Mag-log inSaat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD.
"Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia mengalami benturan kepala dan kemungkinan gegar otak ringan," teriak Elang dengan suara yang jelas dan tegas, menunjukkan sisi profesionalnya yang tak tertandingi. Para perawat langsung bergerak cepat, mengikuti setiap instruksi dokter yang terkenal tegas dan profesional tersebut. Begitu sampai di IGD, Elang dengan hati-hati menempatkan Zoey di atas ranjang pemeriksaan. Hati-hati sekali. Tangan-tangan terampilnya mulai memeriksa kondisi gadis itu dengan seksama, mulai dari memeriksa luka di bagian belakang kepala hingga memeriksa fungsi sarafnya. Beberapa perawat membantu mengambil alat-alat yang dibutuhkan, sementara Dean sudah berdiri di pojok ruangan dengan raut wajah yang masih bingung. "Tekanan darahnya sedikit rendah, denyut nadi agak cepat dok," lapor salah satu perawat yang membantu memeriksa vital tanda Zoey. Elang mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Zoey yang masih matanya masih. Ia mengambil alat refleks untuk memeriksa respon otak gadis itu. Setelah beberapa tes sederhana, dia menghela napas lega namun tetap waspada. "Gegar otak ringan memang ada, tapi tidak terlalu parah. Tapi kita perlu melakukan CT Scan untuk memastikan tidak ada perdarahan di dalam kepala," ucap Elang. Dean sudah mendekat ke sisi ranjang. "Aku akan mengatur jadwal CT Scan. Apa kau akan menangani sendiri?" ucap Dean lalu bertanya. "Ya," jawab Elang singkat. Ia masih fokus pada Zoey, mengatur posisi kepala gadis itu agar tidak membebani bagian yang terluka. Ketika ia menyentuh dahi Zoey yang sedikit berkeringat, tangannya secara refleks diam lebih lama dari yang seharusnya. Dean terus menatapnya dengan tatapan penuh arti. "Aku baru lihat kau yang seperti ini." bisiknya pelan. Nada suaranya setengah menggoda dan ia tersenyum penuh arti pada sahabatnya itu. "Dia memang pasien." balas Elang langsung seolah tidak peduli sama sekali. Sayangnya seorang Dean yang sudah bersamanya bertahun-tahun tidak akan percaya begitu saja. Jelas Dean sangat amat mengenalinya. "Pasien istimewa maksudmu?" bisik Dean lagi. Kali ini Elang memilih cuek. Sementara itu, berita tentang apa yang terjadi di aula dan Zoey yang pingsan sudah mulai menyebar ke seluruh rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat berkumpul di luar ruangan IGD, berbisik-bisik tentang kejadian yang luar biasa itu. Banyak yang tidak menyangka bahwa Elang akan begitu memperhatikan seorang dokter residen yang sering menjadi bahan omongan tersebut. Audrey juga sampai di depan ruangan IGD, namun dia memilih tidak masuk. Dia hanya bisa melihat dari celah pintu bagaimana Elang dengan penuh perhatian merawat Zoey. Rasa cemburu dan iri langsung timbul dalam hatinya membuatnya hampir tidak bisa bernapas. Ia mengingat bagaimana Zoey selalu dianggap sebagai orang yang tidak mampu, bahkan pernah terdengar kabar bahwa dia menerima uang dari pasien untuk mendapatkan perawatan lebih baik, sebuah tuduhan yang belum pernah terbukti namun sudah membuat nama Zoey menjadi jelek di seluruh rumah sakit ini, sekarang menjadi bahan omongan lagi akibat tindakan perhatian dari dokter sepopuler Elang. "Tidak mungkin," bisik Audrey dengan suara yang hampir tak terdengar. Rasanya tidak rela sekali melihat Elang sangat memperhatikan gadis itu. "Mengapa dia memperhatikan perempuan seperti itu? Dia seorang dokter, itu memang pekerjaannya. Wanita itu terlalu rendahan. Elang tidak akan