Share

Bermain Peran

Author: NomNom69
last update publish date: 2026-05-08 11:00:37

Gita melangkah ke kamar mandi, namun beberapa saat kemudian ia muncul lagi dengan wajah penuh semangat. "Mas! Lihat deh, kamar mandinya bagus banget! Ada bathtub besarnya, terus air panasnya juga berfungsi!"

Dayat yang masih terkapar di sofa hanya menyahut malas, "Duh, Git... dingin banget sekarang. Besok pagi aja mandinya."

"Justru itu, Mas! Ada air panasnya, pas banget buat berendam biar capek kamu habis nyetir jauh itu hilang," sahut Gita sambil mendekat dan m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Servis Spesialis   Kesempatan Dalam Kesempitan

    Dayat menyingsingkan lengan bajunya sampai ke siku, menatap langit-langit dapur yang masih terbuka itu dengan raut wajah mantap."Mbak, aku bakal naik ke dalam plafon sekalian," ujar Dayat sambil memeriksa saku celananya untuk memastikan ponselnya aman. "Aku mau rayap seluruh celah di atas, ngecek sejauh mana kerusakan kabelnya sekaligus foto-fotoin tiap sudut buat bukti."Astrid menatap Dayat dengan rasa khawatir yang tidak bisa disembunyikan. "Hah? Kamu mau masuk ke dalam sana, Mas? Maksudku... di atas kan gelap, pengap, terus takutnya roboh atau ada binatang...""Tenang aja, Mbak. Kayu penopangnya masih kuat kok. Lagian kalau cuma diliat dari bawah sini gak bakal keliatan seberapa parah hancurnya," potong Dayat menenangkan. "Mbak Astrid tunggu di bawah aja ya, pegangin kursinya pas aku naik."Dengan sigap, Dayat memanjat kursi lalu mendorong tubuhnya ke atas lewat lubang kontrol plafon. Hanya dalam hitungan detik, tubuh Dayat sudah menghilang di kegelapan langit-langit, disusul sua

  • Tukang Servis Spesialis   Inspeksi Resort

    Keesokan harinya, perjalanan panjang mereka akhirnya sampai pada tujuan. Mobil yang dikendarai Dayat memasuki area proyek pembangunan resort yang tampak megah sekaligus asri. Dayat memarkirkan mobilnya di area parkir yang agak teduh, lalu turun untuk meregangkan otot-otot tubuhnya setelah berjam-jam menyetir.Dayat bersandar di depan kap mobil sambil menyalakan sebatang rokok. Dari posisinya, ia memperhatikan sekitar area proyek yang masih setengah jadi, sembari menunggu Astrid yang sedang pergi ke kantor pengelola untuk mengambil kunci akses.Tidak lama kemudian, langkah kaki Astrid terdengar mendekat. Dayat menoleh dan langsung mendapati Astrid berjalan ke arahnya dengan senyuman cerah, sambil menggoyangkan gantungan di tangannya. Dayat memperhatikan jemari Astrid yang ternyata memegang dua buah kunci dengan gantungan yang berbeda."Gimana, Mbak? Udah beres urusan kuncinya?" tanya Dayat sambil mengembuskan asap rokoknya."Udah dong," jawab Astrid riang. Ia menunjukkan kedua kunci it

  • Tukang Servis Spesialis   Obrolan Ringan Menggoda

    Mendengar pertanyaan blak-blakan dari Astrid, Dayat sempat menahan napas sesaat. Namun, instingnya sebagai laki-laki langsung mengambil alih. Ia tidak mau kalah lagi. Dayat menoleh, menatap langsung ke dalam mata Astrid dengan senyuman yang sengaja dibuat semanis dan senakal mungkin."Khusus buat Mbak Astrid mah... free," bisik Dayat, sengaja menekankan kata terakhirnya tepat di depan wajah cewek itu. "Gak perlu bayar pakai uang, Mbak."Astrid seketika melebarkan senyumnya, tampak sangat puas karena berhasil memancing reaksi yang ia inginkan dari Dayat.Namun, sedetik kemudian Dayat langsung memundurkan kepalanya, mengusap tengkuknya yang mendadak terasa hangat sambil tertawa renyah. Sisi canggungnya kembali muncul karena tidak terbiasa membahas urusan "ranjang" seserius ini dengan rekan kerjanya sendiri."Aduh... tapi lagian kenapa jadi malah ngomongin gituan sih, Mbak?" keluh Dayat sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. "Aku jadi canggung banget ini, Mbaaakk... hahahaha!"Ast

  • Tukang Servis Spesialis   Pesona dan Penawaran

    Setelah menutup telepon dan mematikan layarnya, Dayat mengembuskan napas panjang. Baru saja ia menjauhkan ponsel dari telinganya, terdengar suara derit pintu kamar mandi terbuka dari arah dalam rumah, disusul panggilan dari suara yang sudah sangat familier."Mas Dayat!" panggil Astrid.Dayat berbalik badan dan melongok ke dalam. Saat itulah matanya seketika membesar, dan gerakannya terhenti.Untuk pertama kalinya, ia melihat Astrid dalam keadaan yang jauh lebih terbuka dari sekadar daster tanpa bra. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang disatukan ke atas, dan tubuhnya hanya berbalut sehelai handuk putih tebal. Handuk itu melilit pas di atas dadanya hingga sebatas pertengahan paha, mengekspos bahu, leher jenjang, serta kulit kakinya yang mulus dan masih menyisakan butiran-butiran air.Dayat tanpa sadar menelan ludah. Janjinya pada Gita beberapa detik yang lalu untuk 'tidak macam-macam' mendadak terasa seperti ujian yang sangat berat untuk dipertahankan.

