KAIN PENGLARIS
Bau sambal goreng memenuhi dapur, tapi kali ini aromanya tidak sama seperti biasanya—lebih tajam, lebih amis, namun menggoda.
“Besok warung pasti makin ramai,” kata Bu Rini sambil mengaduk wajan besar. “Kau lihat, Diah? Kain ini memberi kita hidup.”
Diah berdiri diam, menatap wajan yang mendidih. Setiap potongan daging di dalamnya tampak seperti menggeliat, seolah masih hidup. Tapi Diah tidak menjerit. Ia hanya menatap kosong, dan di dalam matanya, warna merah semakin jelas.
Bab Populer