공유

Bab 2

작가: Cheryl Cherie
last update 게시일: 2026-06-25 21:01:37

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mia, membuat wajahnya berpaling ke samping.

Miranda yang melihat itu memekik dan segera mendekati putrinya, memeriksa pipinya yang kini berwarna merah akibat dari tamparan keras suaminya.

"Apa yang kau lakukan?! Kau tega memukul putri kandungmu sendiri demi anak dari wanita jalang itu?!"

"Dia pantas mendapatkannya, berani sekali mengatakan hal buruk yang belum tentu benar tentang orang lain."

"Meski begitu, kau tidak harus menamparnya! Anak kandungmu itu Mia! Ingat itu!"

"Dan aku merasa sial karenanya!"

Mia mencelos, ia menatap tak percaya pada Ayahnya. Begitu pun Miranda.

"Apa katamu? Sial? Justru kamilah yang merasa sial memiliki suami dan ayah sepertimu, ingat saat usia Mia lima tahun? Kau menceraikanku dan meninggalkan kami demi menikahi wanita jalang itu, dimana hati nuranimu saat itu, hah?! Kau bahkan mengabaikan Mia yang merangkak sambil menangis di kakimu agar kau tidak meninggalkan kami saat itu."

Damon mengusap kasar wajahnya, istrinya kembali mengungkit masa lalu. Ini akan memperpanjang perdebatan, dan ia malas untuk itu.

"Tapi pada akhirnya aku kembali lagi pada kalian—"

"Ya! Tapi kau masih saja membawa rasa kepedulianmu pada mereka, seperti sekarang. Tidakkah kau memahami jika itu membuat kami terluka?"

"Kau—"

"Berhenti!" teriak Mia, ia menatap bergantian kedua orang tuanya. "Aku sudah terlalu muak mendengar perdebatan kalian, jadi sekarang bisakah tunda dulu perdebatan kalian itu dan dengarkan aku bicara?"

Melihat kedua orang tuanya yang terdiam, Mia kembali membuka suara. "Kenapa? Kenapa harus dengan cara seperti itu untuk memisahkanku dengan Killian? Kenapa?!"

Damon hanya diam, enggan menjawab pertanyaan Mia. Baginya itu sebuah pertanyaan yang tak perlu ditanyakan, karena jawabannya sudah ada—sejak dulu.

Mia beralih pada ibunya. "Dan Ibu? Kenapa Ibu membiarkan semua ini terjadi? Ibu tahu aku sangat mencintai Killian."

Miranda menggeleng pelan, kedua matanya berlinang. "Maaf Sayang, Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu. Dan dia bukan bagian dari yang terbaik itu, dia berbahaya—"

"Berbahaya apanya?!" pekik Mia. "Kalian belum mengenalnya tapi sudah menyimpulkannya sebagai orang buruk."

"Cinta benar-benar membuatmu tidak waras," ujar Damon.

"Ayah yang tidak waras!"

"MIA!"

"DAMON!" Miranda dengan cepat menahan tangan suaminya yang hendak menampar Mia kembali, ia benar-benar tidak rela jika putrinya disakiti, terlebih oleh ayah kandungnya sendiri.

Sedangkan Mia hanya menatap ayahnya nyalang. "Aku akan memberiatahu semua ini pada Killian," ujarnya lalu berbalik melangkah pergi.

"Berhenti di situ!"

Langkah Mia terhenti di depan pintu, namun tidak berbalik menghadap kedua orang tuanya.

"Mulai sekarang kau dilarang keluar rumah tanpa izin Ayah, sekarang cepat masuk ke kamarmu dan tidur!"

"Kenapa aku harus mengikuti perintah Ayah?"

"Karena terakhir kali kau membangkang demi bajingan itu, kau mengalami keguguran dua minggu yang lalu," jawab Damon. "Hamil di luar pernikahan, benar-benar memalukan."

