Share

Bab 289

Author: QueenShe
last update publish date: 2026-07-14 12:40:00

“Perempuan itu harus tahu, kalau Bobby itu Papa kandungnya Prana!” ucap Ralin terdengar tegas.

“Berarti aku sama Mas Prana...” Kalimat itu menggantung di udara, menjadi potongan teka-teki paling kejam yang harus ia terima.

“Gak mungkin...” bisik Shanum, menyangkal kenyataan yang baru saja menghantam kesadarannya.

Telinganya berdenging panjang, mendengungkan suara bising yang menyakitkan hingga dadanya terasa sesak. Kaki Shanum kehilangan seluruh kekuatannya, menolak bertumpu tegak. Tubuh Shanum
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 308

    “Prana? Udah lama banget kita gak ketemu. Gimana kabarnya?” tanya seorang pria paruh baya, melangkah keluar menghampiri Shanum dan Prana di paviliun rumah megah itu.Shanum terlihat kikuk sejak mobil Prana memasuki kompleks perumahan super elit. Jarak dari gerbang menuju paviliun ini jauh, deretan pohon tinggi dan pagar besi menjulang sepanjang jalan terasa asing baginya.“Baik Om,” jawab Prana sopan, sedikit membungkuk.“Baik-baik,” pria paruh baya itu mengangguk-angguk, mengamati Prana dari ujung kepala hingga kaki dengan senyum ramah. “Kemarin asisten Om nelepon, katanya kamu udah menghubungi Om dari dua minggu lalu mau ketemu. Maaf, Om baru nyampe Indonesia dua hari lalu, jadi baru bisa ketemu sekarang.”“Gak masalah, Om. Terima kasih udah meluangkan waktu di tengah kesibukan Om,” balas Prana.“Ayo duduk, jangan sungkan.” Pria itu menyandarkan satu tangan di kursi rotan pav

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 307

    “Jadi kamu bakal bareng anak Ralin?” desis Ani di dapur begitu melihat Shanum bersiap-siap akan kembali pergi.Selama Bobby dirawat, Shanum memang tak tinggal di apartemen. Ia lebih banyak menginap di rumah sakit, dan sesekali pulang ke rumah ini untuk mengambil keperluan Bobby dan Ani.“Ada apa sih, Bu?” tanya Tiara pelan, melangkah masuk ke dapur dengan kening berkerut mendengar keributan itu. “Nanti Ayah dengar di kamar.”“Ini Mbakmu memang gak bisa diomongin! Maunya gimana dia sendiri!” omel Ani, menunjuk Shanum dengan sendok sayur di tangannya.“Ya udahlah, biarin. Mbak Num udah dewasa juga,” sela Tiara santai, mengabaikan raut gusar ibunya.Shanum yang mendengar perdebatan itu memilih tetap tenang. Ia duduk di salah satu kursi makan di hadapan Ani tanpa berniat membalas ocehan ibunya. Matanya melirik jam dinding, menunggu waktu yang tepat sebelum Prana tiba di depan pagar.&ld

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 306

    “Udah kubilang jangan terlalu berharap banyak,” ulang Prana tenang, mengecup dahi Shanum lembut, menenggelamkan wajahnya ke dada agar perbincangan itu benar-benar usai.Mendengar jawaban itu, Shanum tak bertanya lagi. Ia harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk, apalagi Ani menganggap mantan suaminya sudah mati.“Tapi gimana Tante Ralin dan Mas Prana bisa kenal?” tanya Shanum dalam hati, menyandarkan kepala di dada Prana, membiarkan kehangatan tubuhnya perlahan menuntunnya tidur.Hari-hari berikutnya berlalu dalam kesibukan masing-masing. Prana kembali ke jadwal padatnya sebagai dokter, membagi fokus antara pasien, memantau perkembangan Bobby, dan menjaga Ralin yang pemulihannya bertahap membaik.Shanum sendiri memilih menyibukkan diri mengurus usahanya yang sempat terbengkalai, sekaligus bergiliran menjaga Bobby di rumah sakit.“Mas masih di ruang operasi?” tanya Shanum, sambil menempelkan ponsel di t

