MasukErin Ourora Carolien Ferdinad terjebak dalam pernikahan dengan laki-laki yang tidak pernah masuk dalam daftar rencana masa depannya. Ia ingin lari dengan membuat rencana sempurna untuk bisa berpisah, namun tanpa dia sadari jika laki-laki yang menjadi suaminya Melvin Nathaniel mengawasi semua sisi kehidupannya dan membuatnya terpenjara akan cinta laki-laki itu. Mampukah Erin lepas dari pernikahan yang tidak dia inginkan atau justru terpenjara cinta dari Melvin? Jangan lupakan Eilen, wanita sempurna dari masa lalu Melvin yang siap kembali pada laki-laki yang begitu dia cintai.
Lihat lebih banyak“Erin, ada yang ingin Dad sampaikan,” ujar Rio memulai.
Rio memulai pembicaraanya setelah melirik ke arah istrinya untuk meminta persetujuan. Erin yang mendengar ucapan sang Dad langsung meletakkan sendoknya. Dia paham jika sesuatu yang penting akan disampaikan kepadannya.
“Dad ingin mengatakan apa?” tanyanya dengan raut wajah penasaran.
“Kamu ingat dengan Melvin? Anak Uncle Bima?” lanjut Rio.
Erin mengangguk pelan. Tentu saja dia ingat, dia tidak mungkin lupa dengan orang yang bernama Melvin. Kenang buruk yang diberikan anak sahabat kedua orang tuannya.
“Dia akan segerah menikah,” lanjut Rio lagi.
“Oh.” Erin tersenyum tipis. “Kasihan sekali yang akan menjadi istrinya, dia kan orangnya menyebalkan,” batinya mengumpati.“Selamat untuk mereka,” ujar Erin. “Haa aku pikir Dad akan mengatakan apa,” bantinya lagi.
Wajahnya sudah serius. Ternyata hanya sebuah informasi yang tidak ada manfaatnya dan juga tidak penting untuk dia ketahui. Erin kembali meraih sendok yang tadi ia letakkan untuk melanjtkan makan malamnya.
“Bukan mereka Erin, tapi kamu.”
“Dag!”
“Apa!” sendok yang tadi Erin ambil kembali ketempatnya semula. Jatuh dengan dentingan piring bersamaan dengan suara teriaknnya.
Erin tidak sadar beteriak. Dia kaget dengan apa yang baru dia dengar. Bahkan secara spontan Erin berdiri saking kagetnya dengan ucapan yang baru saja disampaikan oleh Daddynya.
“Tidak mungkin! Dad pasti bercanda, kan?” Setelah mengucapkannya, Erin mengalihkan tatapannya menuju sang Mommya Bianca, meminta persetujuan jika apa yang baru dikatakan oleh Dadnya hanya sebuah candaan.
“Dad mu benar sayang. Kami akan menjodohkanmu dengan Melvin.”
Mendengar jawaban sang Mommy, membuat kedua netra Erin seketika memanas dan tidak menunggu waktu lama, cairan bening sudah jatuh dari kedua netranya membasahi pipinya. Antara marah dan bingung, itu yang dirasakana oleh Erin saat ini, kenapa tiba-tiba kedua orang tuannya mengingkan dia menikah dengan Melvin, laki-laki yang paling tidak dia sukai.
“Dad, Erin tidak mau,” tolak Erin dengan suara bergetar.
Rio tidak tega, melihat apa yang terjadi dengan putrinya, tapi dia harus melakukan ini, demi kebaikan putrinya sendiri. Laki-laki itu beranjak dari tempatnya, lalu mendekat ke arah putrinya. Rio meraih tangan Erin dan mengajaknya duduk kembali.
"Erin." Suara itu keluar dari mulut Rio sambil membelai rambut panjang putrinya.
Erin seketika menatap laki-laki yang begitu ia sayangi di dunia ini. Lelehen air matanya membasahi kedua pipinya putinya yang sudah memarah, dia ingin mengusap, tapi Dadnya lebih dulu melakukannya. Bukannya berhenti, tapi justru cairan bening itu soal berlomba keluar dari netranya.
"Maafkan Dad," ucap Rio dengan nada rasa bersalah, "Dad terpaksa melakukan ini," lanjutnya lagi.