Mia bergeming, ia menatap perutnya yang datar. Dadanya terasa bergemuruh mengingat kejadian dua minggu yang lalu, saat dia datang ke rumah Killian untuk memberitahu tentang kehamilannya dan meminta pertanggungjawabannya. Namun, ketika melihat kekasihnya itu tengah bercinta dengan Nancy, hatinya hancur seketika. Ia lalu pergi diam-diam dengan membawa luka dan rasa sakit dihatinya.

Diperjalanan pulangnya dengan berjalan kaki, tatapan Mia terlihat kosong. Akibatnya, ia yang tidak fokus karena sibuk dengan luka hatinya, tak menyadari sebuah mobil yang melaju tak beraturan meghampiri dan menabraknya.

Saat itulah semuanya terasa gelap, terakhir yang ia lihat adalah langit yang mendung dan perlahan meneteskan air hujan.

"Aakkhh!"

Mia memekik kencang kala rambutnya terasa akan tercabut dari kepalanya, ia menoleh dan mendapati Damon tengah menjambak rambutnya. Menariknya kencang hingga terpaksa membuat Mia berjalan mundur menjauh dari pintu rumah.

"Damon!" seru Mia.

"Diam! Putrimu memang keras kepala, sama sepertimu!"

"Ayah! Sakit!"

"Ayah bilang masuk ke kamar dan tidur!"

Damon mendorong Mia tepat pada Miranda, dan ungtungnya istrinya itu menangkap putrinya dengan cepat sebelum tersungkur ke lantai.

"Ayah sudah putuskan, mulai sekarang kau tidak akan melanjutkan pendidikanmu, kau hanya akan diam di dalam rumah untuk merenungkan kesalahanmu itu!"

Mia menggeleng keras. Tidak, pendidikannya tidak boleh berhenti, dia sudah berjuang keras demi bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, semuanya hampir selesai.

"Tidak ...," ucap Mia lirih, "Ayah tidak bisa melakukan ini padaku! Ayah tahu bahwa itu sangat berarti untukku, aku sudah berusaha keras agar bisa menjadi dokter, itu cita-citaku!"

"Iya Damon, menurutku dengan mencabut semua fasilitas Mia itu sudah lebih dari cukup untuk sekedar membuat Mia merenung, tolong jangan putus pendidikannya." Miranda meyahut.

Meski memiliki sumber penghasilan sendiri dan mungkin mampu membiayai pendidikan putrinya, tetap saja semua itu tidak akan bisa sebanding dengan apa yang dimiliki suaminya.

"Keputusanku sudah bulat, kau akan berhenti. Dan kubur saja cita-cita tak bergunamu itu."

"Ayah ...."

"Ini peringatan terakhir, masuk ke kamarmu dan tidur!"

Mia menggeleng pelan sebelum akhirnya berbalik pergi menuju kamar.

***

BRAK!

Mia membanting pintu kamarnya, dadanya kembang kempis, air matanya terus-menerus mengalir. Ia berjalan cepat menuju ranjangnya lalu membanting tubuhnya sendiri ke permukaan empuk ranjang itu dengan posisi tengkurap.

"Aaaa! Aku benci Ayah!" teriaknya sembari memukuli bantal.

Puas dengan itu, Mia bangkit dan berjalan menuju meja riasnya, menatap pantulan dirinya di sana. Lalu tatapannya tertuju pada alat pengering rambut, tanpa ragu ia melemparnya ke cermin itu hingga retak.

"Aakkhh!" Mia kembali berteriak, ia menyapu semua barang-barang yang ada di meja hingga berserakan dilantai—beberapa yang terbuat dari kaca hancur berkeping-keping. Merasa belum puas, ia kemudian melempar lampu tidur yang berada tepat disampingnya ke lantai.

Mia kembali berjalan ke sisi kamarnya yang lain—dimana sebuah vas bunga terpajang di atas laci meja.

Ceklek!

Mia menoleh ke pintu kamarnya yang dibuka tiba-tiba oleh sang ibu, wajahnya tampak cemas.

"Mia, Sayang ... apa yang—" Miranda melirik sekeliling kamar putrinya yang berantakkan, lalu kembali berjalan hendak berjalan mendekat.

"KELUAR!" teriak Mia, tangannya menunjuk ke arah pintu yang terbuka.

