LOGIN"Ahhh... Lebih keras sayang.. Uchh... Ya, enak... Enak sekali...""Ohhh..""Ahhh!'Sialan. Elang terus mengutuk dalam hati. Suara itu berasal. Dari kamar sebelah. Kamar Nancy dan suaminya. Ya, adiknya memang sudah menikah. Ia masih tidak percaya adiknya akan melakukan itu dengan suaminya di saat ada wanita lain dalam kamarnya. Zoey tidur di kamarnya malam ini. Astaga. Pandangannya berpindah ke Zoey yang duduk mematung di atas ranjang besar miliknya. Wanita itu tampak menunduk. Tentu saja Elang tahu ia sedang menahan malu. Suara desahan iparnya karena kenakalan yang di buat oleh Nancy betul-betul membuat Elang dan Sura menjadi canggung. Kamar rasanya jadi panas padahal AC-nya cukup dingin. Tapi diam-diam Elang senang melihat Zoey yang salah tingkah. Sebagai seorang laki-laki normal, bisa saja dia ikut terpancing dan menyerang kembali wanita yang duduk di kasurnya itu, seperti yang dia lakukan tadi di dalam
Elang buru-buru berlari cepat ke arah Nancy dan menutupi mulut perempuan itu. Adiknya ini benar-benar bikin jantungnya mau copot saja, ya ampun. "Diam Nancy, diam!" katanya dengan suara pelan namun tegas. Tangannya membekap mulut Nancy, membuat sang adik kesulitan berbicara bahkan bernafas. Zoey yang berdiri di ujung ruangan, mukanya sudah memerah seperti tomat. Dia berkali-kali lipat lebih gugup dari Elang, rasanya ingin menghilang saja dari rumah ini. Apalagi beberapa saat setelah itu, ada yang muncul entah dari mana. Mungkin ada ruangan lain di yang tersembunyi di ruangan tengah ini, karena tiba-tiba saja sudah ada yang muncul. Begitu melihat mereka, Zoey langsung mengenalinya. Kalau tidak salah ingat mereka adalah pasangan suami istri, alias orangtua dari dokter Elang dan Nancy. Zoey pernah melihat gambar mereka di majalah dan beberapa surat kabar. Orang tua Elang dan Nancy adalah salah satu pebisnis terkenal di negara ini. Keberadaan mere
"Di mana rumahmu?"Elang bertanya, memecah keheningan di antara mereka. Zoey yang sejak tadi hanya menatap keluar jendela, terlalu malu pada Elang karena kejadian di bar tadi, kini menolehkan kepalanya sedikit. Untung pandangan pria itu fokus ke jalan, tidak menatapnya sama sekali. Setidaknya itu mengurangi sedikit rasa malu Zoey. "Mm, turunkan saja aku di rumah sakit dok." jawabnya. Kali ini Elang melirik padanya. Dengan cepat Zoey memalingkan wajahnya kembali. "Rumah sakit? Kau ada shift malam ini?""Mm ..." Zoey sedang memutar otaknya memikirkan alasan yang tidak akan membuat pria itu curiga. Dia juga tidak mungkin bilang kan kalau dia tidak ingin pulang ke rumah karena biang masalah dalam hidupnya ada di rumahnya sendiri. "Baiklah, aku mengerti." kata Elang tanpa bertanya lagi. Zoey pun bernafas lega. Setidaknya dia tidak perlu lagi memikirkan banyak alasan. Mobil Elang terus berjalan dalam kecepatan sedang
Zoey mengenakan kembali pakaiannya dengan tergesa-gesa, jari-jarinya sedikit gemetar saat mengaitkan kancing bajunya satu per satu. Tubuhnya masih panas, napasnya belum benar-benar teratur, dan dalam kepalanya gema desahan yang tadi ia keluarkan masih berputar-putar seperti lagu yang tidak mau berhenti.Elang berdiri tak jauh darinya, menyilangkan tangan di dada, wajahnya tenang tapi matanya jelas mengamati setiap gerakan Zoey dengan cara yang membuat gadis itu makin salah tingkah."Mm, ki-kita sudah bisa keluar?" ia bertanya dengan suara lirih. Topeng yang ia pakai akhirnya lolos dari wajahnya. Elang dapat melihat keseluruhan rona merah di wajah Zoey. Lelaki itu puas. Meski tersiksa sekali rasanya harus menahan diri dari sesak yang dia rasakan di balik celananya. Sialan. Dia baru merasakan sendiri akibat dari permainan nakalnya terhadap wanita itu. Namun satu hal yang membuat Elang penasaran adalah, apakah tadi adalah pertama kalinya gadis itu
