LOGINSinar matahari pagi yang hangat perlahan mulai menembus celah gorden kamar utama kediaman Arron. Di atas ranjang king size, Arthur dan Kian masih terlelap dengan tenang, menikmati sisa-sisa istirahat mereka setelah hari yang luar biasa melelahkan kemarin. Kian tidur meringkuk nyaman dengan sebelah lengan Arthur yang melingkar posesif di pinggangnya.Hingga suara getaran kuat dari ponsel Arthur yang diletakkan di atas nakas memecah keheningan fajar. Arthur mengerutkan kening, perlahan dia membuka mata dengan rasa kantuk yang masih menggelayut di ujung kelopak matanya. Arthur melirik sekilas ke arah Kian yang bergerak sedikit tapi tidak terbangun.Dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak mengusik tidur istrinya, Arthur mengulurkan tangan menyambar ponsel miliknya. Nama Kendrick berkedip di layar. Kening Arthur berkerut.Kendrick sangat tahu etika dan tidak akan pernah menelepon sepagi ini jika tidak ada hal yang benar-benar darurat.Tak membuang waktu, Arthur menggeser tombol jaw
Malam semakin larut.Di dalam apartemennyanya, Luna menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan tatapan kosong yang telah kehilangan seluruh binar kewarasan. Semua pintu telah tertutup baginya. Adam membuangnya, Fio terbaring tak berdaya setelah dia lukai, dan Rose ... wanita itu baru saja menandatangani surat kematian karier Luna di televisi nasional."Kalau aku harus hancur ... kamu juga tidak boleh hidup tenang, Rose," bisik Luna, suaranya terdengar dingin tanpa emosi. Senyumnya terangkat mengerikan. Pikirannya tak waras karena pengaruh sisa-sisa alkohol yang masuk ke tubuhnya.Tepat tengah malam, Luna bergerak. Dia memakai pakaian serba hitam yang longgar, melilitkan syal gelap di lehernya, dan mengenakan penutup wajah rapat-rapat hingga hanya menyisakan sepasang matanya yang memancarkan kebencian.Sebuah pisau dapur yang runcing dan berkilau tajam diselipkannya di balik jaket.Dengan memanfaatkan jalur tangga darurat yang minim kamera pengawas, Luna menyelinap melalui pint
Di apartemen milik Luna.Suasananya sudah seperti medan perang. Botol-botol minuman keras berserakan di atas meja kaca, dan aroma alkohol yang menyengat memenuhi ruangan yang remang-remang itu.Luna duduk meringkuk di atas sofa beludru mahalnya dengan penampilan yang jauh dari kesan seorang model papan atas. Rambutnya kusut masai, gaun sutranya tampak berantakan, dan sebuah gelas berisi wiski digenggamnya dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya yang merah dan sembap menatap lurus ke layar televisi yang masih menyiarkan ulang pernyataan pers dari Rose."Orang yang membayar saya, orang yang menjadi otak dan dalang dari semua konspirasi busuk ini juga harus ikut bertanggung jawab ….”"Bangsat! Dasar pelacur sialan!" jerit Luna histeris.Dia meneguk sisa wiski di gelasnya dalam sekali tenggak, lalu melemparkan gelas kosong itu ke arah layar televisi. Gelas itu menghantam pinggiran layar dengan keras sebelum akhirnya jatuh dan pecah berkeping-keping di atas lantai marmer.Napas Luna
Kian bergegas melangkah kembali ke rumah utama bersama Mia setelah mendengar apa yang pelayan katakan.Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tengah.Tatapan Kian tertuju pada Arthur sedang duduk di sofa dengan pandangan tertuju ke layar televisi besar yang menyala.Kian menghentikan langkahnya, pandangannya kini tertuju pada siaran berita yang sedang berlangsung.“Ada apa, Sayang?” Kian mulai bertanya.Tatapan Arthur tertuju pada Kian. Dia membuat gerakan dengan tangan agar Kian duduk di sampingnya. “Duduklah dulu. Kamu juga, Mia.” Begitu Kian sudah duduk di sampingnya dan Mia duduk di sofa tunggal, Arthur mencari chanel berita lain lalu memperlihatkan berita yang baru saja ditontonnya. “Lihat apa yang baru saja disiarkan di beberapa chanel berita.”Kening Kian berkerut dalam. Pandangan mereka semua kini tertuju sepenuhnya pada layar kaca yang sedang menayangkan sebuah video wawancara eksklusif secara langsung dari kediaman Rose.Di layar televisi. Rose tampak duduk dengan wajah se