Erin, gadis itu menampilkan raut wajah bingung. Tentu saja dia begitu, pasalnya kalimat terakhir Dadnya adalah terpaksa. Kenapa? Ia penasaran dengan alasa kata terpaksa dari lak-laki di depannya ini.
"Moonlight Hotel..." Rio menahan kalimat yang ingin keluar dari mulutnya.
Dia menatap dalam wajah sedih putrinya. Berusaha memilih kalimat tepat yang bisa dipahami oleh Erin dan menerima keputusannya nanti, tapi sebelum Rio kembali bicara Erin memilih bertanya. Erin penasaran sebenarnya ada apa, kenapa Dadnya tiba-tiba membicarakan tentang Moonlight Hotel, apa terjadi sesuatu.
"Ada apa Dad? Kenapa dengan Moonlight Hotel?" tanya Erin penasaran bercampur cemas. Apalagi raut wajah Dadnya semakin menambah kecemasannya.
"Sebelum kita ke sini, para pemegang saham mengadakan pertemuan," Rio memulai, Erin menyimak setiap kata yang diucapkan oleh Rio.
Erin meremas gaun yang ada di pahannya mendengar setiap kata yang diucap Daddnya. Ia tertunduk dalam, indara pendengaranya berusaha memahami dan berfikir. Benar, dia memang harus melakukannya dan tidak ada pilihan untuk menolak. Dia tidak menyangka malam ulang tahunnya dia harus memutuskan untuk menikah dengan Melvin Nathaniel.
“Baik Dad, aku bersediah menikah dengan Melvin.”
“Tapi Dad, apa Erin bisa meminta syarat dalam pernikahan ini? tanya Erin dengan nada ragu, tapi meskipun begitu dia memang harus mengajukan syarat ini agar kedepannya dia bisa mengambil langkah yang bisa menyelamatkannya. Entah apa, tapi yang jelas hanya dia yang tau.
“Apa? Rio balik bertanya dengan kening mengerut.
***
“Erin!” suara itu membuat Erin tersentak dan membuatnya kembali tersadar setelah melamun beberapa saat, dan lebih kaget lagi saat dia menyadari jika di depannya sudah ada Melvin yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Laki-laki itu menatapnya dalam, entah apa yang dia pikirkan Erin tidak tahu.
“Saya ulangi lagi, Erin apa kamu sudah siap mengucapkan janji pernikahanmu?”
“Janji pernikahan? Apa benar aku harus menikah dengan laki-laki ini?” batin Erin seolah masih tidak terima. Erin masih berusaha mencerna situasi yang dia alami saat ini. Menerima fakta jika dia akan menjadi istri dari Melvin.
Melvin yang juga dari tadi menunggu apa yang diperintahkan untuk Erin telihat mulai jengah, karena mulai kesal karena Erin tak kunjung mengucapkan jani pernikahan, Melvin mendekat dengan pelan lalu menunduk mendekati indra pendegaran Erin, lalu berbisik.
“Apa kamu bisu!”
Mata Erin seketika membelalak dengan penampilkan raut wajah kesal dengan satu kalimat dari Melvin dan dia sudah merabah akan bagaimana rumah tangganya nanti. Dia menikah dengan laki-laki yang dari dulu sampai sekarang menyebalkan di hidupnya.
“Aku ingin mencakar wajahnya,” batin Erin kesal.
