공유

Bab 3

작가: LV Edelweiss
last update 게시일: 2026-02-25 15:11:34

“Kamu yakin kalau Mayor Bintang mau nge-date di sini sama calon istrinya?” tanya Aurel saat ia dan Anya sudah berdiri di depan Restoran Kenangan.

“Yakin aku,” jawab Anya.

“Berapa persen?” tanya Aurel lagi.

“Seribu persen.”

“Tapi udah mau pukul delapan, belum ada tanda-tanda mereka datang ke sini? Jangan-jangan mereka mendadak ganti tempat. Kalau bener mereka ganti tempat, sampai lebaran monyet juga kita tunggu di sini nggak bakalan nongol tuh Mayor.” Aurel mulai tidak yakin.

“Sabar dulu kenapa? Baru juga pukul delapan. Kita tunggu sebentar lagi ya? Aku yakin kok, Mayor Bintang bakalan datang.” Anya begitu yakin dengan feeling-nya.

Dan benar saja, tak lama kata-kata itu keluar dari mulut Anya, sebuah mobil dinas TNI tampak memasuki halaman parkir restoran. Sontak saja hal itu membuat gadis berkulit putih dan berambut sedada itu panik.

“Rel-Rel-Rel, itu dia. Itu dia datang,” ucap Anya kegirangan. Tanpa sadar ia bahkan sampai memukuli lengan Aurel, hingga sabatnya itu merintih kesakitan.

“Iya-iya, tapi jangan kamu pukul aku juga.”

“Sorry, Rel.” Anya tampak menyesal.

Mereka kemudian kembali fokus melihat kepada Mayor Bintang. Tampak pria dewasa itu keluar dari dalam mobilnya dan langsung menyalakan ponsel.

“Halo? Kamu sudah sampai? Saya sudah di depan restoran.” Bintang menelepon calon istrinya.

“Apa? Agak terlambat? Ada pasien emergency? Oh, gitu. Baiklah, saya tunggu kamu di sini ya? Baik.” Bintang mengakhiri panggilannya dan langsung masuk ke dalam restoran.

Sedang Anya dan Aurel, keduanya masih betah mengintai dari balik persembunyian mereka. Namun meski bersembunyi, jarak mereka dan Mayor Bintang tadi cukup dekat, sehingga mereka bisa mendengar jelas apa yang sang Mayor bicarakan di telepon.

“Kayaknya tuh perempuan nggak bakalan datang deh, Nya.” Aurel mulai dengan analisanya.

“Menurutku juga gitu sih, Rel.” Anya setuju.

“Jadi kalau misalnya dia beneran nggak datang, terus Mayor Bintang gimana dong?” tanya Aurel.

Anya diam sejenak. Matanya tampak berkelintaran seperti orang yang sedang berpikir keras. Selang beberapa saat kemudian, ia pun kembali bersuara.

“Kita masuk, yuk Rel,” ajak Anya.

“Hah? Masuk? Mau ngapain, Nya?” tanya Aurel sedikit panik.

“Yah ... biar kita bisa lebih dekat sama Mayor Bintang. Aku mau ngeliat mereka dari jarak yang lebih intens.” Anya begitu penasaran dengan hubungan Bintang dan wanita yang berprofesi sebagai dokter itu.

“Astaga, Nya. Mau ngapain lagi sih? Kamu mau nambah sakit hati?” Aurel tidak setuju. Baginya, Anya tahu jika malam ini Bintang dan calon istrinya makan malam berdua saja, sudah cukup bikin hati seperti teriris sembilu. Untuk apa dilanjutkan dengan melihat kemesraan keduanya?

“Nggak Rel, aku tetap mau lihat mereka. Kalau kamu nggak mau ikut, nggak apa-apa. Kamu boleh pulang duluan.” Anya pun kemudian berlalu ke arah restoran dan meninggalkan Aurel begitu saja.

“Sialan, dia malah ngusir aku,” desis Aurel kesal. “Anya, tunggu ...!” teriaknya menyusul sang teman sejawat yang sudah sampai di depan pintu restoran.

***

Di dalam restoran.

“Heh, apa duduk kita nggak terlalu dekat dengan Mayor Bintang? Jujur, aku takut kalau dia bakalan ngeliat kita. Ntar dia pikir kita mata-matai dia lagi. Aku nggak mau berurusan sama TNI, Nya, sumpah!” bisik Aurel dari balik buku daftar menu restoran.

“Ih, kamu tenang aja, dia nggak bakalan menandai kita kok. Lagian selama ini kalau aku ajak ngomong, dia nggak pernah ngeliat ke aku. Jadi dia nggak bakalan tanda aku,” jelas Anya.

