LOGINLev keluar dari kamar mandi dengan celana training panjang dan bertelanjang dada. Evgenia memerah saat melihatnya. Dia tampak salah tingkah duduk di atas tempat tidur. Lev menyeringai melihatnya "Kenapa wajahmu memerah Eve?" "Tidak. Hanya saja aku merasa panas" Lev menatap pendingin kamarnya yang masih berfungsi baik, dia menarik sudut bibirnya dan berjalan mendekati wanita itu. Evgenia semakin gugup "Kenapa kau tampak gelisah seperti itu?" goda Lev seraya menunduk untuk memandang wanita itu lebih dekat "Aku akan mandi!" serunya, lalu melarikan diri menuju kamar mandi Lev terkekeh melihatnya Di dalam kamar mandi, Evgenia menepuk kedua pipinya yang memanas. "Tenangkan dirimu Jeni.. saat kau sudah menikah nanti juga pemandangan seperti ini akan kau lihat" ucapnya pada diri sendiri, seraya menatap bayangannya di depan cermin wastafel Meskipun berusaha memantapkan hatinya, namun tetap saja dia belum terbiasa berhadapan dengan pria semacam Lev. "Ada apa denganku
Setelah menegaskan keputusannya kepada sang kakek, Lev keluar dari ruang kerja itu dan hendak meninggalkan mansion. Namun langkahnya seketika terhenti saat Mark tiba-tiba menarik kerah kemejanya dan menyudutkannya di dinding luar mansion. Mata Mark memerah, menatap tajam kepada Lev. "Apa tujuanmu sebenarnya?!" geram Mark Lev menyeringai, dia menghentakkan tangan Mark dari tubuhnya. "Apa kau merasa kalah kali ini?" Mark mengepalkan tangannya, sejak dulu dia tidak pernah menang dari pria itu, bagaimana bisa dengan mudahnya Lev justru mengejeknya. "Kenapa kau memilih Jeni?!" "Apa kau keberatan?" "Kau-!" "Dengar Mark. Dia wanita bebas saat ini, jadi dia berhak untuk memilih siapapun untuk bersamanya" "Tapi tidak denganmu!" "Kenapa? Denganku ataupun pria lain, kau tetap tidak akan mungkin bisa meraihnya kembali" Mark mengepalkan tangannya, ingin rasanya memukul wajah Lev. "Sadari tempatmu Mark. Kau tidak memiliki kuasa apapun disini bahkan untuk Eve" ucap L
Evgenia terbangun dengan mata yang berat, semalam dia tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang akan terjadi hari ini. Evgenia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, merendam dirinya dalam air hangat membuatnya sedikit lebih baik. Namun tetap saja tidak menghilangkan kekhawatiran yang dia rasakan. Saat Evgenia keluar dari kamar mandi, sontak dia memekik terkejut saat melihat Lev tengah berdiri di dalam kamarnya. "Ku pikir kau pingsan di dalam sana" Evgenia mengernyitkan dahinya, apakah dia menghabiskan waktu begitu lama di kamar mandi? Lev berjalan mendekat Sontak Evgenia bergerak mundur Lev menahan pinggangnya dan menariknya, seketika tubuh keduanya menempel. "Ada apa dengan wajahmu?" selidik Lev saat melihat kantung hitam di mata Evgenia "Aku.. hanya belum terbiasa di tempat baru" "Apa kau butuh bantuanku untuk membuat tidurmu lebih baik?" "Ap-" ucapan Evgenia terhenti seketika saat tiba-tiba Lev menciumnya Lev melumat bibirnya sedikit lebih
Evgenia dihadapkan pada selembar kertas berisi perjanjian kontrak yang sudah disusun oleh Lev sedemikian rupa. Memang pasal-pasal yang tertera disana justru lebih banyak menguntungkannya. Dan pernikahan mereka hanya akan berlangsung selama tiga tahun. Namun saat membaca bagian akhir, Evgenia terdiam. Jika pihak kedua didapati mengandung, maka perjanjian berubah menjadi ikatan seumur hidup. Bukankah itu artinya..? "Aku tidak akan membiarkan penerus Stainslav terlantar begitu saja karena perceraian kita. Jadi kau harus menerima takdir pernikahan ini seumur hidupmu" Evgenia terdiam, namun dia pun berpikir hal serupa. Jika perceraian terjadi, maka anak lah yang akan menjadi korbannya, dan dia tidak akan membiarkan anaknya menderita. "Baiklah" ucap Evgenia Meskipun sejujurnya dia ragu, karena bagaimanapun mereka menikah bukan karena perasaan cinta, namun karena sebuah perjanjian. 'Apakah pernikahan ini akan berhasil?' batin Evgenia merana Tapi dia tetap harus m
