LOGIN“Mas Prana, gimana hasilnya?” potong Shanum cepat, tak sanggup lagi menahan desakan di dadanya. “Sidangnya udah selesai, kan?”Beberapa detik hanya terdengar embusan napas lelah. Jeda itu terasa seperti siksaan bagi Shanum, sebelum akhirnya suara Prana kembali, kali ini jauh lebih ringan.“Udah, Num. Semuanya udah selesai,” ucap Prana.Shanum menahan napas. “Terus... hasilnya gimana, Mas?”“Ditolak, Num,” sahut Prana pelan, datar tanpa emosi.Lidah Shanum kelu. Seluruh sendi tubuhnya terasa lepas. “Ditolak?” ulangnya mencicit. “Perceraian aku ditolak? Jadi... aku gak jadi cerai?”Ketakutan merayap naik, mencengkeram dadanya hingga sesak. Bayangan harus kembali ke rumah Fadil, menghadapi siksaan pria itu, berputar di kepalanya. Air mata yang sejak tadi ditahan luruh begitu saja.“Mas,” seru Shanum setengah berbisik, air matanya makin deras. “Kenapa bisa ditolak? Kemarin kata Mas Hendra kalau—”“Sayang, dengerin aku dulu,” potong Prana cepat.Terdengar kekehan rendah dari seberang telep
“Kita langsung pulang ya, Mas.”Prana tak langsung menjawab. Matanya bergerak tajam ke tiga perempuan di dekat rak pajangan yang masih berbisik sambil sesekali mengangkat ponsel. Gerakan kikuk mereka merekam diam-diam membuat otot rahang Prana mengeras. Ia paham ketakutan yang mendadak melanda Shanum.Tanpa berkata apa-apa, Prana melepas topinya, memasangkannya di kepala Shanum, menarik bagian depan agak rendah untuk menyembunyikan wajah pucat dan memar di pipi wanita itu. Beberapa lembar uang diserahkan ke kasir, tanpa menunggu kembalian.“Mas...” bisik Shanum dari balik naungan topi.“Ayo pulang. Kita masak steak,” potong Prana lembut, menyambar dua kantong belanjaan sambil menggandeng erat tangan Shanum.Begitu keluar dari supermarket, Shanum terus menunduk menatap sepatunya sendiri. Suasana manis di antara rak sayur menguap, berganti sunyi mencekam. Langkah mereka bergema di sepanjang koridor mal. Sampai akhirnya Shanum tak bisa lagi menahan beban di dadanya.“Aku ternyata memang
‘MAMA’Prana menatap layar ponsel yang terus bergetar tanpa henti. Ibu jarinya menggantung di atas tombol hijau, ragu untuk menekan. Ia melirik Shanum, menangkap perubahan raut wajah wanitanya yang mendadak pias.“Aku angkat telepon sebentar di luar ya, sayang,” pamit Prana sambil mengecup singkat dahi Shanum. Menenangkan wajah gelisahnya.Shanum hanya mengangguk kaku. Membiarkan pria itu melangkah lebar menuju balkon apartemen. Pintu kaca geser dibuka, lalu ditutup kembali dengan rapat, menyisakan sekat transparan di antara mereka.Dari ruang tengah, Shanum berdiri mematung. Matanya tak lepas dari sosok Prana di balik kaca. Pria itu menempelkan ponsel ke telinga dengan satu tangan bebas bertumpu pada pagar pembatas balkon.Meskipun tak bisa mendengar satu patah kata pun yang diucapkan, Shanum bisa membaca situasi dari gerak-gerik tubuh Prana. Rahang pria itu mengeras. Sesekali ia mengusap rambutnya ke belakang dengan kasar, menunjukkan rasa kesal dan frustrasi yang tertahan.Prana le
“Darimana, Mas?” tanya Shanum, berjalan mendekat sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil.Prana tersentak kecil melihat kedatangannya, lalu cepat mengubah ekspresi menjadi santai. Ia melepas jaket, meletakkannya begitu saja di sandaran kursi makan.“Ada urusan tadi dikit di luar,” jawab Prana pendek.“Urusan?” Shanum menaikkan alis, menatap penuh selidik. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sebelum mandi, ia melihat Prana masih main ponsel di rumah. “Urusan apa pagi-pagi begini?”Prana tak langsung menjawab. Ia melangkah lebar menghampiri Shanum, menariknya ke dalam pelukan erat—seperti baru pergi berhari-hari dan sangat merindukannya. Shanum tertegun sesaat, tapi membiarkan tangan Prana melingkari pinggangnya.“Mas, gak siap-siap ke rumah sakit? Jadwal kamu bentar lagi mulai, lho.”Prana mengecup puncak kepalanya yang masih agak basah. “Aku ambil cuti.”Shanum langsung melepaskan diri, mendongak dengan dahi berkerut. “Kenapa tiba-tiba ambil cuti. Pasi
