LOGINTatiana meletakkan garpunya dengan helaan napas puas. Perutnya yang tadi keroncongan kini sudah terisi penuh oleh ayam panggang buatan Kaliel yang luar biasa enak. Rencananya dia akan membersihkan diri dan menenangkan tubuhnya yang lelah, Tatiana langsung berdiri dari kursi, berniat menuju kamar mandi di lantai atas untuk mandi air hangat.
Namun, Kaliel tidak akan membiarkan wanita itu lolos begitu saja malam ini.&n
Hari pertama dari hukuman empat minggu tanpa sentuhan dimulai hari ini.Begitu fajar menyingsing di jendela kamar utama rumah, mata Kaliel langsung terbuka. Hal pertama yang ia lihat adalah Tatiana yang masih tertidur pulas di sampingnya. Namun, alih-alih berlama-lama di ranjang seperti kebiasaannya selama empat bulan terakhir, Kaliel dengan gerakan secepat kilat langsung menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.Pria itu bergegas melangkah keluar kamar bahkan sebelum Tatiana sempat menggeliat bangun.Bukan tanpa alasan Kaliel melarikan diri sepagi ini. Kaliel tahu betul di mana letak titik lemahnya. Tatiana di pagi hari dengan rambut yang berantakan acak-acakan, suara serak khas bangun tidur, dan mata yang mengerjap setengah mengantuk adalah pemandangan paling berbahaya bagi pertahanan dirinya. Apalagi sekarang
Siang itu, ruang praktik dokter spesialis yang sedari awal menangginya terasa begitu tenang dan privat, persis seperti yang diperintahkan Kaliel. Tatiana berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Dengan gerakan pelan, ia mengangkat sedikit bagian bawah kaus hijau muda longgar yang dikenakannya, menyingkap perutnya yang kini sudah membulat kencang di usia kehamilan memasuki bulan kelima.Dokter mengoleskan gel transparan yang terasa dingin di kulit perut Tatiana, lalu mulai menggerakkan USG dengan lihai. Di sebelah ranjang, Kaliel berdiri tegak dengan melipat tangan di dada, matanya tak berkedip menatap layar monitor yang menampilkan siluet hitam-putih samar."Bagaimana, Tatiana? Apa ada keluhan selama beberapa minggu terakhir?" tanya dokter ramah sambil terus memindai.Tatiana menggeleng les
Malam pun tiba membawa hawa dingin khas hutan pinus yang mulai menusuk kulit. Setelah menyantap makan malam hangat buatan Kaliel yang habis tanpa sisa, mereka berdua kini duduk bersama di teras pondokan kayu. Kaliel duduk di sebuah kursi kayu panjang dengan Tatiana yang bersandar nyaman di dadanya, terbungkus selimut wol tebal yang sama. Di depan mereka, kegelapan hutan tampak pekat dan sunyi, hanya diterangi oleh pendar lampu teras yang temaram.Tatiana menatap lurus ke dalam barisan pepohonan yang gelap gulita. Pikiran random khas ibu hamil mendadak melintas di kepalanya."Bagaimana kalau ada beruang yang datang?" tanya Tatiana tiba-tiba, memecah keheningan malam.Kaliel yang sedang mengusap lengan Tatiana dengan ritme teratur langsung menghentikan gerakannya sesaat. Ia terkekeh, suara beratnya bergetar di punggun
