi mobil. Wanita itu segera menghampiri pagar yang membatasi kedua rumah mereka. "Kok bawa koper banyak banget? Mau liburan, ya?"Anggun yang sedang memastikan tak ada barang yang tertinggal langsung menoleh sambil tersenyum. "Iya. Mau liburan ke Bali. Sekalian Papa Bita mau ngecek proyeknya di sana."Mami langsung memasang wajah merajuk. "Kok nggak ngajak-ngajak aku sih, Nggun? Aku juga pengen ke Bali. Udah kangen pantainya."Anggun terkekeh kecil. "Ini aja keluarga kami diajak sama koleganya Mas Bram. Dari tempat nginep sampai ak

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 163

    Tiga minggu kemudian, sehari sebelum keberangkatan ke Bali, Anggun tampak mondar-mandir di kamar Bita sambil mengeluarkan beberapa potong pakaian dari dalam lemari."Yang ini jangan dibawa. Bahannya tebel, nanti kepanasan di Bali." Anggun kembali membuka lemari, mengambil beberapa pakaian lain, lalu meletakkannya di atas kasur yang kini hampir penuh.Sementara itu, Bita hanya duduk bersila di lantai sambil melipat pakaian yang sudah dipilih ibunya. "Ma...""Hm?""Ini kan cuma empat hari. Kok bajunya kayak mau pindahan begini, sih?"Anggun mendelik. "Namanya juga liburan. Siapa tahu nanti pengen ganti baju dua kali sehari."Bita hanya mendesah pasrah dan melanjutkan melipat bajunya dengan tak semangat.Anggun bergerak memeriksa isi koper. "Obat udah. Sandal udah. Sunscreen udah. Topi...Eh, topi mana topinya?"Bita menunjuk gantungan di balik pintu. "Tuh."Begitu melihat topi itu masih tergantung, Anggun

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 162

    "Bita!" Bita sempat berencana mengunjungi rumah Sasha sore nanti. Namun ternyata, gadis itu lebih dulu muncul di depan pintu rumahnya, tepat setelah makan siang. Bita sempat tertegun sesaat sebelum mempersilahkannya masuk. Setelah berbincang sebentar dengan Anggun, Sasha pun mengikuti Bita menuju kamar. "Apa nggak bosen, Ta? Liburan cuma di rumah terus?" tanya Sasha sambil melirik ke sekeliling kamar sebelum menjatuhkan diri di atas ranjang. "Harusnya sih udah liburan ke Puncak." Bita menyenggol pelan lengan sahabatnya. "Tapi ada orang yang batal ngajakin." Sasha langsung meringis bersalah. "Maaf, Ta. Habisnya Mama kamu nggak ngebolehin karena kaki kamu kan baru aja dilepas perbannya kemarin." Bita tersenyum kecil. "Iya, nggak apa-apa. Aku cuma bercanda." Ia ikut naik ke atas ranjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Lagian aku juga udah ada agenda liburan, kok."

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 1

    "Lo naksir abang gue?" Bita tersentak. Selang air di tangannya terlepas begitu saja, membasahi ujung sandal rumahnya sebelum ia sempat mematikan keran. Niatnya berpura-pura menyiram tanaman siang-siang begini hanya agar bisa melihat Aksa yang baru pulang kuliah. Meskipun Aksa terpaut usia be

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 5

    Menatap iris jelaga Vino yang bisa membawa siapapun tenggelam ke dalam gelapnya, Bita menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa," tolak Bita. Bita tidak bisa mempercayakan dirinya pada Vino sepenuhnya. Mengingat reputasi Vino yang gemar mempermainkan perempuan, bukan tidak mungkin Bita akan jadi sal

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 6

    "Bita." Ketukan pelan di kaca balkon membuat Bita yang hampir terlelap seketika terjaga. Kamar mereka memang saling berhadapan dengan jarak balkon yang cukup dekat, membuat Vino sering kali menyeberang dengan mudah jika ada perlu. Bita menghela napas, bangkit dari ranjang untuk menggeser pintu

  • Bimbingan Panas Sahabatku   Bab 4

    "Ati-ati, Mas!" Vino berseru pendek sembari melambaikan tangan, menatap sedan hitam Aksa yang mulai bergerak membelah jalanan kampus. Bita yang masih termenung setengah mati akibat pembicaraan tadi hanya sanggup memandangi mobil itu sampai tidak terlihat, lalu melangkah gontai memasuki koridor fa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status