“Astaga, kasihan banget kamu, nggak pernah diperhatiin.” Aurel menertawai Anya.

“Diem, ah!” Anya memanyunkan bibirnya.

Mereka kemudian kembali melihat ke arah Bintang. Pria dengan kemeja hitam lengan panjang dan celana bahan dengan warna senada itu, terus saja melihat ke arah jam tangannya. Sudah hampir pukul sembilan malam, dan tidak ada tanda-tanda jika calon istrinya akan datang.

Makanan tampak sudah terhidang dan nyaris dingin karena tak juga disentuh sejak tadi. Jus yang ia minum juga hampir tandas dan hanya tersisa sepertiga gelas saja.

Apa perempuan itu tidak bisa datang? Apa mungkin pasiennya tidak bisa ditinggalkan? Kenapa dia tidak memberi kabar Mayor Bintang?

Sedang di meja lainnya, Aurel sudah dalam posisi menjatuhkan kepala di atas meja. “Lapar banget, sumpah. Kamu pesan makanan napa, Nya? Tega banget biarin aku kelaparan kayak gini. Kalau aku kena busung lapar gimana?”

“Heh, kamu nggak bisa liat harga menu di sini? Spaghetti-nya aja seratus ribu lebih. Mana duitku adanya cuma cepek.” Anya tertawa geli. Menertawai kemiskinan diri sendiri.

“Yah tapi mau sampai kapan kita duduk di sini? Kamu nggak lihat para pelayan di sana? Mereka dari tadi ngeliatin kita yang duduk di sini tapi nggak pesan apa-apa. Ntar kita disuruh bayar pajak kursi lagi.”

Anya terdiam. Dia lalu kembali melihat kepada Mayor Bintang. Laki-laki yang masih tampak tampan meski sudah kepala tiga itu terlihat sangat menyedihkan saat menunggu seseorang. Seseorang yang tidak pasti keberadaannya, datang atau kah tidak? Sedang dirinya yang ada di sana, hanya duduk seperti gadis bodoh yang tak berguna.

Namun, sesaat setelah Anya memperhatikan Bintang yang terus duduk menunggu yang tak pasti, tiba-tiba saja ia terpikirkan sesuatu.

“Rel ...,” lirih Anya.

“Eum,” sahut Aurel.

“Gimana kalau aku samperin Mayor Bintang?”

Aurel yang sedang dalam posisi lowbat, seketika bangkit dan langsung duduk dengan posisi tegak. “Apa kamu bilang? Kamu ... kamu mau nyamperin Mayor Bintang?”

Anya mengangguk.

“Buat apa Anya …?” tanya Aurel mulai panik.

“Feeling-ku bilang, calon istrinya nggak bakalan datang. Kamu nggak kasihan apa ngeliat dia duduk bengong kayak cowok bego’ kayak gitu? Mana makanan udah dia pesan sebanyak itu lagi. Aku mau gantiin malam kelabu dia menjadi lebih berwarna,” ucap Anya begitu yakin dan bersemangat.

“Nya, it's not good idea. Ntar kamu bilang apa sama Mayor Bintang kalau dia nanya, kenapa kamu bisa ada di restoran ini? Dia bakalan curiga kalau kita mata-matai dia, Nya.” Aurel masih tidak setuju. Ia benar-benar takut jika harus berurusan masalah hukum dengan yang loreng-loreng.

Namun sepertinya Anya tidak mau menghiraukan ketakutan Aurel. Ia tetap bangkit dan merapikan gaun selutut yang dikenakannya. “Kamu tenang aja, nggak bakalan ada yang terjadi sama kita.” Anya melangkah maju mendekati meja reservasi milik Bintang.

Sementara Aurel, melihat Anya melangkah dengan begitu percaya diri, membuatnya ingin masuk ke bawah kolong meja. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Sebab Anya adalah tipikal perempuan yang jika sudah memutuskan melakukan sesuatu, maka sulit untuk dicegat.

Kini Anya tinggal beberapa langkah lagi dengan meja Bintang. Suara heel lima sentimeter yang ia kenakan menciptakan irama yang mengalun teratur di indera pendengaran sang Mayor tampan tersebut.

Senyum bahagia pun langsung merekah dibibir Bintang. Sebelum Anya menyapanya, ia sudah lebih dulu berbalik dan melihat kepada gadis bergaun soft blue tersebut. Ia pikir, yang datang adalah Bulan, calon istrinya.

Akan tetapi ....