“Nikah?” ulang Shanum lirih. Matanya berkedip beberapa kali, seperti berusaha memastikan dirinya benar-benar sudah bangun. “Mas... aku gak salah dengar?”“Enggak,” ulang Prana, kali ini dengan artikulasi jauh lebih jelas dan tegas. “Begitu putusan banding dari Pengadilan Tinggi keluar, kita menikah. Aku gak mau nunggu lebih lama lagi.”“Mas, kamu gila?” Shanum langsung bangkit duduk. “Sidang banding aja belum dimulai! Status hukumku masih menggantung. Di luar masih membicarakan kita. Kalau kita menikah sekarang, itu sama saja membenarkan kalau kita berhubungan sebelum aku bercerai.”“Biar saja mereka menuduh apa pun,” sahut Prana, tak bergeming dari posisinya. “Toh... memang kenyataannya aku mau kamu jauh sebelum kejadian ini.”“Mas...” Suara Shanum terdengar sedikit ketakutan dan panik.“Kalau kita menikah, aku punya hak hukum penuh untuk melindungimu. Siapa pun gak akan punya celah lagi buat mengganggumu. Kita pindah dari sini.”Shanum menggeleng-gelengkan kepala, merasa dunia di se
Shanum tersentak bangun. Napasnya memburu, dada naik turun cepat seperti baru saja berlari sangat jauh. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Refleks, kedua tangannya meraba wajah, leher, lalu turun ke perutnya sendiri—memastikan semua bagian tubuhnya masih utuh.Beberapa detik ia hanya terpaku, berusaha membedakan mana mimpi dan mana kenyataan. Di pinggangnya melingkar lengan Prana yang tertidur di belakangnya, memeluknya dari samping dengan napas pelan dan teratur.Ia memejamkan mata sebentar, mengingat rentetan kejadian kemarin—kedatangan Kartika, video yang diambil Mega, hingga pesan Tiara yang mengabarkan semuanya sudah tersebar luas.“Astaga...” gumamnya lirih dengan tubuh menegang, sadar apa yang terjadi sebelumnya bukan mimpi.Shanum memegang punggung tangan Prana yang menempel di perutnya, mengangkat lengan itu perlahan agar tak mengejutkan sang dokter. Kakinya bergeser menuju tepi ranjang. Namun begitu telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, dekapan di pin
Shanum terdiam mendengar tawaran apartemen itu. Dahinya berkerut, rasa penasaran semakin membumbung tinggi."Apartemen?" ulang Shanum heran. "Kalau Mas punya apartemen di sini, kenapa Mas sewa lantai dua rumah kami? Kenapa nggak tinggal di sana saja?"Prana hanya terseyum simpul, matanya tetap foku
Shanum menarik paksa flashdisk itu dari port USB. Napasnya memburu, bukan karena kelelahan, melainkan karena amarah yang akhirnya membakar habis sisa-sisa kesabarannya selama lima tahun.Isi folder itu adalah racun sekaligus obat. Di sana, wajah asli ayah mertuanya yang tamak dan kelakuan rendah Fa
“Di sini ada rekaman tentang pengakuan Fadil tentang kebusukannya, dan juga berbicara kasar tentang istrinya, mertuanya, dan juga kecurangan ayahnya mencuri Rumah sakit milik ayahmu. Dia juga menyebutkan beberapa nama wanita lain yang pernah dia 'pakai'.”Jantung Shanum mencelos sejenak. Matanya te
“Kau benar-benar akan melakukannya?” bisik Prana pelan, antara marah dan tidak percaya. Tangannya dengan cepat mencekal pergelangan tangan Shanum, menahannya di tempat. “Kau akan masuk ke sana dan membantu laki-laki itu melakukan... hal itu?”Shanum menoleh, menatap Prana dengan sorot mata menantan







