Compartir

Bab 83

Autor: QueenShe
last update Fecha de publicación: 2026-05-07 21:06:41

“Mas, kok belok kesini?”

Shanum mengerutkan kening saat menyadari Prana memutar kemudi ke arah jalan alternatif. Jalanan ini lebih sempit, namun terasa teduh karena jajaran pohon angsana yang rimbun di kedua sisinya. Suasana yang seharusnya menenangkan itu mendadak membuat perasaan Shanum tidak enak.

Prana melirik sekilas. Satu tangannya menguasai kemudi dengan santai, sementara siku kanannya bersandar di ambang jendela. Jemarinya mengetuk ritme abstrak pada kulit kemudi, menciptakan suasana ya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 241

    “Mau dimana sayang?” Tangan Prana terus membelai paha dan menyusup lebih dalam pada area sensitif Shanum. Sensasi panas yang dihantarkan oleh gerakan tangan Prana seketika meruntuhkan seluruh sisa logika yang melekat di kepala Shanum.“Euh… dimana… saja,” jawab Shanum sudah tak mampu berpikir.“Disini aja gimana?” gumam Prana sambil terus menggoda membelai milik Shanum di balik kain tipis penghalangnya, yang membuat napas Shanum terputus-putus.Tak bisa menjawab lagi, Shanum hanya bisa membenamkan wajahnya di ceruk leher Prana. Menggigit pelan kulit bahu pria itu untuk menahan lenguhan yang nyaris lolos dari bibirnya. Detak jantungnya berkejaran dengan belaian jemari Prana yang kian menuntut.Ia kembali meraup bibir Shanum, membawa mereka berdua tenggelam dalam gairah, tak memedulikan lagi batasan hukum dan peringatan Hendra di luar sana. Tangan Prana mulai menarik seluruh dress rumahan Shanum, meninggalkan bra dan celana dalam brokat merah.Prana melepaskan pagutan bibir mereka seje

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 240

    “Jika hakim pengadilan tinggi menerima alasan mereka, putusan cerai kalian bisa dibatalkan, dan status pernikahanmu dengan Fadil dinyatakan tetap sah dan belum putus.” Kalimat itu menolak pergi dari kepala Shanum.Sudah hampir satu jam ia berada di dapur apartemen Prana, tetapi pikirannya masih tertinggal di kantor Hendra. Air sup mendidih. Sayuran semakin layu. Bahkan Asap tipis mulai mengepul dari pinggiran panci, membawa bau gosong yang menyengat.“Gimana kalau semua itu sampai kejadian?” pikiran Shanum gelisah.“Mikirin apa?” Sebuah tangan kekar tiba-tiba melewati samping tubuh Shanum, memutar kenop kompor hingga mati.Detik berikutnya, tangan itu melingkar erat di pinggang Shanum, menarik punggungnya hingga menempel pas pada dada bidang di belakangnya. Shanum tersentak, mengerjapkan mata berulang kali baru menyadari kalau masakannya sudah hampir gosong.“Eh… gosong.”Prana menyandarkan dagunya di bahu Shanum, lalu mengecup sisi leher wanita itu dengan lembut, lama dan hangat.“J

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 239

    “Kalau soal Malik, aku gak akan memanggil kalian kemari.” Hendra mengangguk pelan ke arah map di tangan Prana. “Yang membuatku khawatir ada di lembar berikutnya. Coba lihat.”Dengan cepat Prana mengambil lembaran terakhir itu. Tubuhnya kaku, urat di lehernya menegang. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, ia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Shanum perlahan mendekat. Matanya melebar begitu melihat foto tersebut. Tubuhnya langsung kehilangan tenaga."Mas..." Suaranya nyaris tak terdengar.Di lembar berkas yang lain, ada foto Prana dan Shanum tengah berjalan-jalan di toko antik. Mereka difoto dari kejauhan melalui celah jendela kaca toko. Di foto itu, Prana sedang menggengam tangan Shanum sambil tersenyum, sebuah gestur yang terlalu intim untuk disebut sebagai teman.“Ini kan waktu kita mencari pajangan untuk klinik baru, Mas?” tanya Shanum, suaranya bergetar.Prana tetap diam. Tatapannya justru tertuju pada uraian yang tercetak di bawah foto itu. Semakin jauh ia membaca,