Bulan madu sama sekali tidak masuk ke dalam daftar rencana Tatiana dan Kaliel. Setidaknya, itulah yang Tatiana ketahui sejak awal. Dengan situasi kehamilan yang mendadak dan segala urusan birokrasi yang harus Kaliel selesaikan pasca-pernikahan tercepat mereka, Tatiana sudah cukup bersyukur bisa menikmati sarapan tenang tanpa gangguan seperti kemarin.Namun, Kaliel tetaplah Kaliel, pria penuh kejutan yang tidak pernah bisa ditebak jalannya.Alih-alih membawa Tatiana kembali ke rutinitas Sektor Onyx yang kaku, pagi itu Kaliel langsung mendudukkan Tatiana di kursi penumpang mobil SUV hitam miliknya. Tanpa penjelasan apa pun, Kaliel melajukan kendaraan membelah jalanan sepi, membawa mereka pergi jauh meninggalkan area hotel.Perjalanan itu memakan waktu berjam-jam. Tatiana hanya bisa menatap keluar jendela saat pemandan
Sensasi pertama yang menyadarkan Tatiana dari tidurnya bukanlah alarm atau silau fajar, melainkan embusan napas hangat yang teratur di tengkuknya. Saat mencoba merenggangkan otot-ototnya, ia langsung terkunci oleh beban berat dari lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya. Di balik selimut tebal yang membungkus mereka, kulit telanjangnya menempel tanpa sekat pada dada bidang Kaliel yang terasa panas.Kaliel rupanya sudah terbangun lebih dulu. Merasakan geliat kecil dari wanita dalam dekapannya, ia mempererat pelukannya lalu mengecup pundak polos Tatiana yang terekspos. "Hari pertama menjadi istriku, apa kesanmu?" Tanya Kaliel.Tatiana meringis, mencoba membalikkan badannya untuk menghadap Kaliel. Namun, gerakan berputar itu langsung memicu rasa pegal yang luar biasa di pinggang dan bagian bawah tubuhnya.
Cincin emas putih berdesain elegan yang kini melingkar di jari masing-masing menjadi tanda yang mengikat mereka. Kilau logam mulia itu seolah mempertegas status baru mereka di hadapan dunia kecil yang menghadiri pernikahan ini. Tatiana kini sepenuhnya menjadi milik Kaliel, begitu juga sebaliknya.Ada rasa hangat sekaligus aneh yang menjalar di dada Tatiana saat merasakan dinginnya cincin itu menyentuh kulit jarinya.Kaliel tidak melepaskan tangan Tatiana bahkan setelah prosesi pertukaran cincin selesai. Pria itu menatap jemari mereka yang saling bertautan, lalu membawa punggung tangan Tatiana ke depan bibirnya, mendaratkan sebuah kecupan yang lama dan penuh penekanan di sana."Kau tidak bisa lari ke mana pun lagi sekarang, Istriku," bisik Kaliel nyaris tak terdengar oleh orang lain, namun berhasil
Kaliel menyambar liontin safir itu dari tangan Tatiana dengan gerakan yang sangat cepat, seolah takut kulit Tatiana akan mengotori peninggalan ibunya lebih lama pergi. Ia menggenggam kalung itu erat di telapak tangannya, menatap Tatiana dengan amarah yang bercampur dengan rasa frustrasi yang amat s
Setelah melemparkan informasi soal Elise, Tatiana merasa tugasnya sudah selesai. Ia merasa sudah menjadi "arwah" yang cukup baik karena telah memperingatkan tokoh ciptaannya sendiri. Sekarang, ia hanya ingin pergi ke tempat yang seharusnya. Surga."Ya sudah kalau begitu. Anggap saja itu hadiah perp
Cengkeraman di dagu Tatiana terasa begitu nyata. Dingin, keras, dan menuntut jawaban. Namun, alih-alih gemetar ketakutan seperti karakter Elise yang biasanya ia tulis, otak Tatiana yang sedang error justru mengirimkan sinyal yang salah."Wah..." gumam Tatiana pelan. Matanya yang bulat menatap lurus
Suara ketukan bolpoin di atas meja kayu itu terdengar seperti detak jam menuju eksekusi mati. Tatiana mengepalkan tangan di bawah meja, berusaha menahan gemetar yang merambat dari ujung jarinya."Lima ratus juta, Tatiana. Itu kerugian yang harus kami tanggung karena skandal ini," suara Pak Bram, sa







