LOGIN“Nya ....” Aurel kembali memanggil temannya itu.
“Heuh?” Anya tampak linglung. “Kita langsung ke ruangan Kapten Bima, yuk? Bentar lagi kita harus masuk kelas lagi,” jelas Aurel. Anya seperti tidak mendengar ucapan Aurel. Terus melihat ke arah Mayor Bintang dengan hati yang patah dan hancur berantakan. Meski ia sadar, jika Mayor Bintang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya, tapi kenapa rasa sakit itu rasanya seperti istri yang sedang memergoki suami berselingkuh. Perih sekali. “Nya ... ayo, ah,” Aurel menarik paksa tangan Anya dan menyeret perempuan yang sedang patah hati itu menjauh dari tempat Bintang bercengkrama. Tak lama, mereka sudah tiba di depan ruangan Kapten Bima. Aurel langsung mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Selang beberapa detik saja, suara sahutan pun terdengar. “Masuk ....” Aurel membuka pintu perlahan. “Permisi, Pak, saya mau mengantar surat pembinaan.” “Oh ya, masuk saja,” ucap pria berseragam TNI AD dengan name tag BIMA itu. Aurel menarik tangan Anya karena dia memang tidak berani untuk masuk sendirian. Jiwa Aurel tidak seperti Anya. Ia sedikit takut jika melihat yang loreng-loreng, teringat macan. “Permisi ....” Aurel dan Anya melangkah sopan. Ternyata di dalam ruangan itu tidak hanya ada Kapten Bima, melainkan juga ada beberapa tentara lainnya. “Izin, Pak, saya mau antar surat pembinaan.” Aurel meletakkan secarik kertas ke atas meja Kapten Bima. “Ya.” Tanpa banyak bertanya lagi, Kapten Bima langsung mengambil pulpen yang Aurel berikan dan menandatangani kertas tersebut. Namun, saat pria dengan usia sekitar tiga puluh tahunan itu tengah menandatangani berkas pembinaan milik Aurel, tanpa terduga, salah seorang dari tentara yang ada di ruangan itu pun berbicara. “Sudah dapat undangan dari Mayor Bintang, Ndan?” “Sudah, saya kan yang pertama dia kasih,” sahut Kapten Bima. Duarrr! Bagaikan mendengar petir di siang bolong. Anya begitu terkejut dan nyaris pingsan di tempatnya berdiri. Mayor Bintang, mau menikah? Anya memegangi dadanya yang tiba-tiba saja terasa sesak. Aurel yang juga mendengar percakapan para tentara tersebut, langsung memegang tangan Anya dan mengambil kertas pembinaannya dengan segera. “Makasih Pak. Saya permisi dulu.” Aurel menarik Anya keluar dari ruangan dengan tergesa. Sedikit membuat Kapten Bima dan para anak buahnya merasa heran. Sesampainya di luar, Aurel langsung menutup kembali pintu, sedang Anya berdiri seperti mayat hidup. “Nya ... kamu aman kan?” “Mayor Bintang Rel, Mayor Bintang mau nikah, huuaaaa ...!” Anya menangis kejer dengan suara yang menggelegar. “Anya, stop!” Aurel menyekap cepat mulut Anya, sebelum suara temannya itu menggemparkan seisi Kodim tersebut. “Ikut aku!” Aurel memboyong paksa Anya dan membawanya menjauh dari ruang Kapten Bima. Mereka berhenti di bawah pohon soga yang sedang bermekaran, tidak seperti hati Anya yang tengah layu. “Hancur hatiku, Rel. Sakit ... banget.” Anya menekan dadanya. Berita tentang pernikahan Bintang benar-benar menyakiti batinnya. “Ya salah kamu juga, ngapain naksir sama om-om? Kayak nggak ada cowok lain aja. Tuh, kamu lihat, tentara-tentara muda segitu banyaknya di sini. Lah kamu, malah jatuh cintanya sama duda.” Bukannya memberikan Anya dukungan, Aurel justru membuat temannya itu semakin sedih. “Kamu nggak paham gimana rasanya jadi aku, Rel. Cinta itu kan nggak bisa ditebak kapan dia datang dan kapan dia pergi. Walau kamu tunjuk ribuan tentara muda juga, kalau aku sukanya cuma sama Mayor Bintang, gimana?” Anya menatap pucuk-pucuk pohon soga yang gugur saat ditiup angin. Aurel maju dua langkah lebih mendekat. Ia tatap lekat-lekat wajah temannya itu, yang kalau menurutnya cukup cantik untuk sekedar memikat pria-pria berseragam ijo-ijo kayak cendol, kenapa harus sama om-om sih Anya kecantol? “Nya, dengerin aku. Kamu ini