تسجيل الدخول“Jangan pikirin itu, Bu. Anggap aja Ibu nggak pernah lihat. Ibu jangan khawatir, antara aku dan Tuan Sagara nggak pernah ada hubungan yang nggak pantas. Kami hanya menjalankan peran masing-masing dalam batas yang wajar,” kata Sri menenangkan.Bu Sulastri mengangguk. Kali ini dia sepenuhnya percaya meski rasa bersalahnya tak bisa disembunyikan lagi.Hari pengumuman kelulusan tiba dengan atmosfer yang penuh suka cita. Di aula besar SMA Tunas Bangsa—sekolah yang berada di bawah naungan yayasan pendidikan milik keluarga Mahardika—nama Sri Rejeki menggema di barisan paling depan. Dengan perjuangan keras di antara himpitan ekonomi dan peliknya kehidupan pribadi, Sri resmi dinyatakan sebagai lulusan terbaik tahun ini dengan nilai ujian tertinggi.Setelah acara sekolah usai, Sri segera pulang ke rumah kontrakan dengan membawa selembar kertas kelulusan. Namun, begitu dia sampai, keadaan kaca jendela rumah tampak pecah. Beberapa pot terguling dan berantakan, mem
Keheningan yang pekat mendadak merayap, menyelimuti ruang tengah yang sempit itu. Pelukan Bu Sulastri perlahan melonggar, seolah wanita paruh baya itu baru saja menyadari bahwa lidahnya telah menggelincirkan sebuah kebenaran yang fatal. Ia buru-buru menghapus air matanya dengan ujung lengan baju, wajahnya memucat, dan pandangan matanya bergerak gelisah, menghindari tatapan lurus dari Sri."I-Ibu ...." Sri bersuara, nadanya bergetar bukan lagi karena tangis, melainkan karena kebenaran itu baru keluar tanpa dia tanya.Bu Sulastri tampak panik. Ia bangkit berdiri dengan terburu-buru, mencoba berjalan menggunakan walkernya menuju kamar untuk menghindari konfrontasi.“Ibu ... Ibu cuma salah bicara karena tadi terlalu sedih dan kalap, Sri. Ibu salah bicara. Kamu jangan masukkan ke dalam hati, ya. Sudah, ganti pakaianmu—""Ibu, aku udah tahu semuanya,” kata Sri tegas. “Ibu nggak usah berbohong lagi. Aku udah tahu.”Bu Sulastri berhenti dan b
Suasana di dalam rumah kontrakan sore itu terasa luar biasa sunyi, jenis kesunyian yang mencekam dan membuat bulu kuduk meremang.Sri melangkah masuk dengan sisa rasa cemas yang masih tertinggal di dadanya. Ia baru saja pulang dari sebuah kafe, setelah memenuhi undangan pertemuan mendadak dari Aurora.Sri menghela napas panjang, mencoba menepis bayangan wajah angkuh Aurora dari benaknya. Hatinya juga masih sedikit diselimuti rasa bersalah akibat canggungnya hubungan dengan sang ibu pasca-insiden selebaran dan gaun kemarin. Namun, begitu Sri mendorong pintu ruang tengah, langkah kakinya seketika terkunci.Bu Sulastri duduk di kursi kayu dengan punggung tegak, namun bahunya bergetar hebat. Di atas meja kayu di hadapannya, tergeletak beberapa lembar kertas dokumen berlogo hukum yang sangat formal.Itu adalah dokumen Non-Disclosure Agreement (NDA) alias surat kontrak hubungan palsu antara Sri dan Sagara Mahardika.Jantung Sri rasanya sepe
Ketegangan di rumah kontrakan belum sepenuhnya mereda sejak insiden selebaran dan gaun tempo hari. Hubungan Sri dengan Bu Sulastri masih terasa canggung dan diselimuti keheningan yang menyesakkan.Namun, di tengah situasi rumah yang mendingin, sebuah paket untuk Sri tanpa nama pengirim datang. Ketika Sri membuka paket tersebut di kamarnya, dia terlonjak kaget.Aroma bangkai tikus menyebar ke seluruh kamar sempit, membuat Sri sangat mual dan hampir muntah. Sri tahu ini adalah sebuah teror. Tapi dari siapa?Ketika gadis itu menemukan secarik kertas terlipat di dalamnya, dia mengambilnya.[Temui aku di kafe Le Petit, Jalan Diponegoro. Jam 3 sore. Jangan coba-coba mangkir kalau kamu tidak ingin ibumu tahu hubungan rahasiamu dengan Sagara.]Sri tidak perlu menebak dua kali siapa yang mengirimkan paket itu. Gaya bahasa yang angkuh dan penuh ancaman itu sudah pasti milik Aurora Natawijaya.Meskipun tahu ini bisa jadi adalah sebuah j
Beberapa hari berlalu. Bagi Sri, hari Senin adalah hari yang penuh dengan kesibukan administratif.Setelah menghabiskan beberapa jam di sekolah untuk mengurus berkas-berkas kelulusan pasca-ujian, ia menaiki ojek online untuk pergi bekerja di apartemen Sagara seperti biasa.Sementara itu, di sebuah warung kopi di dekat area sekolah Sri, Pak Surya sedang duduk dengan rokok yang terselip di jemarinya.Matanya yang merah akibat kurang tidur terus memikirkan sosok pria kaya raya yang mengantarkan putrinya tempo hari. Sebagai seorang penjudi yang terlilit utang di mana-mana, insting serakahnya menuntut jawaban dan berharap melihat mobil mewah itu lagi di sana.Saat ia sedang menguping obrolan beberapa anak sekolah yang melintas, pandangannya tidak sengaja tertuju pada tumpukan kertas sampah di sudut dekat tempat pembuangan. Di sana, selembar kertas berukuran A4 yang sudah agak lecek dan kotor menarik perhatiannya.Pak Surya membungkuk, memu
Pagi hari di apartemen The Imperial Residence diselimuti keheningan yang menawan. Sagara berdiri di dekat meja panjang yang terletak di koridor luar ruang kerjanya. Matanya yang tajam menyipit, tertuju lurus pada sebuah buku bersampul kulit hitam tebal yang tergeletak di sana.Buku itu berisi seluruh data internal, laporan keuangan, hingga rekam jejak kecelakaan keluarga Natawijaya sepuluh tahun lalu yang ia kumpulkan secara diam-diam. Sagara sangat detail dan perfeksionis. Dia tahu persis posisi terakhir buku itu saat ia letakkan semalam. Dan pagi ini, buku itu telah bergeser beberapa sentimeter dari posisi semula.Sebuah senyuman sinis yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya. Hanya ada satu orang lain di apartemen ini. Sri.Sagara tahu gadis itu telah menyentuh dan kemungkinan besar membaca isi bukunya. Namun, alih-alih langsung mengonfrontasi atau bertanya, Sagara memilih untuk diam. Ia ingin mengamati dari jauh dan melihat apa sebenarnya yang a







