LOGINKantin sudah tutup. Grizelle, Stella dan dua orang pekerja lainnya bersiap-siap untuk pulang.
"Dek!" Stella menyapa Grizelle di tengah-tengah kesibukannya merapikan tas.
"Ya, Mbak?" sahut Grizelle.
"Sepeda motor Mbak mengalami pecah ban. Kayaknya Mbak harus ke bengkel dulu untuk ganti ban."
"Oh, ya udah. Biar aku nunggu di depan gerbang. Mbak bisa pergi sendiri kan?"
"Bisa. Kan bengkelnya gak jauh di sekitar sini. Nanti kalo udah selesai, Mbak bakalan balik jemput kamu."
"Oke deh!" Grizelle menyetujui.
"Kamu gak pa'pa kan Mbak tinggal sendiri?"
"Gak pa'pa kok, Mbak! Kan udah selesai. Hanya tinggal nyapu sedikit, trus setelah itu aku akan tutup pintu kantin."
"Ya, udah kalo begitu Mbak tinggal dulu ya," pamit Stella.
Grizelle mengangguk. Tersenyum manis kepada kakaknya yang berlalu pergi meninggalkannya.
***
Dengan tas kecil yang tersandang menyamping di tubuhnya, Grizelle berjalan keluar gerbang perusahaan. Menunggu kakaknya yang belum kembali dari bengkel sepeda motor. Ia berjalan ke sebuah taman kecil yang terdapat di pinggir jalan tepat di depan gedung perusahaan. Duduk dengan sabar menantikan Stella kembali.
Belum semenit ia duduk di taman itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depannya. Menghalau pandangannya yang dari tadi mengarah ke jalan raya. Grizelle terkesiap kala melihat mobil yang sudah sangat ia kenal itu. Mobil itu adalah mobil milik—
"Tuan Tristan!" gumamnya kaget. Terbelalak menatap mobil yang menghalau pandangannya.
Kaca bagian kursi penumpang sebelah kemudi perlahan turun. Tentu Tristan yang melakukannya. Memperlihatkan sesosok laki-laki berwajah garang mengenakan kacamata biru gelap. Pandangan Tristan yang lurus, perlahan bergerak ke samping. Melirik gadis yang tercegang melihat kehadirannya.
"Sedang apa kau di situ?" tanyanya dengan intonasi penuh penekanan.
"Nunggu jemputan, Tuan," jawab Grizelle hati-hati.
Ada angin segar yang menyapa jiwa Tristan saat mendengar jawaban Grizelle.
"Butuh tumpangan?" tanyanya dengan sudut bibir yang melengkung tajam.
"Tidak Tuan! Saya sedang menunggu kakak saya," tolak Grizelle.
Wajah Tristan berubah kecut saat mendengar jawaban Grizelle kali ini. Tapi ia tidak kehabisan akal. Apapun akan ia lakukan demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Hari menjelang malam. Masuklah! Kau akan aku antar sampai rumah," pujuk Tristan. Sungguh, seumur-umur baru kali ini ia memohon kepada seseorang untuk ikut dengannya. Apalagi orang tersebut adalah seorang gadis sederhana yang sama sekali tak memiliki fungsi untuk karirnya.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa! Saya sedang menunggu kakak saya. Saya sudah janji akan menunggunya di sini. Saya takut nanti dia merasa khawatir jika saya tidak ada di sini setelah dia kembali nanti."
Jawaban Grizelle membuat Tristan kembali merasa tidak senang. Sebab gadis itu telah berani menolak tawarannya. Bukankah Tristan merupakan sosok yang sangat tidak terima jika seseorang menolak keinginannya?
Maka, ia turun dari mobil. Tergesa-gesa menghampiri Grizelle yang semakin menguncup karena diserang ketakutan melihatnya mendekat.
Tristan melepas kacamatanya. Menatap Grizelle dengan tajam.
"Kau tau! Hanya baru kali ini aku bersikap baik kepada seseorang terutama pada gadis sederhana seperti dirimu! Kau harusnya paham dengan sifatku!" kecam Tristan.
Grizelle yang tak mengerti hal apa yang membuat Tristan berkata demikian, hanya dapat menundukkan pandangan. Sedikit tidak senang atas ucapan Tristan yang menyebutnya gadis sederhana. Apa itu maksudnya? Apakah itu pujian? Atau malah sebuah penghinaan?
"Ikut denganku sekarang!" hentak Tristan dengan mencekal lengan Grizelle. Menarik tubuh gadis itu secara paksa.
"Maaf Tuan! Saya tidak mau!" ronta Grizelle panik. "Kenapa Anda memaksa saya seperti ini! Saya tidak mau Tuan!"
Tristan membuka pintu mobil. Sebelum memaksa Grizelle masuk, ia menatap kedua mata Grizelle dengan tajam. Mengangkat telunjuknya mengarah ke wajah Grizelle.