“Hai Om, selamat malam,” sapa Anya dengan senyum manis nan menggoda.

“Kamu?” tanya Bintang dengan raut wajah tak percaya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 107

    Setelah dirawat beberapa hari di rumah sakit, akhirnya Bintang diizinkan pulang. Kepulangan Sang Mayor disambut dengan pengamanan yang jauh lebih ketat dari biasanya. Meski Bintang bersikeras bahwa dirinya sudah pulih total dan bisa berjalan sendiri, Langit dan Kapten Bima tetap siaga mendampingi di sisi kanan dan kirinya sejak keluar dari pintu lobi rumah sakit Kasih Ibu.​Anya berjalan di sebelah Bintang, membawa tas berisi sisa perlengkapan selama rawat inap. Sorot matanya tak lagi sekeruh beberapa hari lalu, namun gurat waspada kini jelas tercetak di wajah ayunya.Rahasia besar yang pecah malam itu mengubah kepercayaan Anya sepenuhnya. Setiap sudut koridor rumah sakit dan setiap pasang mata berseragam loreng kini terasa seperti ancaman yang mengerikan. “Kenapa harus dikawal sebanyak ini, Bim?” bisik Bintang pada Bima.“Ini sesuai proses, Mayor. Sudah, kamu ikuti saja,” jawab Bima dengan nada yang sama berisiknya. “Iya, tapi ini bisa memancing atensi semua orang. Kamu lihat tuh,

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 106

    Bintang tidak segera menjawab. Ia justru mengunci ponselnya, membiarkan layarnya meredup, lalu meletakkannya kembali di atas nakas dengan gerakan yang sangat hati-hati. Ia menatap Anne dengan sorot mata penuh penghormatan, sekaligus kepedihan yang mendalam.​Di sebelahnya, Rahayu tampak terperanjat, menatap Bintang dan Anne secara bergantian dengan napas yang tertahan. “Jeng ... kamu ... kamu kenal dengan perwira di foto ini?” tanya Rahayu dengan suara yang bergetar.​Anne tidak langsung menjawab pertanyaan Rahayu. Matanya masih lurus menuntut jawaban dari Bintang. Tubuhnya semakin bergetar hebat dalam dekapan Anya yang kini ikut menangis dalam diam.“Saya … saya menemukan potongan berita ini di antara berkas-berkas lama mendiang Papa, Bun,” jawab Bintang akhirnya, suaranya terdengar begitu berat memenuhi sudut kamar VVIP yang senyap. “Sepertinya Papa menyimpan berkas penyelidikan internal yang sengaja dihentikan secara paksa oleh atasan mereka puluhan tahun lalu.”​Bintang menjeda ka

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 105

    Sebenarnya Bintang masih tetap ingin merahasiakan masalah ini dari keluarganya, tapi sepertinya tidak akan mungkin. Terlebih dari Anne. Ya, Anne adalah saksi kunci dari kasus yang tengah Bintang selidiki. Satu-satunya orang yang ada bersama Arjuna kala itu. Jadi, menyembunyikan kebenaran ini dari dua keluarga yang takdirnya saling bertaut adalah hal yang mustahil. Rahayu, ibunya, adalah janda dari seorang perwira yang karirnya terang benderang. Sementara Anne, ibu mertuanya, adalah istri dari seorang Arjuna Abrisam—pria yang selama puluhan tahun dianggap menghilang dan tidak diketahui keberadaannya hingga sampai saat ini. Bintang melirik sekilas ke arah Anne yang duduk tenang di dekat Anya bersama Andini. Wanita paruh baya itu tampak anggun dengan gurat wajah teduh yang menyimpan sejuta ketabahan, namun juga luka lama yang belum sepenuhnya mengering. “Bintang ... kamu dengar Mama, kan? Kok malah melamun sih?” tegur Rahayu, membuyarkan pergolakan batin yang berkecamuk di kepala Sa

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 104

    Bintang menangkup kedua belah pipi Anya dengan kedua telapak tangannya yang hangat, memaksa istrinya untuk menatap lurus ke dalam sepasang netra elangnya, mencoba menyalurkan ketegasan dan ketenangan seorang prajurit langsung ke dalam jiwa Anya yang sedang rapuh. “Anya, tatap saya. Dengarkan saya baik-baik,” ucap Bintang dengan suara baritonnya yang dalam, bergetar penuh penekanan namun sarat akan kelembutan. “Semua akan baik-baik saja.” ​Anya sesenggukan, mata bulatnya yang berair menatap Bintang dengan pandangan memohon yang teramat sangat. “Om, please ... stop, Om. Mereka punya pangkat, mereka punya kekuasaan. Kita bisa apa? Kita nggak punya apa-apa.” “Saya punya kamu, Anya,” sahut Bintang cepat. Anya semakin manangis mendengarnya. Kepalanya ia tunjukkan dalam-dalam, tak kuasa melihat wajah laki-laki yang sangat ia cintai. “Dua puluh tahun yang lalu, ayahmu terpaksa mengalah dan memilih mundur karena dia berjuang sendirian demi menyelamatkan kamu dan ibumu," tutur Bintang,