Sore hari.Kian melangkah menyusuri jalan setapak di taman belakang menuju paviliun tempat yang Mia tinggali sementara agar terhindar dari jangkauan luar dan tekanan dari Luna.Kian sudah berdiri di depan pintu. Dia tak langsung masuk ke dalam, tapi mengetuk pintu lebih dulu dan menunggu sampai Mia membukanya.Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara knop yang diputar.Kian menatap Mia yang berdiri di hadapannya saat pintu di hadapannya ini terbuka.Kian tersenyum hangat pada Mia. “Bu Kian, masuklah.” Mia langsung membuka lebar pintu paviliun.“Kita bicara di luar saja, Mia. Udaranya sejuk dan lebih menenangkan daripada di dalam,” kata Kian agar Mia bisa membiasakan diri dengan suasana di tempat ini.Mia mengangguk patuh. Dia keluar lalu duduk di kursi yang ada di depan paviliun bersama Kian.Kian menatap Mia yang diam dengan tatapan tertunduk.Kian lebih dulu menghela napas panjang, lalu membuka suara. “Bagaimana kondisimu, Mia? Apa tempat ini cukup nyaman untukmu?”Mia mengangka
Di dalam ruang kerja Arthur yang tenang di gedung HW. Company.Sisa-sisa ketegangan dari konferensi pers tadi siang perlahan mulai mencair. Kian masih duduk di sofa bersama Arthur setelah kepergian Mia.Arthur sudah meminta orang untuk mengawal dan menjaga Mia dengan selamat.“Terima kasih banyak, ya. Kamu sudah mengizinkan Mia untuk tinggal sementara di paviliun belakang rumahmu. Dengan begitu, dia akan aman dari ancaman atau intimidasi dari pihak Luna dan orang-orangnya.” Kian menatap penuh syukur karena Arthur selalu mendukung setiap keputusan yang dibuatnya.Tangan Arthur membelai lembut rambut Kian, bibirnya tersenyum kecil, lalu dia membalas, “Tidak perlu berterima kasih. Semua ini juga demi HW. Company.”“Lagi pula, itu hanya untuk sementara waktu sampai kehebohan ini sedikit mereda dan tim hukum kita berhasil menyelesaikan semua berkas gugatan resmi untuk menyeret Luna dan Rose ke pengadilan. Setelah itu, Mia akan aman di mana pun dia tinggal nantinya.”Kian mengangguk-angguk
Malam hari.Kian duduk di atas ranjang. Dia memandang foto dirinya dan Diana yang tadi Liza ambil.“Sedang melihat apa? Sepertinya fokus sekali?” Arthur naik ke atas ranjang. Dia duduk di samping Kian, tatapannya langsung tertuju ke ponsel yang ada di tangan Kian.Kian lebih dulu membetulkan posisi
Sore hari.Kian berjalan menghampiri Arthur yang sudah menunggu di depan lobby.“Jadi, siapakah orang yang ingin kita temui?” Kian berdiri di hadapan Arthur, senyumnya terangkat lebar untuk suaminya.“Nanti kamu akan lihat.” Arthur membuka pintu untuk Kian.Kening Kian berkerut, dia tatap penasaran
Arthur berdiri di samping meja kerjanya. Jemarinya mengusap tepian meja, memandangi tempat kerja yang selalu dibanggakannya bertahun-tahun ini.“Tuan.” Kendrick masuk ke dalam ruang kerja Arthur setelah menyapa.Kendrick meletakkan setumpuk berkas di atas meja.“Ini semua tawaran akuisisi dari bebe
Kian sudah selesai dengan Hendra. Dia keluar dari ruang kunjungan, tatapannya langsung tertuju pada Arthur yang menantinya. “Sudah selesai?” Arthur memastikan. Matanya menelisik ke setiap tubuh Kian, memastikan istrinya tak terluka. Kian mengangguk-angguk pelan. Meski yang dilakukannya tak bisa m