“Maksud kamu, aku harus turun di sini?”ulang Erin tidak percaya dengan kata yang barusan dia dengar. “Apa dia bercanda, dia ingin meninggalkan kan aku di tengah jalan,” batinya, masih tidak percaya. “Jarak Faradise Hotel dari sini tidak lebih dari seratus meter dan tempat kamu kuliah tidak jauh dari gedung Paradise Hotel.”“Lalu? Apa hubungannya dengan kamu menyuruhku turun di sini?” tanya Erin kebingungan dengan nada sedikit kesal. Wajarkan dia bereaksi seperti itu. Dia diusir dari dalam mobil dengan alasan yang membuatnya bingung. Sebelum memberi jawaban pada Erin, pemilik Paradise Hotel itu terlihat menarik sudut bibirnya lalu menatap ke arah Erin. “Aku bersedia menikah dengan Melvin dengan syarat, aku tidak ingin siapapun tahu pernikahan ini … kamu ingat perminat itu, aku yakin kamu tidak melupakan permintaan itu Erin Aurora Caroline Ferdinad!”“Haaa,” Erin menghembuskan nafasnya jengah. Rasanya Melvin terlalu berbelit-belit memberinya penjelasan yang membuatnya tambah kesal saj
Erin terlihat ketakutan melihat orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam aparteman, kenapa bisa. Pertanyaan yang ada di benak Erin saat ini. “Saya Lev, sekertaris Tuan Melvin, Maaf sudah membuat anda kaget,” ucap Lev. Dia datang ke sini atas permintaan Melvin dan keberadaan Erin di aparteman ini tentu saja sudah diketahui oleh sekertaris tersebut. Raut wajah ketakutan Erin langsung menghilang di wajah cantiknya saat mendengar penjelasan Lev, berganti dengan tatapan mengamati. “Ah iya kenapa aku tidak sadar, dia kan juga ada di pernikahan aku dengan Melvin,”batin Erin menyadari jika laki-laki yang ada di hadapanya sudah pernah ia lihat saat di hotel. ‘Maaf Nona saya datang kesini ingin mengambil berkas di meja kerja Tuan Melvin dan juga menyampaikan jika Tuan Melvin akan berada di kantor untuk waktu yang lama, jadi saya akan mengantar anda ke rumah orang tua Tuan Melvin. Erin sedikit kaget mendengar informasi yang disampaiakan olah sekertaris suaminya ini, apa sesibuk itu suaminya
“Sakit!” keluh Erin sambil mengusap dahinya yang baru saja disentil oleh Melvin. “Iiihh kenapa kamu menyentil ku, sakit tahu!” pekiknya kesal dengan raut wajah merah padam.“Itu cara supaya isi kepalamu kembali normal,” Balas Melvin seolah bisa menebak apa yang sementara dipikirkan oleh Erin. “Memang apa isi kepalaku, memang kamu tahu?” tentang Erin, meminta Melvin mengatakan apa yang dia pikirkan sampai Melvin seenaknya mengatakan seperti itu padannya, tangannya masih terus mengusap dahinya untuk menghilangkan rasa sakit akibat ulah Melvin. Melvin tersenyum miring, lalu dengan pelan kembali mendekati Erin sambil mendudukkan kepalanya menatap wajah kesal wanita yang sudah menjadi istrinya. “Ingin aku realisasikan saja apa yang tadi kamu pikirkan. em?”.Erin seketika panik dan menggeleng cepat, paham maksud dari ucapan Melvin “Tidak!”. “Kalau begitu cepat ganti bajumu dan tidur, besok pagi kita akan kembali ke partemanku”.“Apartemen? Maksudnya kita berdua. Eh tunggu, aku tidak meng
Sesuai permintaannya pernikahannya dengan laki-laki yang saat ini berjalan di sampingnya, terlaksana dengan tertutup. Tak ada media dan tak ada rekan bisnis dari kedua kekar mereka yang hadir. Hanya keluarga inti, itu adalah suara yang di inginkan Erin saat mengiyakan pernikahannya. "Ini serius aku sudah menjadi istri orang menyebalkan ini?" batin Erin sambil menatap punggung lebar di depannya. Ah dia tidak akan lupa kalimat pertama yang di keluarkan Melvin tadi, mengatakan jika dia bisu. Erin meremas gaunnya. Iya kembali kesal saat mengingat ucapan Melvin tadi. "Aku sungguh ingin mencakar wajahnya. Tidak aku ingin mengigit lehernya" batinya kesal. Sambil menatap tajam lebar putih bersih milik suaminya. “Tiin” Suara pintu lift terbuka. Erin Langung mengubur rencana balsa dendamnya, dan tanpa saling bicara, Melvin bergeser sedikit menjauh seolah memberi isyarat agar Erin masuk lebih dulu ke dalam lift. Malam ini sesuai dengan agenda pernikahan mereka, Erin dan Melvin akan menghab












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.