LOGIN“Iya, kita datangi Mama untuk minta restu. Buat jadwalnya nanti aku atur lagi ya,” ujar Prana, terdengar datar, sangat kontras dengan kehangatan yang ia pamerkan beberapa menit lalu.Shanum hanya mengangguk setuju.“Kenapa kita gak nikah aja dulu, baru nanti minta restu?” tanya Prana meraih cangkir jus stroberinya yang tinggal setengah. Ia meminumnya sedikit, memberikan jeda waktu yang cukup lama hanya untuk menelan cairan manis itu.“Gak bisa gitu, Mas,” tegur Shanum “Kita punya orang tua. Aku mau pernikahan kita langgeng selamanya.”“Iya, sayang.” Prana mencium pelipis Shanum sambil tersenyum.Ketenangann mereka teralihkan oleh, ponsel Prana yang bergetar beberapa kali. Beberapa pesan masuk berturut-turut. Prana mengambilnya di tas meja. Ibu jarinya bergerak menyapu layar untuk membuka baris pesan yang baru saja masuk.Visual riang di wajah dokter itu seketika lenyap tanpa sisa. Alisnya bertaut rapat, membentuk kerutan dalam di dahinya. Sepasang matanya menatap lurus pada deretan ka
"Aku baru cerai, sekarang mau nikah sama kamu, kecepetan gak sih, Mas?" tanya Shanum sambil menyimpan teh hangat yang asapnya masih mengepul tipis di meja.Mereka sekarang berada di café daerah puncak bogor. Tadi pagi, Prana tiba-tiba saja membangunkannya, dan mengajaknya berkendara jauh ke atas sini. Katanya, lumayan masih ada waktu sisa cuti sebelum ia kembali sibuk masuk rumah sakit besok lusa.Prana yang sedang duduk di kursi rotan mendongak. "Nggak ada yang cepat, Num. Aku udah nunggu momen ini sejak lama.”Shanum memandangi cincin berlian yang melingkar di jarinya. "Orang-orang pasti bakal ngomongin kita, Mas.""Gak usah di dengar. Yang menjalani hidup ini aku dan kamu, bukan mereka. Urusan Mama juga biar jadi bagianku untuk meluruskan semuanya," balas Prana.Shanum mengangguk pelan. Entah kenapa, ia merasa senyum Prana kali ini sedikit dipaksakan. Tapi, Shanum memilih untuk bungkam dan menyimpan pertanyaannya rapat-rapat.“Hari ini kita kemana?” tanya Shanum berusaha mengubah s
"Mas..." lirih Shanum, napasnya masih tersenggal akibat pelepasan yang baru saja dialaminya.Prana menatap lekat sepasang mata sayu di bawah kungkungan tubuhnya. Pria itu mengunci jemari kanan Shanum yang masih mengenakan cincin berlian baru mereka, membawanya ke atas bantal."Iya sayang," bisik Prana rendah. Pria itu menyapukan bibirnya di dahi Shanum, memberikan ketenangan sebelum ketegangan baru dimulai.Shanum mengeratkan genggaman tangannya pada jemari tegap Prana. Matanya terpejam saat merasakan sentuhan awal yang hangat mendesak masuk di pusat keintimannya. Kehadiran fisik Prana yang mengisi kekosongan dirinya yang membuat dada Shanum naik turun dengan cepat."Sakit?" Prana menghentikan gerakannya sejenak, menatap lekat wajah Shanum untuk memastikan kenyamanan wanita itu.Shanum menggeleng perlahan, membuka matanya yang berair. "Enggak."Prana tersenyum tipis, mengecup ujung hidung Shanum sebelum mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dalam ritme yang lambat dan teratur. Set
Shanum hanya bisa membiarkan tubuhnya kembali terdesak ke kasur, terperangkap di antara dua lengan tegap Prana. Rasa bersalah karena sempat menuduh pria itu sembarangan kini berganti menjadi debaran yang luar biasa kencang di dalam dadanya.Cincin di jari manisnya terasa dingin bergesekan dengan kulit, kontras dengan hawa hangat yang mulai menguar dari tubuh sang dokter.“Mas... tapi masalah Tante Ralin...” cicit Shanum, mencoba menahan dada Prana saat jemari pria itu berhasil meloloskan kancing kedua blusnya.“Jangan pikirkan apapun lagi hari ini, Sayang. Cuma ada kita,” bisik Prana tepat di depan bibir Shanum. Amarah dan frustrasinya yang menumpuk sejak tadi menguap, berganti dengan tatapan lapar yang teramat pekat.Prana tak memberi kesempatan lagi bagi Shanum untuk memikirkan hal lain. Ia langsung menyatukan kembali bibir mereka, melumat bibir bawah Shanum dengan tekanan yang dalam dan menuntut.Kali ini, Shanum tak lagi memberikan penolakan. Ciuman Prana berubah lebih dalam lamba