  • Tukang Servis Spesialis   Tawaran dan Godaan

    Fokus mereka berdua pada layar laptop dan berkas denah proyek akhirnya membuahkan hasil. Tak terasa, matahari di luar sudah mulai bergeser ke barat, menandakan waktu sudah semakin sore. Semua persiapan, pembagian tugas, hingga taktik eksekusi untuk di resort besok sudah rampung dan tercatat rapi.Dayat meregangkan otot-otot lehernya yang kaku, lalu mulai merapikan barang-barang pribadinya dan memasukkannya kembali ke dalam tas kain. Namun, gerakan Dayat terhenti ketika mendengar suara Astrid."Kenapa gak menginap di sini aja, Mas?" tanya Astrid santai. "Toh kan besok kita berangkatnya bareng, biar kamu gak bolak-balik lagi."Dayat langsung terdiam dan berpikir sejenak. Nginap di sini?Melihat Dayat yang tampak menimbang-nimbang, Astrid mengangguk meyakinkan. Dayat yang dasarnya suka bercanda langsung menyunggingkan senyuman jail. Dengan nada menggoda, Dayat menyahut, "Hmm... kenapa gak tunggu besok aja sih, Mbak? Udah gak sabar banget apa?"Mendengar godaan telak itu, Astrid seketika

  • Tukang Servis Spesialis   Godaan dan Kesabaran

    Dayat langsung mengembuskan asap rokoknya ke samping, mencoba menetralisir rasa salah tingkahnya. Sadar kalau dia sedang dipojokkan, Dayat memutuskan untuk meladeni candaan Astrid agar suasananya tidak terlalu kaku. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa dengan gestur yang lebih santai, lalu menatap Astrid sambil tersenyum penuh arti."Mbak, mending jangan usil godain saya deh," kata Dayat dengan nada memperingatkan, tapi ada nada bercanda di dalamnya. "Nanti kalau saya beneran kegoda, bisa bahaya ini urusannya."Bukannya takut atau mundur, Astrid justru menaikkan sebelah alisnya. Ia malah memajukan posisi duduknya, membuat jarak di antara mereka semakin terkikis hingga Dayat bisa merasakan kehangatan tubuhnya."Oh ya?" pancing Astrid dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, matanya menatap langsung ke manik mata Dayat. "Seberbahaya apa sih emangnya, Mas? Aku kok jadi penasaran..."Dayat terkekeh kecil, matanya melirik sekilas ke arah daster tipis Astrid sebelum kembali menatap wajah

  • Tukang Servis Spesialis   Servis Yang Entah Keberapa Kalinya

    "Tiba di depan rumah Mira, Mas ayo mampir dulu..." ucap Mira sambil menarik tangan Dayat dengan cukup kuat, seolah tidak sabar ingin membawa pria itu masuk melewati pintu pagar rumahnya. Dayat yang tangan kanannya masih memegang setang motor menahan tarikan tersebut sesaat, memposisikan standar d

  • Tukang Servis Spesialis   Sesuatu Yang Bocor

    "Mas Dayat? Ngapain di hotel jam segini? Jam sepuluh malam lho ini, lagi ada kerjaan servis mendadak ya?" tanya Anggun. Matanya menyipit, memindai penampilan Dayat yang tidak membawa tas perkakas andalannya.Dayat berdeham, mencoba mengatur raut wajahnya agar tetap terlihat tenang dan profesional.

  • Tukang Servis Spesialis   Jamu Tokcer Joss

    "Mas, aku berangkat dulu ya! Jangan lupa kunci pintu kalau mau tidur!" seru Gita sambil membetulkan letak jaket tebalnya. Ia tampak bersemangat, matanya berbinar di bawah cahaya lampu teras.Dayat bangkit sebentar, memberikan senyum tipis yang menenangkan. "Iya, Git. Hati-hati di jalan. Jangan pula

  • Tukang Servis Spesialis   Keputusan Berat & Momen Nikmat

    Suasana di ruang tamu villa kecil itu mendadak sunyi senyap, hanya menyisakan suara detik jam dinding yang terasa menghujam jantung Dayat. Kopi di tangannya tak lagi terasa hangat. Permintaan Teh Yuni barusan benar-benar di luar nalar sehatnya. Dayat meletakkan cangkirnya pelan, tangannya sedikit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status