Miranda tercengang mendapat bentakkan dari putrinya sendiri. "Sayang ... Ibu—"

"Aku bilang ... keluar! Aku sedang tidak ingin diganggu!"

Sebagai seorang ibu, Miranda tentu sakit hati saat dibentak kasar oleh putri kandungnya sendiri. Namun, saat ingat hal apa yang membuat putrinya itu bersikap demikian, Miranda memilih mengesampingkan perasaannya.

"Ibu ... Ibu akan membujuk ayahmu agar dia mengurungkan niatnya untuk menghentikan pendidikanmu—”

Brakkk!

Prang!

Miranda memekik saat Mia mengambil dan membanting vas bunga yang berada di atas laci meja, pecahannya berserakan dan sebagian mengenai kakinya.

"Mia ...."

"KELUAR!"

"Ada apa ini?!"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 8

    "Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, Mia." Julia yang tengah melihat dan memeriksa beberapa tas itu menatap lekat pada Mia, ada senyum tipis penuh makna saat megatakannya. Mia mendongak sembari mengernyitkan keningnya, lalu tersenyum. "Banyak orang yang datang dihidupku lalu pergi begitu saja." Kedua matanya melirik sekilas pada Killian, lalu kembali berucap, "Jadi maaf, aku tidak terlalu mengingatmu. Mungkin kau mengingatku, tapi aku tidak." Killian yang mendengarkan dari kejauhan tersenyum geli lalu berguman, “pembohong.""Oh ... begitu, ya." Julia berusaha tersenyum meski hatinya tak puas dengan jawaban dan sikap Mia yang tenang, tapi ia tak berhenti mencari celah untuk mengusik perasaan wanita itu. "Mungkin juga aku salah orang, kau mirip dengan seseorang yang pernah datang ke toko ku bersama seorang pria dua tahun yang lalu."Mia melunturkan senyumannya, dalam hati ia mengumpati gadis dihadapannya. Dilihat dari tampilan luarnya memang terlihat polos dan seperti gadis bai

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 7

    Mia tersentak, ia menoleh cepat dan membuat kedua hidung mancung mereka bersentuhan. Napas keduanya beradu, Mia bisa mencium aroma mint segar dari napas Killian. Sepertinya pria itu baru saja membersihkan diri bersama Julia tadi. Dan entah kenapa perasaan tidak nyaman itu hadir, dia tidak suka, dia marah membayangkan apa saja yang mereka lakukan di dalam kamar mandi. Kedua mata Mia yang basah menatap tajam Killian, dadanya naik turun karena napasnya yang tak beraturan menahan amarah. "Kurang ajar," ucapnya penuh penekanan.Killian menaikkan sebelah alisnya—yang dimana itu bagi Mia seperti ekspresi wajah yang menantang dirinya. Killian seperti meremehkan kemarahannya. "Aku? Kurang ajar?""Ya! Dan bukan itu saja, kau pria menjijikan dan tidak bermoral!"Mimik wajah Killian perlahan berubah datar, kedua matanya berkilat tajam. "Menjijikan katamu? Baiklah, jika aku menjijikan maka kau lebih menjijikan dariku. Tahu kenapa?" Mia hanya diam dan tetap mempertahankan ekspresi wajah angkuhny

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 6

    Mia menoleh ke dalam rumah, di sana sosok gadis muda terdiam setelah berlari sembari membawa kain berwarna hitam yang ia yakini itu adalah pakaian milik Killian. Sedangakan Killian sama sekali tidak menoleh ke belakang, kedua matanya menatap dalam pada sosok Mia. Mia menelan ludahnya ketika menyadari apa yang sudah terjadi di rumah ini sebelum kedatangannya. Di sana, wanita muda itu tersenyum canggung dan berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terlapisi lingerie. Sama seperti Kllian, penampilannya berantakkan, rambut hitamnya tidak beraturan, dan ada beberapa tanda merah di bagian leher dan tulang selangkanya. Dalam sekejap Mia bisa menyimpulkan semuanya, tentang apa yang baru saja mereka lakukan di rumah ini. Ia menundukkan pandangannya. Wanita muda itu melangkah mendekati Killian dan tersenyum canggung, ia memegang lengan kekarnya. "Pakai dulu bajumu," ujarnya menarik pelan Killian untuk mundur. "Kau pasti Mia?" Mia mendongak dan tersenyum tipis menatap wanita muda