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 103

    Bintang kembali menghela napas berat. Ia sudah menduga, jika Anya pasti tidak akan percaya dengan kenyataan yang ia temukan. Dan mungkin, semua orang juga tidak akan percaya. Namun entah mengapa, feeling-nya mengatakan jika pria yang ada dalam surat kabar tersebut adalah ayah mertuanya, Arjuna Abrisam.“Anya, dengarkan saya ….” Bintang menegakkan posisi duduknya agar bisa lebih jelas melihat wajah Anya. “Saya tahu, kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang saya sampaikan. Tapi saya yakin, feeling saya tidak akan salah. Wajahmu, senyummu, itu sangat mirip dengan laki-laki yang pernah bertemu dengan saya dua puluh tahun yang lalu. Dia sangat mirip dengan kamu, Anya.”Anya menoleh dan menatap Bintang dengan mata yang basah. “Maksud Om ... Om pernah ketemu langsung sama Ayah?” tanyanya dengan suara serak yang nyaris hilang.Bintang mengangguk pelan. Tatapannya menerawang jauh, melintasi sekat waktu, saat dirinya masih menjadi seorang remaja laki-laki berseragam SMA.“Waktu saya masih

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 102

    “... kasus lama, Ma. Tapi ya … tidak penting juga.” Bintang berbohong.“Tidak penting? Kalau tidak penting, mana mungkin ada orang yang mau bunuh kamu, Bin. Pokoknya kamu harus kasih tahu mama. Mama dan Langit akan ke rumah masih liat kamu nanti malam. Tunggu adikmu pulang dinas dulu.”Bintang terdiam. Kalau Rahayu sudah membuat keputusan sulit untuk ia bantah. Lagi pula, mana mungkin ia bisa terus-terusan menyembunyikan rahasia besar dari keluarganya. Apalagi rahasia itu menyangkut ayah mertuanya sendiri.“Anya melirik ke arah Bintang yang tampak mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ekspresi wajah Sang Mayor kembali mengeras, menyiratkan beban pikiran yang teramat berat. Melihat suaminya seperti orang bisu, Anya berinisiatif mengambil alih pembicaraan. Ia mendekatkan ponsel Bintang ke bibirnya.“Iya, Ma ... nanti malam Anya tunggu sama Om Bintang di kamar rawat, ya. Tapi Mama janji harus jaga kesehatan, jangan sampai tekanan darah Mama naik karena panik,” ucap Anya lembut, mencoba men

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 7

    Namanya Rea, lebih lengkapnya Reana Ratisha. Ia muncul di sela-sela percakapan antara Anya dan Aurel. “Nih,” Rea melempar selembar uang seratus ribu yang dilipat simetris ke atas meja. Anya dan Aurel terkejut secara bersamaan. Mereka pun langsung menatap perempuan yang biasa dipanggil dengan se

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 6

    Bintang duduk di kursi ruang kerja sembari mengaktifkan ponsel miliknya yang padam sejak semalam. Ia bahkan memasang charger karena mengira jika ponsel itu kehabisan daya.Setelah mengantar Anya pulang ke kosannya, ia memang tidak sempat untuk mengecek ponselnya karena sudah terlalu lelah. Benda pi

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 5

    Sambil ditarik paksa oleh Bintang, Anya terus menyapu pandang ke seluruh bagian restoran. Terpantau sudah tidak ada siapa-siapa lagi di sana, termasuk Aurel. Restoran juga sepertinya akan segera tutup.‘Syukurlah kalau perempuan itu sudah pulang,’ batin Anya.Sampai di luar restoran, Bintang pun me

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 4

    BAB 4“Ya Om, ini aku. Anya,” jawab Anya santai.“Se—sedang apa kamu di sini?” tanya Bintang.“Om sendiri, lagi apa?”“Saya tanya kamu, kamu jangan tanya saya balik.”Anya mengulum senyum. “Aku lagi nungguin temen, Om. Tapi kayaknya dia nggak jadi datang. Terus nggak sengaja, aku ngeliatin Om Binta

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status