Pagi hari di perpustakaan kecil. Suhu udara terkunci di angka delapan belas derajat.Secangkir kopi hitam tanpa gula mengepulkan uap tipis di sebelah buku catatan bersampul kulit gelap.Ujung pena logamku menekan kertas bergaris itu. Suara gesekan logam dan kertas terdengar nyaring, berulang, dan sangat cepat.Aku tidak sedang menyusun kerangka draf buku kedua. Teks final internasional sudah kuserahkan pada agensi London kemarin sore. Pekerjaan mentalku untuk ranah publik sudah selesai.Goresan pena ini murni ekskresi logis. Otakku butuh ruang untuk memuntahkan sisa-sisa residu observasi sebelum memulai hari."Dua tahun lalu, kita bergerak karena panik," ucapku keras-keras pada diriku sendiri di ruangan kosong ini. Suaraku tidak memantul.Tanganku mencetak satu garis lurus yang tebal di bawah deretan huruf itu."Kita mencari stabilitas dengan cara menghancurkan orang lain," gumamku lagi.Dulu, setiap keputusan yang kuambil didorong oleh insting bertahan hidup dari ancaman kematian kar
Last Updated : 2026-07-30 Read more