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 5

    Mia menatap kosong ke depan, di mana mobil Killian sudah melaju kencang meninggalkannya seorang diri di tengah-tengah jalanan. Hatinya benar-benar hancur sekarang. “Sialan …,” gumamnya lalu terkekeh. “Jadi … meski aku meminta dan memohon padamu, kau tetap tidak memberi apa yang aku mau.” Mia mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, ia bangkit dan berdiri. Kedua netranya menukik tajam pada mobil Killian yang perlahan mengecil dari pandangan, kedua tangannya terkepal erat. “KILLIAN! AKU PASTIKAN KAU AKAN MENYESAL! KAU AKAN MENYESALI SETIAP PERKATAAN DAN PERLAKUANMU PADAKU!” teriak Mia sekencang mungkin. Tatapan tajam itu perlahan melunak, aiir matanya kembali meluncurkan bebas ke bawah. “Aku akan menunggunya, tidak peduli berapa lama hari itu datang, aku akan menunggu. Aku akan berdoa setiap hari pada Tuhan untuk melihatmu menyesal dan berlutut dihadapanku.” Setelah puas, Mia berbalik menuju mobil taksi yang ia tumpangi sebelumnya. Ponselnya berdering, ia meliri

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 4

    "Mia! Kau mau ke mana Sayang?!" Mia tak memedulikan panggilan ibunya di belakang sana, ia terus berlari ke luar bangunan itu. Miranda akhirnya berhasil menahan lengan Mia. "Lepas!" Mia dengan kasar menghempaskan tangan ibunya. Miranda tanpa sengaja melihat Killian diseberang, pria itu tampak memasuki mobilnya. "Tidak, Mia. Ibu tidak akan mengizinkanmu menemuinya, Ibu tidak ingin ayahmu berbuat lebih jauh lagi dalam mengatur kehidupanmu Sayang." "Aku tidak peduli!" sentak Mia. "Tapi Ibu peduli, Mia Ruby!" balas Miranda tak kalah keras suaranya. "Kalau Ibu peduli padaku, biarkan aku bersama Killian! Aku akan menjelaskan semuanya sekarang padanya. Dan jika kesalahpahaman diantara kami selesai, Ibu ataupun Ayah jangan melarang hubungan kami lagi!" Miranda tampak lelah menghadapi putrinya yang keras kepala. "Mia kenapa kau tidak mengerti juga? Kalau begini ayahmu tidak akan ragu untuk membuangmu seperti perkataannya waktu itu, Ibu tidak mau itu terjadi Sayang." "Aku tidak masalah

  • Jerat Ambisi Killian   Bab 3

    Damon berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak tegas dan dingin. Kedua bola matanya bergerak melihat ke sekeliling kamar, lalu berakhir di putrinya yang tampak kacau karena emosi yang meledak-ledak. "Masih belum sadar juga dengan kesalahanmu?" Damon berjalan masuk, kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. "Damon, aku mohon jangan hentikan pendidikan—" "Kalau seperti ini terus, mungkin Ayah akan membuangmu ke jalanan." "Damon!" pekik Miranda. Mia tampak tidak peduli, ia kembali menunjuk ke luar kamar. "Keluar kalian berdua!" "Anak kurang ajar!" desis Damon sebelum akhirnya menarik Miranda keluar kamar. Mia berjalan cepat menutup dan mengunci pintu, tubuhnya ia sandarkan di sana. Ia kembali terisak, hanya beberapa saat sebelum akhirnya berjalan ke arah laci meja disamping ranjang. Tangannya bergerak cepat membuka dan mencari-cari sesuatu di dalamnya. Sebuah foto USG dan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya hamil beberapa minggu yang lalu. "Kau har

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status