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 238

    “Kenapa kita ke sini, Mas?” Shanum terkejut begitu mobil Prana terparkir di depan kantor Hendra.Kantor hukum milik Hendra—pengacara Shanum sekaligus sahabat Prana—berdiri megah di hadapan mereka. Shanum tak menyangka bahwa pelarian mereka dari kafe dan mampir sejenak di minimarket akan berujung ke tempat ini.“Ada yang perlu dibicarakan,” jawab Prana singkat sambil mematikan mesin mobil, membiarkan keheningan kembali merayap di antara mereka.Shanum mengingat kembali pesan yang dikirimkan Fadil sebelumnya. Perasaan tenang yang tercipta beberapa lalu di minimarket mendadak jadi terasa tegang kembali. Dadanya bergemuruh, mengingat foto dokumen gugatan pembatalan cerai yang dikirimkan mantan suaminya itu.“Apa ini soal pengajuan banding perceraian aku?” tanya Shanum, mencoba menebak dengan nada sangsi.Prana menghentikan gerakannya yang hendak membuka sabuk pengaman. Ia memutar tubuh, kembali memfokuskan pandangan pada Shanum. Dahinya berkerut dalam, menatap Shanum dengan sorot mata men

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 237

    “Ada apa sebenarnya semalam, setelah aku pergi ke rumah sakit?”Prana melontarkan pertanyaan itu begitu mobilnya keluar dari area kafe, jari-jarinya mengeratkan setir dengan nada bicaranya lebih keras dari biasanya. Shanum duduk di sampingnya, mata Prana tajam tetap fokus pada jalanan depan, rahangnya mengeras.Shanum terdiam sebentar memperhatikan wajah Prana. Mata pria itu menyipit, otot pipi yang berkedut halus. Prana sedang marah.“Kamu ketemu dia?” lanjut Prana tanpa menunggu jawaban. “Gandi? Adik bajingan itu?”“Iya,” jawab Shanum tenang.“Sendirian?”“Enggak. Dia—”"Apa itu alasan kamu gak angkat telepon?" Prana memotong terdengar kesal."Kenapa kamu gak bilang mau menemui adik bajingan itu?" tanya Prana lagi, tanpa menunggu Shanum menjawab rentetan pertanyaan sebelumnya. "Apa yang kalian bahas?""Mas..." panggil Shanum lembut. Ia memberanikan diri memegang lengan Prana yang kaku saat mencengkeram setir. "Aku harus jawab yang mana dulu?"Shanum bertanya tanpa merasa terintimida

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 236

    “Mas Prana?” gumam Shanum hampir tak percaya melihat pria itu kini berdiri di depannya.Pria itu mengenakan kemeja kasual yang sudah tak terlalu rapi. Wajah pria itu tak memancarkan kehangatan yang biasa ia tunjukkan pada Shanum hari ini. Pandangannya lurus, menusuk, dan rahangnya mengeras kokoh menatap kedua netra Shanum yang masih berdiri kaku.Tadi pagi Prana mewanti-wanti Shanum agar tak pergi kemana pun, karena Prana khawatir keluarga Fadil masih mencari keberadaan Shanum, begitu pun orang tua Shanum sendiri. Tapi ternyata Shanum malah menemui adik dari pria yang sudah menghancurkan hidupnya sendiri.“Sudah aku bilang, kalau mau kemana-mana bilang!” Suaranya begitu tegas penuh peringatan.Gandi memutar tubuhnya jadi berhadapan dengan Prana. Ia sempat terlihat sedikit terkejut, tapi langsung ia tepis dengan berdiri menghalangi Shanum dari Prana. “Siapa Anda?”Prana tak memedulikan pertanyaan Gandi. Ia melangkah maju melewati tubuh Gandi, dan memosisikan tubuhnya tepat di depan Sha

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 193

    “Udah tahu, hubungan kalian bertiga itu sudah rumit, sekarang kamu malah bikin lebih kacau,” cecar Hendra, menatap Prana dengan dahi berkerut dalam.“Sebenarnya ada yang bikin aku lebih penasaran.” Dia melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya sampai batas maksimal. “Kamu yakin dia a

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 192

    “Kamu benar-benar gila, Pran. Kehamilan Shanum ini bisa jadi bumerang.” Hendra menatap Prana penuh keheranan sekaligus kecemasan. Prana tetap diam, tak mengalihkan pandangannya dari wajah Shanum. Dia memeriksa infus beberapa kali, memastikan tak terhambat. “Aku tahu apa yang aku lakukan, Dra.”“K

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 190

    “Mbak Num… hamil?” ucap Tiara yang sejak tadi berdiri mengintip di belakang bahu Prana ikut menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Mulutnya terbuka kecil, syok mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut pria itu.“Tapi gimana bisa?” Tiara menggantung kalimatnya di udara.Pikirannya me

  • Satu Kali Lagi, Mas   Bab 189

    “Mbak Num di IGD sekarang! Dia dihajar habis-habisan sama Fadil!”Telinga Prana masih berdengung hebat. ucapan Tiara terus berputar di dalam kepalanya, mengulang-ulang kalimat yang meremukkan seluruh pertahanannya.“Bangsat Fadil… keparat!” geram Prana. Kedua tangannya mengepal kuat hingga urat bir

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status