Istri Gila Pak Dokter
Aroma itu, entah bagaimana, menenangkan dan membawa sedikit rasa aman dalam pikirannya yang porak poranda.
Tangan besar milik Eryas, kasar, penuh bekas luka, namun terasa hangat, mengusap lembut rambutnya. Gerakan itu perlahan memadamkan kobaran api yang selama ini menyala diam-diam dalam kenangan buruknya. Gerakan yang tidak menuntut, tidak memaksa. Hanya hadir untuk menenangkan.
Ia tidak berkata apa-apa. Tidak sanggup. Tapi pelukan itu berbicara lebih lantang dari kata-kata mana pun. Tubuhnya masih gemetar, namun ia tidak lagi sendirian.