"Kau sudah berani menolak tawaranku! Dan aku tidak suka itu!" sergah Tristan.
"Tapi saya memang sedang menunggu kakak saya! Kenapa Anda marah pada saya! Apa salah saya?" pekik Grizelle dengan tubuh yang luar biasa gemetar.
Sebelum menjawab pertanyaan Grizelle, Tristan diam dalam ekspresinya yang mengeras. Kedua manik matanya mengunci retina mata Grizelle. Hingga mata coklat milik gadis itu melemah karena tatapan tajamnya.
"Kau tau? Kau adalah wanita yang paling berbahaya bagiku! Semua yang ada di dirimu membuatku tak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan!"
'Wanita berbahaya? Tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan? Apa maksudnya itu? Bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padanya! Bahwa dia adalah pria paling menakutkan dan berbahaya yang pernah aku temui di dunia ini! Trus kenapa aku yang dapat julukan seperti itu?'
Batin Grizelle memberontak. Perkataan Tristan barusan sangat tidak masuk akal. Tak mengerti apa maksud dari ucapan Tristan. Apa yang ia lakukan hingga pria itu menjulukinya sebagai wanita berbahaya? Bukankah disini dia yang selalu merasa terancam?
"Masuk!" Tristan mendorong tubuh lemah itu agar masuk ke dalam mobilnya.
Siap tidak siap, tubuh lemah Grizelle terhempas masuk ke dalam mobil. Dengan cepat, Tristan memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Grizelle yang meronta-ronta.
"Lepas! Tuan, saya tidak ingin ikut dengan Anda!"
***
“Hei, tenanglah. Kau tidak perlu setegang itu. Aku hanya ingin berbicara santai denganmu.” Grizelle yang masih dikuasai rasa terkejut hanya mampu menatap Miko dalam diam. Jemarinya tanpa sadar memainkan ujung seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya, melintirnya berulang kali sebagai pelampiasan kegugupan. “Kemarilah,” ujar Miko sambil memberi isyarat dengan gerakan tangannya. Dengan ragu, Grizelle menarik kursi yang berada di hadapan pria itu. Ia kemudian duduk berhadapan dengan Miko, meski kecanggungan masih begitu jelas terlihat dari sikapnya. “Kau tidak perlu takut,” kata Miko dengan nada menenangkan. “Aku tidak akan mengatakan apa pun mengenai hubunganmu dengan Tristan.” “Maaf, Tuan,” akhirnya Grizelle membuka suara. Ia menegakkan punggungnya sebelum melanjutkan, “Saya memang tidak pernah memiliki hubungan apa pun dengannya.” Meskipun suaranya pelan, nada ketegasan dalam ucapannya tidak dapat disembunyikan. Miko mendadak merasa kikuk. Untuk kesekian kalinya, ia mera
Grizelle berdiri sambil memandangi orang-orang di sekelilingnya. Seluruh pasang mata tampak tertuju kepadanya. Ia menatap satu per satu wajah yang berada di dalam kafe itu. Ketika pandangannya bertemu dengan wajah sang ibu, Grizelle menatapnya seolah meminta penjelasan. “Zel, ada apa?” tanya Bu Ambar dengan nada khawatir. Grizelle menyeringai canggung. Ia sendiri tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi. Rupanya, kejadian beberapa menit yang lalu hanyalah bunga tidur semata. Pengalaman bertemu dengan Tristan memang meninggalkan kesan yang begitu mendalam hingga membuat tidurnya tidak pernah benar-benar tenang. “Maaf…” gumamnya pelan. Perlahan, tubuhnya kembali melorot hingga ia duduk di kursi yang berada di belakangnya. Beberapa orang yang sempat terkejut oleh gerakan refleks Grizelle akhirnya kembali melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Suasana kafe yang sempat hening pun perlahan kembali ramai oleh suara percakapan dan denting peralatan makan. “Zel.”