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 305

    “Mas tahu ayah kandung aku?” tanya Shanum, menatap lurus ke dalam manik mata Prana dengan raut tak percaya.Napasnya memburu. Air di dalam bathtub berkecak pelan seiring gerakan tubuhnya yang mendadak sigap, dan berputar menghadap Prana sepenuhnyaPrana menyunggingkan senyum tipis. Kedua tangannya bergerak menahan pinggang Shanum agar posisi duduk wanita itu di dalam bak mandi tak merosot.“Tahu,” jawab Prana tenang.“Siapa, Mas?” desak Shanum. Tangannya mencengkeram erat bahu Prana, mengabaikan cipratan air hangat yang membasahi dada pria itu.Prana menggelengkan kepala secara perlahan. “Nanti, Num. Gak sekarang.”“Mas, kenapa disembunyikan lagi?” sahut Shanum, nada suaranya bergeser ke arah jengkel. “Aku udah berhak tahu sekarang. Selama dua puluh delapan tahun ini aku gak tahu apa-apa. Masa Mas juga mau ikut-ikutan merahasiakan ini dari aku?”“Aku gak bermaksud merahasiakan ini buat membohongi kamu, Sayang,” potong Prana lembut. Pria itu mengusap sisa busa yang menempel di pipi Sha

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 304

    “Yakin masih mau mandi sendiri?” Prana melepaskan kancing blouse Shanum satu per satu hingga pakaian itu meluncur jatuh, meninggalkan tubuh wanita itu hingga tak tertutupi sehelai kain pun.“Mas...” bisik Shanum pelan, reflex mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan.Prana tak banyak bicara. Ia langsung menggendong tubuh Shanum, membawanya melangkah beberapa tindak mendekati bak pualam di sudut ruangan. Air hangat yang berbusa lavender langsung menyambut begitu Prana menurunkan tubuh Shanum perlahan ke dalam bathtub.“Kita cuma mandi, Sayang. Emang kamu pikir apa?” goda Prana, terkekeh sembari mencolek ujung hidung Shanum yang masih merona.“Mas!” gerutu Shanum, memercikkan sedikit air berbusa ke arah lengan Prana.Prana tertawa kecil sambil melepaskan sisa pakaian yang melekat di tubuhnya, lalu ikut bergabung masuk ke dalam bak mandi. Ruang yang terbatas membuat air hangat sedikit meluap ke tepi.Prana menarik lembut tubuh Shanum agar bersandar rapat pada dada bidangnya yang koko

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 303

    "Mas!" tegur Shanum, memukul pelan bahu Prana. Wajahnya yang semula pucat mendadak merona kemerahan. "Situasi kayak gini aja masih aja kepikiran buat nakal!"Prana tersenyum kecil, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Godaan singkat itu berhasil mengalihkan sedikit mendung di wajah Shanum. Pria itu bangkit dari posisi berlututnya, meraih ponsel hitam dari saku celana, dan menekan beberapa digit nomor di layar.Shanum memperhatikan Prana yang kini menempelkan gawai ke telinga, menanti sambungan terhubung."Halo, Sus. Ini Dokter Prana," ucap Prana begitu panggilan di seberang sana diangkat."Saya masih di luar sekarang. Tolong pantau berkala kondisi jaminan kamar VIP Ibu Ralin, ya. Kalau ada lonjakan tensi atau dia terbangun dan mencari saya, langsung hubungi nomor saya."Prana mendengarkan jawaban dari sepersekian detik arahan perawat di seberang telepon."Iya, untuk Dokter Bobby di ICU juga tolong saya dikasih laporan berkala lewat pesan singkat. Saya akan kembali ke rumah sakit

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 44

    “Mas, seharusnya tadi aku bawa mobil sendiri saja,” gerutu Shanum sambil terus meremas jemarinya yang dingin. “Kalau Mas Fadil lihat kita datang bersama, gimana?”Setelah perjuangan singkat melawan kantuk dan guncangan hebat mendengar kabar ayahnya, Shanum akhirnya menyerah duduk di kursi penumpang

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 42

    Shanum menutup pintu kamar mandi dengan sentakan keras. Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram pinggiran wastafel marmer yang dingin. Di dalam ruangan kedap suara ini, ia merasa seperti dikurung bersama bayangan-bayangan mengerikan yang baru saja ia tumpahkan di depan Prana.“Apa yang sudah kula

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 41

    “Kamu nggak pakai pengaman lagi, Mas?!” seru Shanum naik satu oktav. Seluruh sarafnya yang baru saja rileks kini menegang seketika.Ia terduduk di tengah ranjang dengan napas yang kembali memburu, tak memedulikan rambutnya yang berantakan atau tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun. Mat

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 40

    Prana membenamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Shanum, mencium dan menghisap leher Shanum. Tangan Prana yang besar bergerak perlahan, mengusap leher, turun ke bahu, hingga menjelajahi lekukan tubuh lain.“Dalam mimpimu, apa aku melakukan ini?” tanya Prana penuh godaan. Bibirnya menyapu l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status