menyukai wanita seperti itu." ucapnya pada dirinya sendiri namun pandangannya terus menatap ke dalam dengan wajah penuh perhitungan dan rasa iri yang besar sekali. Harusnya Elang memperhatikan dia yang jauh diatas segala-galanya dari perempuan itu. Beberapa menit kemudian, Zoey perlahan membuka mata. Kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut kuat. Ketika ia melihat wajah Elang yang berada tepat di depannya, dia kaget. Ia mencoba berdiri namun tubuhnya masih terlalu lemah. Elang cepat-cepat menahannya. "Jangan bergerak sembarangan," ucap Elang agak dingin. Atau lebih ke, galak? "Kau mengalami gegar otak ringan. Perlu pemeriksaan lanjutan." tambahnya. Zoey mencoba mengingat-ngingat apa yang telah terjadi lalu menatap dokter tampan itu dengan perasaan tidak enak. "Maaf dok ... aku tidak sengaja membuat masalah," bisik Zoey, suaranya lemah. Ia agak malu juga pada pria itu. Elang menatapnya dengan tatapan yang sulit ditebak. "Jangan salahkan dirimu sendiri." katanya. Zoey terdiam. "Kita akan segera melakukan CT Scan," ucap Elang lagi dengan suara yang profesional. "Setelah itu kita akan tahu kondisi pasti kepalamu." Tanpa menunggu jawaban, Elang membantu Zoey turun dari tempat tidur untuk membawanya ke ruangan CT Scan. Ia sendiri yang akan mengantarnya langsung karena tidak ingin ada kesalahan sedikit pun dalam perawatan gadis itu. Saat Zoey dibawa keluar dari ruangan itu, Audrey yang masih berdiri di luar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Para perawat di ruang IGD juga langsung berkumpul dan bergosip heboh. Seakan klimaks dari semua yang terjadi hari ini bukanlah perampok masuk dan berbuat kacau di sini, tapi dokter Elang yang tampan menggendong dokter residen yang terkenal karena nama buruknya. Koridor menuju ruang CT Scan terasa lebih panjang dari biasanya. Langkah Elang cepat namun tetap terkontrol, satu tangannya menopang bahu Zoey, sementara tangan lainnya menahan kepala gadis itu agar tetap stabil. Zoey tidak banyak bicara. Ia hanya menggigit bibir bawahnya pelan, mencoba menahan pusing yang datang berulang-ulang, dan canggung bersamaan pada dokter Elang. Beberapa staf yang berpapasan langsung menyingkir memberi jalan. Tatapan mereka tidak bisa disembunyikan, penuh rasa penasaran, bisik-bisik yang tertahan, dan spekulasi liar yang mulai berkembang. "Pelan-pelan … kita sudah sampai," ucap Elang saat pintu ruang CT Scan terbuka. Zoey dibaringkan dengan hati-hati di atas meja pemeriksaan. Teknisi radiologi segera bersiap, sementara Elang masih berdiri di sisi kepala Zoey, memastikan posisinya benar. "Kau akan masuk ke dalam mesin. Jangan bergerak, apa pun yang kau rasakan, paham?" jelasnya dengan suara rendah namun tegas. Zoey mengangguk pelan. Matanya sempat menatap Elang, seakan mencari sesuatu, entah apa. Mesin mulai bergerak. Suara dengung halus memenuhi ruangan. Dari balik kaca, Elang berdiri dengan tangan terlipat di dada, matanya tidak lepas dari monitor… dan dari Zoey. Dean baru saja sampai, berdiri di sampingnya. "Kalau orang lain, kau biasanya sudah serahkan ke dokter jaga," gumam Dean tanpa menoleh. Elang tidak langsung menjawab. "Ini kasus kepala. Aku hanya memastikan," balasnya datar. Dean menoleh padanya cukup lama, lalu tersenyum tipis. "Ah, hanya memastikan?" ucapnya kemudian sambil mengangguk-ngangguk. Tentu saja dia tidak percaya begitu saja. "Junior kita memang cantik sekali, wajar kalau seorang Elang peduli. Biar bagaimana pun juga, kau tetap laki-laki normal." sindirnya sengaja. Elang