cantik, masih muda lagi. Aku yakin, kamu pasti bisa dapatin yang lebih dari Mayor Bintang. Jangankan yang ijo, yang biru, yang coklat, yang item, kamu bisa dapet, Nya …. So, stop menjatuhkan harga diri kamu buat cowok yang nggak sepadan sama kamu. Lagian Mayor Bintang juga nggak suka kan sama kamu? Mau sampai kapan sih kamu ngerendah gini?” Aurel mulai kehabisan kesabaran dalam menanggulangi kegilaan Anya. Mendengar kata-kata Aurel, Anya pun membuang napas kasar. Ia lalu menoleh dan melihat kepada teman satu angkatannya itu. “Ini tuh bukan tentang seragam atau pangkat, Aurel. Ini tuh tentang perasaan. Sekali pun Mayor Bintang bukan TNI berpangkat tinggi, kalau aku udah jatuh cinta, aku bisa apa?” Sekarang giliran Aurel yang membuang napas kasar. “Balik kelas yuk? Bentar lagi dosen masuk.” Ajaknya, memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Berdebat sama orang yang sedang falling in love memang tidak akan ada habisnya. *** Sejak Anya mendengar kabar tentang pernikahan Bintang, hari-harinya menjadi mendung selalu. Meski cuaca sedang terik-teriknya, ia tetap merasa seperti hujan deras. Bahkan dengan petir dan kilat yang menyambar-nyambar. Aurel berbicara saja ia sering tidak nyambung. Fokusnya ambyar karena terus memikirkan tentang mimpinya yang sebentar lagi akan lenyap ditelan kenyataan. “Kamu nggak antar bahan ke Mayor Bintang?” tanya Aurel di sela-sela jam istirahat kuliah mereka. “Aku nggak sanggup kalau harus ketemu sama dia, Rel. Hatiku masih terlalu sakit,” jawab Anya tak bersemangat. Aurel menghela napas dan melihat Anya dengan penuh rasa iba. Kalau dipikir-pikir, kasihan juga Anya. Sedang berbunga-bunganya dalam menyukai Mayor Bintang, sudah harus sakit hati karena akan ditinggal nikah. “Kamu yang sabar ya? Tenang, jodoh itu sudah di atur sama Yang Di Atas. Sebagai manusia, kita cuma bisa memintanya melalui doa. Kalau kamu emang betul-betul suka sama Mayor Bintang, harusnya kamu relain dia bahagia dengan pilihannya. Atau kamu perbanyak doa aja, bukan pasrah kayak gini. Siapa tahu kan, doa bisa merubah yang nggak mungkin menjadi mungkin, ya kan?” Anya menoleh kepada Aurel. Sepertinya kata-kata temannya itu berhasil membuat ia kembali bersemangat. Aurel benar, tidak ada yang bisa merubah suatu keadaan, selain doa. Tanpa sepatah kata pun, Anya pun bangkit dan langsung mengambil bukunya. Aurel yang melihat temannya kembali bersemangat sempat terkejut dan ikut berdiri. “Mau ke mana, Nya?” tanyanya. “Mau pembinaan sama Mayor Bintang,” teriak Anya seraya terus berlari menjauhi kelas. Aurel hanya bisa menggelengkan kepala. Namun ia bahagia melihat Anya tak lagi murung seperti sebelumnya. Semoga saja Anya bisa lebih ikhlas walaupun nanti Mayor Bintang benar-benar menikah dengan wanita lain. *** Anya mengetuk pintu ruangan secara perlahan dan tak lupa mengucapkan salam. Teringat terakhir kali dia masuk tanpa izin hingga membuat Bintang marah, kali ini harus lebih sopan. “Masuk,” ucap pemilik suara bariton itu. Anya membuka pintu pelan. “Permisi Om, aku mau pembinaan,” ucapnya. “Sayang, aku balik ke rumah sakit dulu ya, soalnya bentar lagi ada pasien yang mau operasi,” ucap seorang perempuan, ia tampak berdiri seraya merangkul lalu mencium pipi Bintang. Di depan Anya. “Ya sudah, kamu hati-hati ya?” pesan Bintang. “Ya, Sayang. Nanti malam kita jadi makan kan di Restoran Kenangan?” “Oh, iya, hampir saja saya lupa. Maaf. Nanti saya telepon kamu.” Bintang tersenyum tipis. “Ok, Sayang.” Perempuan itu balas tersenyum manja, lalu setelah itu beralih melihat Anya dengan tatapan menyelidik. “Siapa?” tanyanya pada Bintang. “Oh, dia mahasiswi binaan saya,” jelas Bintang seraya melirik ke arah Anya yang berdiri seperti anak kucing yang habis diguyur hujan. “Eum, kok manggilnya ‘Om’, bukan ‘Pak’?” “Hmm, itu—” “Salah sebut,” potong Anya cepat. Ia lalu maju dua langkah lebih mendekat ke meja sang Mayor. “Bisa kita mulai, Pak, binaannya?” “Oh, ya, tentu.” Bintang memijat batang hidungnya. Perempuan yang disinyalir sebagai calon istri Bintang itu pun kemudian berlalu keluar dari ruangan. Meninggalkan hanya Anya dan Bintang yang masih sama-sama diam dan saling menatap. Mau makan malam ternyata di Restoran Kenangan? Ok ... Sampai bertemu nanti malam, Om Mayor.Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Bintang diizinkan pulang. Kepulangan Sang Mayor disambut dengan pengamanan yang jauh lebih ketat dari biasanya. Meski Bintang bersikeras bahwa dirinya sudah pulih total dan bisa berjalan sendiri, Langit dan Kapten Bima tetap siaga mendampingi di sisi kanan dan kirinya sejak keluar dari pintu lobi rumah sakit Kasih Ibu.Anya berjalan di sebelah Bintang, membawa tas berisi sisa perlengkapan selama rawat inap. Sorot matanya tak lagi sekeruh beberapa hari lalu, namun gurat waspada kini jelas tercetak di wajah ayunya.Rahasia besar yang pecah malam itu mengubah kepercayaan Anya sepenuhnya. Setiap sudut koridor rumah sakit dan setiap pasang mata berseragam loreng kini terasa seperti ancaman yang mengerikan. “Kenapa harus dikawal sebanyak ini, Bim?” bisik Bintang pada Bima.“Ini sesuai proses, Mayor. Sudah, kamu ikuti saja,” jawab Bima dengan nada yang sama berisiknya. “Iya, tapi ini bisa memancing atensi semua orang. Kamu lihat tuh,
Bintang tidak segera menjawab. Ia justru mengunci ponselnya, membiarkan layarnya meredup, lalu meletakkannya kembali di atas nakas dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia menatap Anne dengan sorot mata penuh penghormatan, sekaligus kepedihan yang mendalam.Di sebelahnya, Rahayu tampak terperanjat, menatap Bintang dan Anne secara bergantian dengan napas yang tertahan. “Jeng ... kamu ... kamu kenal dengan perwira di foto ini?” tanya Rahayu dengan suara yang bergetar.Anne tidak langsung menjawab pertanyaan Rahayu. Matanya masih lurus menuntut jawaban dari Bintang. Tubuhnya semakin bergetar hebat dalam dekapan Anya yang kini ikut menangis dalam diam.“Saya … saya menemukan potongan berita ini di antara berkas-berkas lama mendiang Papa, Bun,” jawab Bintang akhirnya, suaranya terdengar begitu berat memenuhi sudut kamar VVIP yang senyap. “Sepertinya Papa menyimpan berkas penyelidikan internal yang sengaja dihentikan secara paksa oleh atasan mereka puluhan tahun lalu.”Bintang menjeda ka
Sebenarnya Bintang masih tetap ingin merahasiakan masalah ini dari keluarganya, tapi sepertinya tidak akan mungkin. Terlebih dari Anne. Ya, Anne adalah saksi kunci dari kasus yang tengah Bintang selidiki. Satu-satunya orang yang ada bersama Arjuna kala itu. Jadi, menyembunyikan kebenaran ini dari dua keluarga yang takdirnya saling bertaut adalah hal yang mustahil. Rahayu, ibunya, adalah janda dari seorang perwira yang karirnya terang benderang. Sementara Anne, ibu mertuanya, adalah istri dari seorang Arjuna Abrisam—pria yang selama puluhan tahun dianggap menghilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga sampai saat ini. Bintang melirik sekilas ke arah Anne yang duduk tenang di dekat Anya bersama Andini. Wanita paruh baya itu tampak anggun dengan gurat wajah teduh yang menyimpan sejuta ketabahan, namun juga luka lama yang belum sepenuhnya mengering. “Bintang ... kamu dengar Mama, kan? Kok malah melamun sih?” tegur Rahayu, membuyarkan pergolakan batin yang berkecamuk di kepala Sa