"Do-dokter ..."Zoey menyentuh lengan Elang, tetapi tidak marah atau pun berusaha mendorongnya menjauh. Ini gila. Apa-apaan ini? Tapi situasi mereka juga sedang dalam kondisi yang membutuhkan kerjasama. Dia tidak bisa apa-apa sekarang. Pandangan Elang lurus ke Zoey, menatap gadis itu seolah ingin melihat ekspresinya saat tangan nakalnya bermain di bawah sana. Jari-jarinya mulai bergerak menggesek-gesek klitoris Zoey. Itu adalah salah satu bagian paling sensitif untuk menggoda pasangan tersiksa dalam kenikmatan. "Ahh ...."Zoey refleks mendesah. Tapi suara desahannya pelan, ia malu bersuara keras. Apalagi akting mereka ini dilakukan dengan sungguh-sungguh. Tangan Elang benar-benar menyentuh kulitnya. "Mendesahlah lebih keras, hanya ini cara agar orang-orang itu percaya dan pergi dari sana." gumam Elang. Tapi Zoey malu. Ia seakan tidak peduli dengan orang-orang di luar sana, karena otaknya sudah di penuhi dengan tindakan gila y
Zoey membiarkan tangannya di tarik oleh dokter Elang dan di bawa pergi oleh pria itu dari tempat yang tidak dia sukai ini. Keduanya berjalan dalam diam, Zoey kaget melihat pria itu berada di tempat ini juga. Pasti lelaki itu akan berpikir dia bukan wanita baik-baik. Karena gosip yang menyebar mulai dari dia kuliah, sampai bekerja di rumah sakit, semuanya terbukti dengan mereka bertemu malam ini di sebuah bar. Dengan gaya berpakaiannya yang memakai rok mini, serta laki-laki yang datang bersamanya tadi, tentu saja susah mengelak kalau dia adalah wanita baik-baik, dan dia datang di sini karena ... "Bos, kami tidak melihatnya di toilet, sepertinya perempuan itu mau kabur!" Suara yang terdengar kuat itu sampai di telinga Elang dan Zoey. Zoey berubah panik, Elang dapat melihatnya. Genggaman pria itu makin kuat. Langkahnya bertambah cepat, sepertinya mereka tidak bisa keluar sekarang. Elang memutar otaknya, saat melewati sebuah ruangan kosong, pria itu segera
Pemeriksaan selesai setelah hampir 40 menit. Elang membantu Zoey duduk tetap dengan wajah datarnya. "T-terimakasih dok." ucap Zoey malu-malu. "Tidak ada masalah dengan kepalamu. Tapi kau harus istirahat total dua hari ke depan. Aku akan mengeluarkan surat keterangan sakit. Istirahatlah di rumah."
Saat melewati koridor rumah sakit, beberapa perawat yang sedang bertugas langsung terkejut melihat Elang yang sedang berlari dengan membawa seorang perempuan di dalam pelukannya. Mereka segera menyediakan kursi roda dan membuka jalan menuju bagian IGD. "Siapkan ruang pemeriksaan segera! Dia meng
Setelah aksinya memukuli laki-laki brengsek yang merampas tempat Zoey, Elang kembali ke Zoey yang masih menatapnya dengan ekspresi kaget. Ia sama sekali tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan tindakan tadi. Pria tadi sampai pingsan. Matanya masih tidak berkedip ketika sang dokter tampan memb
Paginya di rumah Elang, "Pa, ma, aku berangkat kerja dulu." kata Elang buka suara. Ia sudah menunda beberapa jam untuk pergi ke sebuah desa dalam rangka pengobatan gratis. Beberapa hari ke depan d mereka memang ada program pengobatan gratis di desa-desa. Sudah ada beberapa des