Shanum menatap tajam Prana yang kini memejamkan mata karena frustasi. Dada bidangnya naik turun dengan cepat, mengusir rasa jengkel yang sempat mampir ke kepalanya.Jujur, pria itu kini sudah sangat frustrasi karena gairah yang sudah di puncak kembali menciut untuk dua kalinya. Pertama terganggu kedatangan ibunya, kedua sekarang oleh masalah yang tiba-tiba muncul.“Tunggu sebentar,” ucap Prana akhirnya.Pria itu bangkit dari tempat tidur, melangkah lebar keluar dari kamar menuju ruang tengah. Shanum tetap diam, mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala tempat tidur. Sepasang matanya tak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik sang dokter.Tak lama kemudian, Prana kembali masuk ke dalam kamar. Di tangannya, ia membawa ponsel miliknya dan sebuah kotak kecil berbahan beludru biru tua. Segera ia menaiki ranjang, bergabung dengan Shanum yang kini bersandar sambil mengamati Prana.“Mana tanganmu?” pinta Prana tegas.Shanum mengernyitkan dahi, bingung melihat benda-benda yang dibawa pria
“Apa hubungan Mas sama Tiara?” Sorot mata Shanum begitu tajam, menuntut jawaban. “Jawab jujur, Mas.”Prana seketika membeku. Tangan yang baru saja ditepis Shanum menggantung kaku di udara. Seluruh otot di wajahnya menegang, dan binar matanya langsung meredup, berganti dengan kilat keterkejutan yang luar biasa.“Num… kamu…” Prana terbata, lidahnya mendadak kelu untuk melanjutkan kalimatnya sendiri.“Kenapa, Mas?” desak Shanum, suaranya rendah, tapi menuntut kepastian. “Tadi aku denga rapa yang Mas obrolin di luar. Kamu bilang, apa pun alasannya kamu gak akan pernah bisa ninggalin Tiara. Jadi sekarang aku tanya, ada hubungan apa kamu sama adik aku, Mas?”Prana menelan ludah dengan susah payah. Rahangnya mengeras rapat. Pria itu mengalihkan pandangannya ke lantai sesaat sebelum kembali menatap Shanum dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan.“Kamu salah paham. Aku sama Tiara gak pernah punya hubungan seperti yang kamu pikirkan,” dalih Prana, mencoba meyakinkan.“Salah paham bagian manan
"Tapi Fadil itu jahat, Yah! Dia kasar sama aku!" Shanum mulai membela diri, matanya memanas menahan air mata yang hendak tumpah.Tangannya bergerak cepat merogoh tas selempang yang tergeletak di samping kursi, mengeluarkan ponselnya dengan terburu-buru. Digeser folder galeri, khusus menyimpan bukti
Setelah telepon dimatikan sepihak, Shanum masih terpaku menatap layar gelap ponselnya. Kemarahan tadi yang melonjak, kini perlahan meluruh. Ia mulai mempertanyakan gejolak emosi yang baru saja ia tumpahkan.“Apa aku sudah keterlaluan, ya?” bisik Shanum merenung di tepi ranjang.Ia memijat pelipisny
“Selama lima tahun ini, Mas pernah punya hubungan serius?” tanyanya, tak lagi berniat menutupi rasa penasaran yang sedari tadi menguasai isi kepalanya. “Mungkin sampai berencana menikah atau bertunangan? Atau jangan-jangan... Mas malah sudah menikah?”Prana menurunkan cangkirnya perlahan. Ia terdia
“Mas Prana?” Shanum terkejut. Mata kecilnya menyapu keluar, khawatir ada orang yang menangkap Prana mendatangi rumah. “Kenapa gak bilang dulu mau kesini?”“Memangnya aku gak boleh nengok mantan ibu kos?” iseng Prana, mengulas senyum tipis yang sengaja dibuat untuk mencairkan ketegangan wajah Shanum







