Masuk"Apa tanganmu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, hah?!" bentak Edgar dengan suara baritonnya yang menggelegar dan sarat akan amarah yang meluap.
Edgar terpaksa melepaskan Selina dari kurungannya, menatap Samuel dengan pandangan mata yang seolah siap menguliti sahabatnya itu hidup-hidup.
Suasana erotis nan tegang yang baru saja terbangun di antara Edgar dan Selina seketika buyar tak berbekas.
Selina yang posisinya mendadak terbebas langsung memundurkan langkahnya c
"Apa tanganmu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, hah?!" bentak Edgar dengan suara baritonnya yang menggelegar dan sarat akan amarah yang meluap.Edgar terpaksa melepaskan Selina dari kurungannya, menatap Samuel dengan pandangan mata yang seolah siap menguliti sahabatnya itu hidup-hidup.Suasana erotis nan tegang yang baru saja terbangun di antara Edgar dan Selina seketika buyar tak berbekas.Selina yang posisinya mendadak terbebas langsung memundurkan langkahnya cepat-cepat. Wajahnya memerah padam hingga ke balik kerah kemejanya.Dia selalu merasa teramat malu setiap kali berhadapan dengan Samuel, apalagi posisi mereka beberapa detik lalu sungguh sangat absurd dan berani untuk ukuran sebuah ruang kerja di lokasi proyek.Selina merapikan kemejanya yang agak kusut dengan jemari yang gemetar hebat, berusaha keras menghindari kontak mata dengan siapa pun di dalam ruangan.Samuel yang berada di ambang pintu justru sama sekali tidak merasa
Pintu kaca kantor direksi akhirnya tertutup rapat pasca-kepergian Stella yang melangkah keluar dengan raut wajah hancur menahan malu.Kini, hanya tersisa Edgar dan Selina di dalam ruang kerja yang ber-AC dingin tersebut.Keheningan yang sempat menggantung di udara terasa lebih rileks dibandingkan ketegangan sebelumnya.Selina melangkah maju, lalu meletakkan map dokumen inspeksi di atas meja kerja Edgar.Namun, alih-alih langsung membahas angka-angka di dalam laporan, Selina memberanikan diri membuka percakapan mengenai kejadian yang baru saja berlangsung."Tampaknya Nona Stella sangat menyukaimu," ucap Selina seraya menatap Edgar yang kini sibuk membuka lembaran berkas."Bahkan sepertinya dia sudah memendam perasaan itu sejak lama."Edgar tidak memindahkan pandangannya dari kertas di hadapannya.Pria itu menyahut dengan intonasi datar, seolah topik yang dibicarakan Selina adalah hal paling membosankan di dunia. "Biarkan saja. Aku tidak peduli dengan hal itu."Selina memiringkan kepala
Keesokan paginya, suasana di kantor direksi proyek luar kota itu terasa teramat dingin dan mencekam.Selina berdiri tegak di samping meja kerja Edgar dengan pakaian formal yang sangat rapi, membawa map laporan inspeksi yang siap untuk ditandatangani.Namun, ketenangan di ruangan itu seketika terusik ketika pintu kaca terdorong terbuka dan sosok Stella melangkah masuk dengan gaya anggun yang penuh dengan kepura-puraan.Pagi ini Stella mengenakan dress pas badan berwarna krem yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas.Wajah cantiknya sudah dipoles makeup sempurna, dan senyuman manis nan menggoda langsung terukir di bibirnya begitu matanya menangkap keberadaan Edgar yang sedang duduk di kursi kebesarannya.Tanpa memedulikan kehadiran Selina yang berdiri hanya beberapa langkah dari sana, Stella melangkah percaya diri mendekati meja Edgar.Aroma parfum bunganya yang menyengat seketika memenuhi sudut ruangan."Selamat pagi, Edgar," sapa Stella dengan nada suara yang sengaja dibuat men
