Musim Semi yang Telat Itu Bukan Untukmu
Selama lima tahun menjalani pernikahan, Justin Giovano menghabiskan separuh waktunya menginap di apartemen di seberang sungai.
Katanya, kakak laki-lakinya meninggal muda, meninggalkan Sarah Lunandi seorang diri tanpa tempat bergantung. Sebagai adik, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga kedua keluarga.
Saat itu, dengan bodohnya aku benar-benar mempercayai semua ucapannya.
Demi memenuhi rasa tanggung jawabnya, aku rela menerima ketidakhadirannya di setiap hari raya, rela membagi makan malam Tahun Baru menjadi dua, bahkan rela menjadi bahan cibiran orang-orang yang diam-diam menyebutku perempuan yang berbagi suami.
Namun, setiap kali berbicara denganku, nada bicaranya selalu terdengar dingin dan penuh jarak.
Hingga pada hari itu, sebuah kecelakaan beruntun membuat mobil kami ringsek.
Sambil melindungi kandunganku, aku mati-matian menggedor jendela mobil. "Justin, tolong selamatkan anak kita ...."
Dia merangkak keluar dari kursi pengemudi. Tatapannya sempat menyapu bagian bawah tubuhku yang berlumuran darah, tetapi sesaat kemudian dia berbalik dan mendobrak pintu kursi belakang.
Justin memeluk Sarah erat-erat di dadanya, padahal dia hanya mengalami luka lecet di dahi,
"Jangan lihat. Nggak apa-apa. Aku di sini."
Dia terus mengulang kalimat itu untuk menenangkan Sarah.
Sementara itu, pintu mobil di sisiku sudah ringsek parah hingga benar-benar macet dan tak bisa dibuka.
Baru saat itulah aku sadar. Selama ini Justin bukan sedang menunaikan amanat atau membalas budi kepada mendiang kakaknya. Dia hanya tidak sanggup melihat Sarah menderita sedikit pun.