Bintang menangkup kedua belah pipi Anya dengan kedua telapak tangannya yang hangat, memaksa istrinya untuk menatap lurus ke dalam sepasang netra elangnya, mencoba menyalurkan ketegasan dan ketenangan seorang prajurit langsung ke dalam jiwa Anya yang sedang rapuh. “Anya, tatap saya. Dengarkan saya baik-baik,” ucap Bintang dengan suara baritonnya yang dalam, bergetar penuh penekanan namun sarat akan kelembutan. “Semua akan baik-baik saja.” Anya sesenggukan, mata bulatnya yang berair menatap Bintang dengan pandangan memohon yang teramat sangat. “Om, please ... stop, Om. Mereka punya pangkat, mereka punya kekuasaan. Kita bisa apa? Kita nggak punya apa-apa.” “Saya punya kamu, Anya,” sahut Bintang cepat. Anya semakin manangis mendengarnya. Kepalanya ia tunjukkan dalam-dalam, tak kuasa melihat wajah laki-laki yang sangat ia cintai. “Dua puluh tahun yang lalu, ayahmu terpaksa mengalah dan memilih mundur karena dia berjuang sendirian demi menyelamatkan kamu dan ibumu," tutur Bintang,
Bintang kembali menghela napas berat. Ia sudah menduga, jika Anya pasti tidak akan percaya dengan kenyataan yang ia temukan. Dan mungkin, semua orang juga tidak akan percaya. Namun entah mengapa, feeling-nya mengatakan jika pria yang ada dalam surat kabar tersebut adalah ayah mertuanya, Arjuna Abrisam.“Anya, dengarkan saya ….” Bintang menegakkan posisi duduknya agar bisa lebih jelas melihat wajah Anya. “Saya tahu, kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang saya sampaikan. Tapi saya yakin, feeling saya tidak akan salah. Wajahmu, senyummu, itu sangat mirip dengan laki-laki yang pernah bertemu dengan saya dua puluh tahun yang lalu. Dia sangat mirip dengan kamu, Anya.”Anya menoleh dan menatap Bintang dengan mata yang basah. “Maksud Om ... Om pernah ketemu langsung sama Ayah?” tanyanya dengan suara serak yang nyaris hilang.Bintang mengangguk pelan. Tatapannya menerawang jauh, melintasi sekat waktu, saat dirinya masih menjadi seorang remaja laki-laki berseragam SMA.“Waktu saya masih
“... kasus lama, Ma. Tapi ya … tidak penting juga.” Bintang berbohong.“Tidak penting? Kalau tidak penting, mana mungkin ada orang yang mau bunuh kamu, Bin. Pokoknya kamu harus kasih tahu mama. Mama dan Langit akan ke rumah masih liat kamu nanti malam. Tunggu adikmu pulang dinas dulu.”Bintang terdiam. Kalau Rahayu sudah membuat keputusan sulit untuk ia bantah. Lagi pula, mana mungkin ia bisa terus-terusan menyembunyikan rahasia besar dari keluarganya. Apalagi rahasia itu menyangkut ayah mertuanya sendiri.“Anya melirik ke arah Bintang yang tampak mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ekspresi wajah Sang Mayor kembali mengeras, menyiratkan beban pikiran yang teramat berat. Melihat suaminya seperti orang bisu, Anya berinisiatif mengambil alih pembicaraan. Ia mendekatkan ponsel Bintang ke bibirnya.“Iya, Ma ... nanti malam Anya tunggu sama Om Bintang di kamar rawat, ya. Tapi Mama janji harus jaga kesehatan, jangan sampai tekanan darah Mama naik karena panik,” ucap Anya lembut, mencoba men
Pagi Senin, seperti biasa. Anya dan Bintang bangun pagi-pagi sekali. Mereka memulai aktivitas dengan tugas masing-masing. Anya menyiapkan sarapan, sementara sang Mayor menyiram tanaman dan menyembur pakaian. Setelah sholat subuh berjamaah—pukul tujuh pagi—mereka sudah bertemu di meja makan. Untuk
Bintang menghentikan gerakannya sekilas, lalu sebuah senyum penuh arti terbit di wajah lelahnya. Tatapan elang pria itu menggelap, mengunci netra bulat Anya yang kini memancarkan binar menggoda yang sangat berani—sangat kontras dengan air mata yang baru saja ia hapus.“Kenapa? Kamu keberatan?” tant
Isak tangis Anya terdengar begitu memilukan di tengah keheningan ruang tamu yang kosong. Kalimat terakhir Bulan tadi pagi terus terngiang-ngiang di kepalanya, seperti kaset rusak yang sengaja diputar untuk menyiksanya. Semalaman mereka memadu kasih, saling mendekap dan bertukar kehangatan yang beg
Tok, tok, tok.Suara ketukan itu kembali terdengar, memutus keheningan asrama di pagi hari yang mendung ini. Anya menelan ludah, sisa-sisa trauma dari teror telepon semalam mendadak membuat dadanya berdebar agak kencang. Ia merapatkan piyama yang dikenakannya, memastikan penampilannya cukup rapi s