"Jeni? Bukankah kau sedang mengajukan cuti?" tanya Grigori heran Grigori cukup terkejut saat mendapati Evgenia yang tengah mengetuk pintu ruangannya. "Aku datang untuk mengundurkan diri, tuan Grigori" ucapnya seraya memberikan sebuah surat pada Grigori "Apah? Kenapa tiba-tiba sekali?" "Kondisi ibuku tidak baik, jadi aku memutuskan untuk merawatnya" "Tapi kau sangat berbakat, sayang sekali jika kau berhenti begitu saja" Evgenia hanya tersenyum menanggapinya. "Kau yakin akan melakukan hal ini?" Grigori merasa berat untuk melepaskan karyawan berbakat seperti Evgenia Evgenia hanya mengangguk "Terima kasih untuk semuanya, tuan Grigori" ucapnya lalu berbalik untuk keluar dari ruangan manager Evgenia kembali duduk di kursinya, menatap sendu meja kerjanya yang sudah menemaninya selama dua bulan bekerja. Dia sangat menyukai pekerjaannya, tapi semua itu harus berakhir karena pilihannya. Igor tidak memberikannya banyak waktu, setelah menyelesaikan semuanya di Moskow, ma
"Lev! Terjadi sesuatu!" ucap Feliks panik, dia berlari memasuki ruangan Lev tanpa mengetuknya terlebih dahulu Di dalam sana ada seorang manager pemasaran yang tengah berbicara dengan Lev. Seketika Feliks menutup mulutnya karena merasa melakukan kesalahan. "Kau bisa melaporkannya lagi nanti" "Baik tuan" Manager pemasaran itu pun undur diri. Feliks mengangguk kecil pada pria itu, merasa tidak enak sudah mengganggu keduanya. "Apa yang ingin kau katakan Feliks?" "Jeni!" "Apa yang terjadi padanya?" "Dia mengajukan cuti" Lev membuang pandangannya ke arah lain, merasa kesal pada Feliks. "Itu hak karyawan di tempat ini. Kenapa kau mempermasalahkannya?" "Bukan itu yang ingin ku katakan" "Jangan bertele-tele Feliks" "Dia akan kembali ke kediaman keluarganya" Mata Lev melebar karena terkejut. Di tempat lain, Evgenia beridiri di depan rumah mewah yang sejak dulu dia tempati, rumah yang hanya meninggalkan sedikit kenangan bahagia baginya. Evgenia melangk
Evgenia terus berlari menjauh, dia bahkan mengabaikan kakinya yang terluka akibat mencoba meloloskan diri dari Karol. Ketika Karol berhasil meraihnya, Evgenia melihat sebuah tong sampah yang berada di dekat pohon itu, dia segera melemparkannya ke arah Karol. Setelah berhasil melepaskan diri d
Di sebuah rumah sakit Kolomna, seseorang wanita memakai dress hitam panjang, floppy hat hitam, dan kaca mata hitam, terlihat berjalan mendekati sebuah kamar pasien. Wanita itu melihat sekitarnya, untuk memastikan situasi aman, lalu dia membuka pintu dan masuk ke dalam sana. Di dalam terdengar
Mobil BMW putih berhenti di carport kediaman Stanislav, Dinara keluar dari mobil itu dan melangkah terburu-buru masuk ke dalam rumah. "Dimana ibuku?" tanya Dinara kepada seorang pelayan "Nyonya ada di dapur, nona.." Dinara berjalan mendekati dapur dan melihat sosok ibunya yang tengah menyiap
"Apa yang harus kulakukan?" lirih seorang wanita berambut pirang panjang Wanita itu terduduk lemas di samping tempat tidur pasien di sebuah rumah sakit, menatap sedih sesosok wanita yang tertidur tenang dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang setia menemaninya dalam dua bulan terakhir.







