LOGIN44Asmiratih mengulum senyuman, seusai mendengar penuturan Zikria tentang kejadian di rumah keluarga Tong, kemarin malam.Asmiratih membayangkan ekspresi wajah pria di seberang telepon, yang akan terlihat semringah jika menerangkan kegiatan sehari-harinya. Perempuan berjilbab abu-abu itu sangat merindukan lelaki tersebut, dan itu membuat dadanya sakit akibat rasa kangen yang luar biasa. "Abang, kapan mau pulang?" tanya Asmiratih. "Beberapa hari lagi," sahut Zikria. "Waktu itu bilangnya seminggu sebelum lebaran. Harusnya hari ini, kan?" "Ditunda, Dek. Aku mesti menyelesaikan semua kerjaan. Dikit lagi." Asmiratih mendengkus pelan. "Abang beneran mau nikah nggak, sih?" "Maulah. Masa nggak mau? Aku sudah nungguin kamu 2 tahun lebih." "Makanya, pulang!" "Sstt! Jangan marah. Lagi puasa." "Aku sedang libur." "Oh, tamunya sudah datang?" "Hu um.""Good. Berarti malam pertama, aku bisa langsung kultivasi." "Heh! Mesum!" "Enggak apa-apalah. Mesumnya ke kamu, doang." "Aku langsung
43Deru mesin kendaraan yang tengah mendekat, mengejutkan beberapa penjaga di bagian depan rumah besar, di kawasan elite selatan Kota Guangzhou. Mereka segera melapor pada ketua penjaga, yang meminta semua anak buahnya bersiap-siap untuk menghadapi serangan musuh tak dikenal. Seisi rumah seketika panik. Para perempuan dan anak-anak, serta orang tua, diungsikan ke ruang rahasia, yang memiliki jalan tembus ke garasi belakang. Sementara semua pria di keluarga itu mengeluarkan senjata masing-masing. Bunyi benturan keras terdengar dari gerbang utama. Disusul pekikan para penjaga, yang tengah berusaha menghalau puluhan orang berseragam biru tua, dan memakai masker gelap, yang telah keluar dari banyak mobil jeep serta van.Tong Herald, putra tertua keluarga tersebut, mengamati pertempuran itu dari teras depan. Dia bingung, karena para penyerbu tidak menggunakan senjata tajam atau pun senapan. Mereka hanya memakai tongkat besi dan tombak yang ujungnya tumpul, serta tongkat hitam khas satuan
42Sekelompok orang yang raut wajahnya terlihat tegang, muncul dari pintu depan ruang ICU VIP. Mereka mendatangi keluarga Zhou yang seketika berdiri dari kursi, guna menyalami mereka. Zhou Yiran terisak-isak dalam pelukan papanya. Meskipun hubungan mereka sempat memburuk, tetapi selama beberapa bulan terakhir, mereka telah berbaikan dan berusaha memperbaiki keadaan.Dimas mendengarkan penuturan Koko iparnya, yang masih tampak syok. Zhou Yongrui menerangkan kronologi perkelahian serta penusukan pada Zhou Dingbang, berdasarkan informasi dari kedua asisten Zhou Dingbang dan beberapa rekan mereka, yang juga terluka akibat insiden itu. Cheung Xiuhuan dan Dokter Chan yang menangani Zhou Dingbang, muncul dari dalam ruang ICU. Mereka menyalami semua tamu yang baru datang dari Indonesia, kemudian keduanya bergantian menerangkan kondisi pasien yang masih koma. Zhou Yiran menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Tangisannya mengencang, sebelum dipeluk Dimas sembari ditenangkan pria tersebut. C
41Asmiratih mengerjapkan matanya yang memanas, sembari memandangi punggung calon suaminya yang bergerak menjauh. Asmiratih menekan-nekan ujung matanya dengan tisu, sebelum berbalik dan jalan ke tempat parkir bersama Ferlita, Zelia, dan Panji.Setibanya di tempat tujuan, keempatnya menaiki mobil van besar berlogo tour and travel PBK. Sang sopir segera melajukan kendaraan dengan kecepatan sedang, hingga kendaraan menjauhi area bandara.Asmiratih memandangi luar kaca dengan tatapan kosong. Hatinya gelisah, karena Zikria pergi menjelang pernikahan mereka. Padahal seharusnya pria itu sudah stand by di Indonesia, dan tidak keluyuran ke luar negeri. Malam beranjak larut, tetapi mata Asmiratih tak kunjung memejam. Lelah untuk mencoba tidur, akhirnya Asmiratih menyambar ponsel cashing merah dari meja rias, dan mengaktifkan benda itu.Asmiratih kaget kala ratusan notifikasi grup masuk secara bersamaan, hingga ponselnya mendadak eror. Asmiratih menunggu hingga benda itu bisa digunakan, kemudia
40Hari berganti. Akhir pekan itu, Zikria pergi ke rumah calon Ayah mertuanya, untuk melakukan acara buka puasa bersama. Zikria berangkat bersama Zelia, Kenji, Rishian, dan Dhriti. Sebab seusai salat Tarawih nanti malam, mereka akan langsung mudik ke Bogor. Selain Zikria dan rekan-rekannya, beberapa sahabat Asmiratih juga ikut datang. Dari Tangerang, mereka akan langsung pulang ke rumah orang tua masing-masing, guna menghabiskan waktu bersama keluarga. Tepat jam setengah lima sore, acara dimulai dengan salam dan salawat, yang dituturkan dengan fasih oleh Nareswara Bryatta, putra ketiga keluarga itu. Selanjutnya Zikria melantunkan ayat suci, dan terjemahannya dibacakan Mahesa. Seorang Ustaz kenalan pemilik rumah, memberikan tausiah yang menyejukkan hati para jemaah. Ketika sang ustaz mengajukan pertanyaan tentang keagamaan, yang mengacungkan tangan hanya segelintir orang. Termasuk Zikria dan keempat adiknya. Kelima orang tersebut menerangkan jawaban mereka dengan lugas. Ustaz berko
39Jalinan waktu terus bertukar. Bulan Ramadan tiba dan membuat gembira seluruh umat muslim di dunia. Tidak terkecuali Asmiratih. Dia sangat antusias menyambut bulan suci, dengan belajar mengubah penampilan diri.Kemunculannya di kantor GUNZ pagi itu, menjadikan semua orang tertegun. Asmiratih mengayunkan tungkai seraya tersenyum kepada teman-temannya, yang masih takjub dengan penampilannya yang berbeda dari kemarin.Asmiratih mengetuk pintu ruang rapat direksi, kemudian dia mendorong lawang dan melongok ke dalam. Asmiratih tersenyum lebar ketika orang-orang di ruangan itu kompak terdiam melihatnya masuk."Assalamualaikum," sapa Asmiratih sembari melenggang dengan santai."Waalaikumsalam," jawab semua orang di sana."Dek, aku nggak lagi mimpi, kan?" tanya Zikria, sembari terus memandangi gadis bersetelan blazer ungu tua dan jilbab ungu muda."Enggak, Bang," jawab Asmiratih, setelah dia berhenti dan duduk di kursi samping kanan Gwenyth. "Aku lagi belajar pake jilbab. Jangan dibully, ya
10 Zikria mendengarkan penuturan Dzardi Charand, Adik Dzafri Chalondra, yang merupakan anggota tim rahasia. Zikria telah meminta Dzardi untuk mengikuti Lova ke mana pun gadis itu pergi, karena direktur operasional PBK itu mengetahui kegemaran Lova akan dunia hiburan malam. Kenal sejak belasan tah
07Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya. Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah m
06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T