langsung memberinya tatapan tajam. Dean langsung menutup mulutnya rapat-rapat namun senyum itu tetap terpampang di wajahnya."Ahhh... Lebih keras sayang.. Uchh... Ya, enak... Enak sekali...""Ohhh..""Ahhh!'Sialan. Elang terus mengutuk dalam hati. Suara itu berasal. Dari kamar sebelah. Kamar Nancy dan suaminya. Ya, adiknya memang sudah menikah. Ia masih tidak percaya adiknya akan melakukan itu dengan suaminya di saat ada wanita lain dalam kamarnya. Zoey tidur di kamarnya malam ini. Astaga. Pandangannya berpindah ke Zoey yang duduk mematung di atas ranjang besar miliknya. Wanita itu tampak menunduk. Tentu saja Elang tahu ia sedang menahan malu. Suara desahan iparnya karena kenakalan yang di buat oleh Nancy betul-betul membuat Elang dan Sura menjadi canggung. Kamar rasanya jadi panas padahal AC-nya cukup dingin. Tapi diam-diam Elang senang melihat Zoey yang salah tingkah. Sebagai seorang laki-laki normal, bisa saja dia ikut terpancing dan menyerang kembali wanita yang duduk di kasurnya itu, seperti yang dia lakukan tadi di dalam
Elang buru-buru berlari cepat ke arah Nancy dan menutupi mulut perempuan itu. Adiknya ini benar-benar bikin jantungnya mau copot saja, ya ampun. "Diam Nancy, diam!" katanya dengan suara pelan namun tegas. Tangannya membekap mulut Nancy, membuat sang adik kesulitan berbicara bahkan bernafas. Zoey yang berdiri di ujung ruangan, mukanya sudah memerah seperti tomat. Dia berkali-kali lipat lebih gugup dari Elang, rasanya ingin menghilang saja dari rumah ini. Apalagi beberapa saat setelah itu, ada yang muncul entah dari mana. Mungkin ada ruangan lain di yang tersembunyi di ruangan tengah ini, karena tiba-tiba saja sudah ada yang muncul. Begitu melihat mereka, Zoey langsung mengenalinya. Kalau tidak salah ingat mereka adalah pasangan suami istri, alias orangtua dari dokter Elang dan Nancy. Zoey pernah melihat gambar mereka di majalah dan beberapa surat kabar. Orang tua Elang dan Nancy adalah salah satu pebisnis terkenal di negara ini. Keberadaan mere
"Di mana rumahmu?"Elang bertanya, memecah keheningan di antara mereka. Zoey yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela, terlalu malu pada Elang karena kejadian di bar tadi, kini menolehkan kepalanya sedikit. Untung pandangan pria itu fokus ke jalan, tidak menatapnya sama sekali. Setidaknya itu mengurangi sedikit rasa malu Zoey. "Mm, turunkan saja aku di rumah sakit dok." jawabnya. Kali ini Elang melirik padanya. Dengan cepat Zoey memalingkan wajahnya kembali. "Rumah sakit? Kau ada shift malam ini?""Mm ..." Zoey sedang memutar otaknya memikirkan alasan yang tidak akan membuat pria itu curiga. Dia juga tidak mungkin bilang kan kalau dia tidak ingin pulang ke rumah karena biang masalah dalam hidupnya ada di rumahnya sendiri. "Baiklah, aku mengerti." kata Elang tanpa bertanya lagi. Zoey pun bernafas lega. Setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan banyak alasan. Mobil Elang terus berjalan dalam kecepatan sedang
Zoey mengenakan kembali pakaiannya dengan tergesa-gesa, jari-jarinya sedikit gemetar saat mengaitkan kancing bajunya satu per satu. Tubuhnya masih panas, napasnya belum benar-benar teratur, dan dalam kepalanya gema desahan yang tadi ia keluarkan masih berputar-putar seperti lagu yang tidak mau berhenti.Elang berdiri tak jauh darinya, menyilangkan tangan di dada, wajahnya tenang tapi matanya jelas mengamati setiap gerakan Zoey dengan cara yang membuat gadis itu makin salah tingkah."Mm, ki-kita sudah bisa keluar?" ia bertanya dengan suara lirih. Topeng yang ia pakai akhirnya lolos dari wajahnya. Elang dapat melihat keseluruhan rona merah di wajah Zoey. Lelaki itu puas. Meski tersiksa sekali rasanya harus menahan diri dari sesak yang dia rasakan di balik celananya. Sialan. Dia baru merasakan sendiri akibat dari permainan nakalnya terhadap wanita itu. Namun satu hal yang membuat Elang penasaran adalah, apakah tadi adalah pertama kalinya gadis itu