Seperti hari-hari biasanya, selepas pulang dari sekolah, Grizelle datang menemui kakak dan ibunya di cafe perusahaan tempat mereka mencari pundi-pundi uang. Ia berharap hari ini tidak bertemu dengan Tristan. Jika pria arogan itu memesan secangkir kopi latte lagi, Grizelle tidak akan menyiapkan dan mengantarnya. Ia akan meminta sang ibu untuk yang melakukan hal itu, berhubung ibunya sudah bisa kembali lagi beraktivitas di cafe, sebab ayahnya sudah bisa ditinggal istirahat di rumah. Ia berjanji tak mau lagi berurusan dengan Tristan. Dia ingin menjauh dari pria itu. Akan tetapi, sepertinya keadaan tidak memungkinkan. Sebab, ia hampir setiap waktu mendatangi cafe perusahaan yang dipimpin oleh pria tempramental itu. Grizelle menghela nafas berat. Ia sudah tiba di depan pintu kafe—menatap bangunan itu dengan malas. Pintu kafe yang terbuat dari kaca ia dorong perlahan. Aroma kopi yang khas langsung menyambutnya, hangat dan menenangkan, seolah menjadi pelarian dari penatnya hari. Dari bal
“Hai, Tian. Lagi sendiri ya?”Gadis cantik berkulit putih dengan rambut ikal panjang itu mendekati Tian yang sedang duduk di taman sambil membaca sebuah buku.“Eh, iya, nih, Nin. Lagi asyik baca novel,” jawab Tian. Meski sempat terkejut atas kehadiran Nindi, ia berusaha tetap tersenyum.Langkah Nindi terhenti tepat di depan bangku kayu tempat Tian duduk. Tak lama, dua temannya menyusul, saling berbisik kecil sambil sesekali melirik ke arah Tian dengan senyum yang sulit disembunyikan. Suasana taman yang tadinya tenang mendadak terasa lebih ramai.“Sendirian aja? Ketua OSIS kok ngumpet di sini,” goda Nindi dengan nada suaranya yang ringan.Tian terkekeh pelan. “Bukan ngumpet, lagi cari suasana aja. Di kelas berisik.”“Atau lagi nunggu seseorang, nih?” Salah satu teman Nindi langsung menimpali.Tian menggeleng, senyumnya tetap terjaga meski dalam hati ia menghela napas kecil. Ia sudah cukup paham ke mana arah percakapan seperti ini biasanya berjalan. Sejak menjabat sebagai ketua OSIS, p
“Jangan bicara seolah-olah dia penyebab semua ini. Perasaanmu itu tanggung jawabmu sendiri, Tris. Dia tidak bersalah dalam hal ini.” Tristan menoleh, tatapannya tajam. “Kau tidak akan mengerti.” “Kalau yang kau maksud adalah menyakitinya, aku sangat mengerti, dan itu salah.” Nada suara Miko kini tegas, tanpa kompromi. “Grizelle tidak berutang apa pun padamu.” Rahang Tristan kembali mengeras. Ia terdiam sesaat, seolah menimbang kata-kata yang ingin keluar. “Aku tidak bilang akan menyakitinya,” ujarnya akhirnya, tapi nada suaranya menggantung, tak sepenuhnya meyakinkan. “Lalu apa?” desak Miko. “Apa yang ada di kepalamu sekarang?” Tristan menghela napas panjang, mengusap wajahnya kasar. “Aku hanya … ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Kebingungan. Kehilangan kendali. Ketidakpastian.” Ia menatap Miko lagi. “Agar dia tahu rasanya berada di posisi ini.” Miko menatap Tristan lekat, mencoba membaca batas antara emosi dan niat sebenarnya. “Itu tetap berbahaya, Tris. Perasaan
Di atas meja kerja yang rapi di dalam kamar mewah itu, dua telapak tangan Tristan mengepal kuat. Urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol, seolah menahan sesuatu yang hampir meledak. Ketegangan itu bahkan menjalar hingga ke leher dan wajahnya. Rahangnya mengeras, napasnya berat, dan sorot matanya terlihat tajam sekaligus gelap. Pria berwajah antagonis itu berdiri tegak di samping meja, tubuhnya kaku seperti patung yang dipenuhi amarah. Ia menatap keluar jendela kamar di lantai dua, memandangi jalanan di bawah sana tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya dipenuhi bayangan yang terus berulang—pemandangan yang sejak tadi menghantui dan memancing emosi yang sulit ia kendalikan. Ada rasa kesal, cemburu, dan sesuatu yang lebih dalam dari itu, bercampur menjadi satu. Di belakangnya, Miko berdiri dengan sikap tegap, namun wajahnya jelas menunjukkan kebingungan dan sedikit kekesalan. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, berusaha menahan diri agar tidak langsung melon
Di sebuah restoran yang cukup ternama di salah satu hotel berbintang lima, Tristan dan beberapa staf perusahaan, sedang sibuk membahas tentang apa saja yang menjadi target utama mereka dalam upaya pengembangan bisnis. Miko sebagai kaki tangan dan juru bicara Tristan, dengan lantang menerangkan da
"Hem—" Tristan menarik nafas dan membuangnya pelan. Ekspresi kerasnya sedikit memudar. Ia menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya.
Pagi ini, Grizelle dan kakak perempuannya yang bernama Stella, tampak sibuk mondar-mandir melayani karyawan kantor yang sengaja mampir untuk makan atau sekedar memesan secangkir teh hangat atau kopi. Kedua gadis itu dengan cekatan menyiapkan berbagai menu yang dipesan
Grizelle masih saja mencibir. Bahkan ketika dia sudah tiba di dapur kantin, gadis itu masih saja mengumpat dengan mulut yang berkomat-kamit tak jelas. Bu Ambar yang menyaksikan gerak-gerik anaknya mengerutkan kening.







