Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku
Aku berhenti meminta maaf karena selamat dengan cara yang tidak elegan.
Jari telunjukku menyusuri garis batas buku catatan. Tekstur kulit kasarnya terasa familier.
Kesimpulan perlahan terbentuk di dasar dadaku. Padat dan sangat jelas.
Membaca lembaran-lembaran yang berisi curahan ketakutan ini menyadarkanku pada satu hal absolut.
Belum selesai.
Proses penyembuhan kami sama sekali belum mendekati kata selesai. Trauma itu masih memiliki residu. Terkadang, jika Arjuna berbicara dengan nada tertentu, bahuku masih menegang secara otomatis.