Tubuh Selina masih bergetar hebat di atas sprei yang kusut, kejang pasca-klimaks yang baru saja menghantamnya membuat dadanya naik turun dengan napas yang memburu.Peluh halus membasahi kening dan lehernya, sementara pandangan matanya sayu, menatap pasrah pada sosok tegap yang masih mengungkungnya dari atas.Edgar tidak memberikan jeda satu detik pun bagi Selina untuk memulihkan kesadaran.Pria itu menatap liarnya pelepasan Selina dengan kilat kepuasan yang teramat pekat di mata elangnya.Senyuman miring yang begitu dominan terukir di bibirnya, seolah gairah di dalam dirinya justru makin terbakar melihat betapa mudahnya dia meruntuhkan pertahanan wanita itu.Tanpa membuang waktu, Edgar melepaskan celananya dalam satu sentakan tegas.Miliknya yang sudah menegang keras dan berurat menempel panas di paha dalam Selina, menuntut ruang untuk segera amblas ke tempat paling hangat."Kau melayang begitu cepat hanya karena jariku, Selina," bisik Edgar dengan suara baritonnya yang teramat serak
Edgar merebahkan tubuh Selina di tengah ranjang berukuran king-size yang empuk.Sebelum Selina sempat membenahi posisinya, tubuh tegap Edgar sudah mengungkungnya dari atas, menindih Selina dengan dominasi mutlak yang tak memberi celah sedikit pun untuk meloloskan diri.Tanpa mengucap sepatah kata pun, Edgar menunduk dan menyergap bibir Selina dalam sebuah ciuman yang langsung membakar.Ciuman itu tidak lagi memiliki kelembutan; itu adalah serangan liar, panas, dan menuntut.Lidah Edgar menerobos masuk dengan kasar, membelit lidah Selina, menyapu setiap sudut rongga mulutnya, dan menyerap saliva yang bertukar di antara mereka.Selina melenguh tertahan, kedua tangannya yang gemetar bergerak naik untuk meremas bahu berotot Edgar, terhanyut sepenuhnya oleh keliaran pria yang sedang menguasainya.Puas melahap bibir Selina hingga membengkak basah, Edgar mengalihkan kecupannya turun ke garis rahang, menyusuri leher jenjang Selina yang jenjang.Tangannya yang lincah bekerja cepat melucuti pak
Edgar memperhatikan raut wajah Selina dengan lekat di dalam temaram lampu kamar suite hotel.Ibu jarinya merayap lembut, mengusap bekas jejak air mata di pipi mulus wanita itu.Tatapan mata elangnya meneliti setiap inci ekspresi Selina yang tampak begitu rapuh namun tertutup oleh pertahanan dingin."Apakah kau masih kesal padaku, Selina?" tanya Edgar dengan suara baritonnya yang rendah dan serak.Selina terdiam sejenak. Dia membuang pandangannya ke samping, menatap dinding kamar yang dingin sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya dengan pelan."Tidak," bisik Selina lirih.Sebuah tawa hambar dan samar lolos dari bibirnya. "Lagipula... apakah aku berhak untuk kesal padamu, Edgar? Memangnya apalah aku ini di matamu?"Mendengar pertanyaan bernada puitis namun penuh keputusasaan itu, raut wajah Edgar seketika berubah.Senyuman miring yang tadinya menghiasi bibirnya sirna perlahan.Edgar menatap lekat wajah Selina seolah ucapan yang baru saja keluar dari mulut wanita itu adalah sebuah kesa
Pintu kamar tidur dibanting dengan keras hingga menimbulkan gema yang memekakkan telinga. Rafael Theodore melonggarkan dasinya dengan sentakan kasar, lalu berbalik menatap Selina yang masih berdiri mematung di dekat pintu dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya.Atmosfer di dalam kamar
Selina menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menciptakan penolakan di antara deru napas mereka yang saling berkejaran. Jantungnya bertalu begitu keras hingga dia yakin Edgar bisa mendengarnya dengan jelas. Jarak yang terlampau kikis ini membuat akal sehatnya perlahan menguap, digantikan ol
Jam dinding besar di koridor menunjukkan pukul dua dini hari ketika Selina terbangun dengan tenggorokan yang terasa sangat kering dan mencekik.Selina melangkah masuk ke dapur, berniat mengambil segelas air dingin dari dispenser. Namun, baru saja kakinya menginjak lantai marmer dapur, sebuah suara
“Sudah satu bulan kita menikah, tapi kau tidak pernah mau menyentuhku, Rafael.”Selina akhirnya menyuarakan apa yang selama ini selalu dia pendam. Kalimat itu lolos bersama remasan kuat pada jemarinya sendiri. Sebulan penuh dia terjebak dalam keheningan yang menyiksa, mengubur pertanyaan yang terus