"Do-dokter ..."Zoey menyentuh lengan Elang, tetapi tidak marah atau pun berusaha mendorongnya menjauh. Ini gila. Apa-apaan ini? Tapi situasi mereka juga sedang dalam kondisi yang membutuhkan kerjasama. Dia tidak bisa apa-apa sekarang. Pandangan Elang lurus ke Zoey, menatap gadis itu seolah ingin melihat ekspresinya saat tangan nakalnya bermain di bawah sana. Jari-jarinya mulai bergerak menggesek-gesek klitoris Zoey. Itu adalah salah satu bagian paling sensitif untuk menggoda pasangan tersiksa dalam kenikmatan. "Ahh ...."Zoey refleks mendesah. Tapi suara desahannya pelan, ia malu bersuara keras. Apalagi akting mereka ini dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tangan Elang benar-benar menyentuh kulitnya. "Mendesahlah lebih keras, hanya ini cara agar orang-orang itu percaya dan pergi dari sana." gumam Elang. Tapi Zoey malu. Ia seakan tidak peduli dengan orang-orang di luar sana, karena otaknya sudah di penuhi dengan tindakan gila y
Zoey membiarkan tangannya di tarik oleh dokter Elang dan di bawa pergi oleh pria itu dari tempat yang tidak dia sukai ini. Keduanya berjalan dalam diam, Zoey kaget melihat pria itu berada di tempat ini juga. Pasti lelaki itu akan berpikir dia bukan wanita baik-baik. Karena gosip yang menyebar mulai dari dia kuliah, sampai bekerja di rumah sakit, semuanya terbukti dengan mereka bertemu malam ini di sebuah bar. Dengan gaya berpakaiannya yang memakai rok mini, serta laki-laki yang datang bersamanya tadi, tentu saja susah mengelak kalau dia adalah wanita baik-baik, dan dia datang di sini karena ... "Bos, kami tidak melihatnya di toilet, sepertinya perempuan itu mau kabur!" Suara yang terdengar kuat itu sampai di telinga Elang dan Zoey. Zoey berubah panik, Elang dapat melihatnya. Genggaman pria itu makin kuat. Langkahnya bertambah cepat, sepertinya mereka tidak bisa keluar sekarang. Elang memutar otaknya, saat melewati sebuah ruangan kosong, pria itu segera
Zoey terperanjat. Sentuhan tangan Elang di pergelangan tangannya terasa kuat tapi tidak menyakitkan. Ia mendongak perlahan, menatap lelaki itu dengan pandangan tak tentu arah. Sorot mata Elang yang biasanya tenang kini terlihat lebih dalam, seperti mencoba membaca isi hati Zoey tanpa kata.
Elang menyalakan mesin mobil, lalu melirik ke arah Zoey yang duduk kaku di bangku penumpang, meremas- remas ujung bajunya yang kotor dan berlumpur. Wajah gadis itu menunduk dalam-dalam, seperti sedang berusaha mengecilkan dirinya sekecil mungkin agar tidak terlalu mencolok di dalam mobil mahal it
Paginya di rumah Elang, "Pa, ma, aku berangkat kerja dulu." kata Elang buka suara. Ia sudah menunda beberapa jam untuk pergi ke sebuah desa dalam rangka pengobatan gratis. Beberapa hari ke depan d mereka memang ada program pengobatan gratis di desa-desa. Sudah ada beberapa des
Dua hari berlalu dengan cepat. Zoey akhirnya bisa masuk kerja lagi. Jujur, lebih baik dia kerja dan menghabiskan waktunya di rumah sakit, daripada harus diam di rumah. Karena di rumah dia tidak tenang. Orangtuanya sudah meninggal, sekarang dia hanya tinggal dengan tante dan sepupunya yang sifat mer







